Tragedi Manado: Saat Rumah Terakhir Para Lansia Berubah Jadi Perangkap Maut
Kebakaran Panti Werdha Damai bukan sekadar angka statistik. Ini adalah cermin kegagalan sistem perlindungan bagi kelompok paling rentan di masyarakat kita.
Lebih dari Sekedar Asap dan Jerit: Sebuah Refleksi Kemanusiaan yang Terbakar
Bayangkan ini: Anda sudah melewati usia 70 tahun. Mobilitas terbatas, mungkin bergantung pada kursi roda atau bantuan orang lain untuk bergerak. Di malam hari, saat Anda terlelap, bau asap tiba-tiba memenuhi ruangan. Alarm kebakaran tidak berbunyi. Pintu darurat terkunci atau sulit dibuka. Panik melanda, tetapi kaki tak bisa lari secepat dulu. Ini bukan adegan film horor. Ini adalah kenyataan pahit yang dialami 16 nenek dan kakek di Panti Werdha Damai, Manado, pada Minggu malam yang kelam, 28 Desember 2025. Peristiwa ini bukan lagi sekadar berita kebakaran biasa. Ini adalah sirene peringatan yang memekakkan telinga tentang bagaimana kita, sebagai masyarakat, memperlakukan mereka yang sudah berada di penghujung perjalanan hidupnya.
Kebakaran itu terjadi sekitar pukul 20.00 WITA di kawasan Ranomuut. Api dengan cepat melahap bangunan panti yang, seperti banyak fasilitas serupa di Indonesia, diduga dibangun dengan material yang tidak tahan api. Dalam hitungan menit, tempat yang seharusnya menjadi rumah terakhir yang aman dan nyaman berubah menjadi perangkap maut. Enam belas nyawa melayang. Bukan karena usia tua atau sakit, tetapi karena sebuah bencana yang seharusnya bisa dicegah.
Narasi Tragedi: Evakuasi yang Mustahil dan Material yang Mengkhianati
Menurut keterangan Sekretaris Daerah Kota Manado, Steaven Dandel, seluruh korban telah dievakuasi. "Kantong jenazah yang bisa kami evakuasi ada 16," ujarnya dengan berat hati. Kata-kata "kantong jenazah" saja sudah cukup membuat kita merinding. Ini bukan evakuasi orang hidup yang ketakutan, tetapi pengambilan jenazah dari puing-puing. Seluruh jenazah kemudian dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Manado untuk identifikasi, sebuah proses yang pastinya menyakitkan bagi keluarga yang kehilangan.
Fakta yang paling menyayat hati adalah profil penghuni panti tersebut. Mereka adalah para lansia, dengan segala keterbatasan fisiknya. Banyak yang mungkin tidak bisa mendengar dengan jelas, bergerak dengan lincah, atau bahkan memahami instruksi dengan cepat dalam situasi panik. Dalam kondisi normal saja, evakuasi massal membutuhkan koordinasi yang prima. Bayangkan melakukannya di tengah kobaran api, asap tebal, dan dengan penghuni yang sebagian besar tidak mampu menyelamatkan diri sendiri. Itu bukan lagi sekadar tantangan logistik; itu adalah skenario mimpi buruk.
Di Balik Bencana: Data dan Realita Fasilitas Lansia di Indonesia
Di sinilah kita perlu melihat lebih dalam. Tragedi Manado ini, sayangnya, bukan yang pertama. Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan bahwa kerentanan bangunan fasilitas sosial terhadap kebakaran masih menjadi masalah serius. Sebuah studi yang dilakukan oleh lembaga pemerhati lansia pada 2023 menemukan fakta mencengangkan: hanya sekitar 30% panti jompo di Indonesia yang memiliki sertifikat laik fungsi kebakaran dari pemadam kebakaran setempat. Sebagian besar beroperasi dengan standar keselamatan yang minimal, dari alat pemadam api ringan (APAR) yang kadaluarsa, hingga tidak adanya pelatihan evakuasi rutin bagi penghuni dan pengurus.
Opini saya di sini cukup keras: kita terlalu sering memandang panti werdha sebagai "tempat pembuangan" akhir bagi orang tua, alih-alih sebagai fasilitas pelayanan yang membutuhkan standar keamanan setara dengan rumah sakit atau sekolah. Dana terbatas, pengawasan longgar, dan mentalitas "yang penting ada tempat tinggal" telah menciptakan bom waktu di banyak lokasi. Panti Werdha Damai mungkin hanya puncak gunung es. Berapa banyak lagi "panti damai" lain yang sebenarnya menyimpan ancaman serupa?
Tanggapan Pemerintah dan Janji yang Harus Ditagih
Pemerintah Kota Manado tentu telah menyampaikan duka cita dan berkomitmen untuk mendampingi keluarga korban. Mereka juga berjanji akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem keselamatan di semua panti sosial. Komitmen ini bagus di atas kertas, tetapi sejarah sering membuktikan bahwa janji pasca-bencana mudah menguap seiring waktu. Penyebab kebakaran masih diselidiki polisi, apakah akibat korsleting listrik, kelalaian, atau faktor lain. Apapun hasilnya, akar masalahnya lebih dalam dari sekadar penyebab teknis.
Evaluasi tidak boleh berhenti pada satu panti. Ini harus menjadi momentum nasional untuk audit keselamatan menyeluruh terhadap semua fasilitas yang menampung kelompok rentan: panti jompo, panti asuhan, dan panti disabilitas. Regulasi harus diperketat. Izin operasi harus dikaitkan dengan kepatuhan terhadap standar keselamatan kebakaran yang ketat, termasuk pelatihan rutin, simulasi, dan infrastruktur yang memadai seperti alarm, sistem sprinkler, dan jalur evakuasi yang aksesibel untuk lansia dan disabilitas.
Penutup: Mereka Adalah Masa Lalu Kita, Jangan Biarkan Masa Depan Mereka Berakhir dalam Kobaran Api
Enam belas nyawa itu bukan angka. Mereka adalah ibu yang pernah menyuapi kita, ayah yang pernah mengajari kita bersepeda, nenek yang mendongeng sebelum tidur, kakek yang punya segudang cerita sejarah. Mereka adalah bagian dari memori kolektif kita. Ketika kita membiarkan mereka tinggal di tempat yang tidak aman, sebenarnya kita sedang mengkhianati masa kecil kita sendiri dan merusak siklus penghormatan terhadap kehