Peristiwa

Warisan Keteladanan Hoegeng: Pesan Terakhir Meriyati kepada Kapolri Listyo Sigit

Kapolri Listyo Sigit mengungkap pesan dan nasihat terakhir Meriyati Hoegeng, istri legendaris Kapolri Hoegeng, yang menjadi kompas moral bagi institusi Polri.

Penulis:adit
6 Maret 2026
Warisan Keteladanan Hoegeng: Pesan Terakhir Meriyati kepada Kapolri Listyo Sigit

Dalam tradisi Jawa, terdapat konsep ‘tut wuri handayani’—mengikuti dari belakang sambil memberikan dorongan. Konsep ini mengingatkan kita bahwa warisan terbesar seorang tokoh seringkali bukan terletak pada jabatannya, melainkan pada nilai-nilai dan keteladanan yang ditinggalkannya untuk membimbing generasi penerus. Refleksi ini muncul kembali ke permukaan menyusul kepergian Meriyati Roeslani Hoegeng, sosok yang selama lebih dari satu abad hidupnya menjadi saksi sekaligus penjaga semangat integritas dalam tubuh Kepolisian Negara Republik Indonesia. Kunjungan duka Kapolri Jenderal Listyo Sigit ke kediaman almarhumah di Depok bukan sekadar ritual protokoler, melainkan sebuah penghormatan mendalam terhadap sebuah mata rantai sejarah dan moral yang terus bersambung.

Kedatangan Kapolri beserta jajaran pimpinan Polri ke Perumahan Pesona Khayang pada Selasa malam, 3 Februari 2026, mengisyaratkan sebuah hubungan yang melampaui hubungan formal institusi. Hubungan antara Listyo Sigit dan almarhumah yang kerap disapa Eyang Meri ini dibangun di atas fondasi komunikasi yang intens dan penuh makna. “Hubungan kami cukup dekat. Di momen-momen tertentu, beliau selalu menyampaikan pesan-pesan yang dalam,” ungkap Listyo Sigit, menggambarkan relasi yang lebih mirip seorang murid dengan seorang guru spiritual. Pesan-pesan itulah yang kemudian disebutnya sebagai ‘spirit’ dan ‘semangat’ untuk terus menjaga marwah institusi yang dipimpinnya.

Pesan Penjaga Integritas dari Seorang Ibu Bangsa

Meriyati Hoegeng bukan hanya istri dari mendiang Kapolri Hoegeng Iman Santoso, seorang tokoh yang diingat karena kejujuran dan kesederhanaannya. Ia sendiri telah menjelma menjadi simbol dan penjaga ingatan kolektif akan nilai-nilai luhur kepolisian. Dalam setiap pertemuannya dengan Kapolri Listyo Sigit, Eyang Meri kerap menyelipkan cerita dan keteladanan sang suami. Namun, pesannya tidak pernah berhenti pada nostalgia. Ia selalu mengaitkannya dengan konteks kekinian, menitipkan amanat agar Polri tetap menjadi institusi yang bersih, profesional, dan dekat dengan rakyat. “Kami akan menjaga apa yang menjadi wasiat beliau, untuk terus menjaga integritas dan institusi Polri,” tegas Listyo, menegaskan komitmennya melanjutkan amanat tersebut.

Momen Perpisahan dan Amanat Terakhir

Salah satu momen yang paling membekas dalam ingatan Kapolri adalah pertemuan terakhir mereka. Saat itu, dengan kesadaran penuh, Meriyati Hoegeng menitipkan pesan yang sangat sederhana namun sarat makna: “Jaga dan titip Polri.” Kalimat singkat itu, bagi Listyo Sigit, merupakan mandat yang sangat berat dan mulia. Ia memandangnya bukan sebagai pesan personal, melainkan sebagai pesan untuk seluruh keluarga besar Bhayangkara. Pesan ini juga disampaikan secara tertulis oleh Eyang Meri pada perayaan ulang tahunnya yang ke-100 dan pada momen-momen penting seperti ulang tahun Kapolri maupun HUT Polri. Setiap pesan itu, menurut Listyo, “menjadi pesan yang sangat berarti,” sebuah kompas etis di tengah kompleksitas tantangan penegakan hukum modern.

Prosesi Akhir dan Pemenuhan Wasiat Keluarga

Jenazah Meriyati Hoegeng tiba di rumah duka pada Selasa siang, disemayamkan dengan didampingi putranya, Aditya S. Hoegeng. Almarhumah menghembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Polri Kramat Jati setelah menjalani perawatan intensif dalam dua fase. Fase pertama pada Oktober 2025 selama seminggu, dan fase kedua sejak 26 Januari 2026 hingga wafatnya. Menurut penuturan keluarga, kondisi kesehatan Eyang Meri yang telah berusia 100 tahun memang terus menurun. Sesuai wasiat almarhumah dan mendiang suaminya, jenazah akan dimakamkan di TPBU Giri Tama Tonjong, Bogor, berdekatan dengan makam Hoegeng Iman Santoso. Keputusan ini sendiri mengandung nilai keteladanan. Hoegeng dahulu menolak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan dengan pertimbangan yang sangat manusiawi dan setia: agar kelak istri tercintanya dapat dimakamkan di sampingnya, sebuah hak yang tidak dimungkinkan di makam pahlawan yang ketat aturannya.

Refleksi: Keteladanan yang Melampaui Zaman

Dari rangkaian peristiwa ini, kita dapat menarik sebuah analisis yang lebih dalam. Kepergian Meriyati Hoegeng bukan sekadar hilangnya seorang sesepuh, melainkan penutup sebuah babak penting dalam sejarah kepolisian Indonesia. Ia adalah living memory dari sebuah era di mana integritas dijadikan harga mati. Dalam perspektif sosiologis, figur seperti Eyang Meri berperan sebagai ‘penjaga api’ nilai-nilai organisasi, terutama dalam institusi sebesar dan serumit Polri. Pesan-pesannya kepada Kapolri Listyo Sigit merepresentasikan mekanisme informal transfer nilai antar generasi, sebuah proses yang sering kali lebih efektif daripada pelatihan formal. Ketika seorang pemimpin tertinggi Polri dengan rendah hati mendengarkan dan berkomitmen pada pesan seorang ibu sepuh, ia sebenarnya sedang memperkuat legitimasi moral kepemimpinannya di mata organisasi dan publik.

Pada akhirnya, kisah hubungan antara Kapolri Listyo Sigit dan Meriyati Hoegeng mengajarkan kita tentang arti kepemimpinan yang mendengar. Kepemimpinan yang tidak hanya berorientasi pada angka statistik dan pencapaian teknis, tetapi juga pada penjagaan ruh dan karakter institusi. Warisan Eyang Meri yang paling berharga mungkin adalah pengingat bahwa di balik seragam dan institusi yang besar, ada nilai-nilai kemanusiaan, kesetiaan, dan kejujuran yang harus tetap menjadi fondasi. Seiring dimakamkannya almarhumah di Tonjong, dekat sang suami, sebuah lingkaran kehidupan telah tertutup. Namun, lingkaran pengaruh dan keteladanan yang ditinggalkannya—melalui pesan-pesan yang kini dipegang oleh Kapolri—baru akan terus bergulir, menguji apakah komitmen untuk ‘menjaga dan menitip Polri’ dapat diwujudkan dalam setiap tindakan nyata Bhayangkara di masa depan. Inilah tantangan sebenarnya yang diwariskan oleh seorang ibu bangsa kepada anak-anaknya di institusi Polri.

Dipublikasikan: 6 Maret 2026, 09:45
Warisan Keteladanan Hoegeng: Pesan Terakhir Meriyati kepada Kapolri Listyo Sigit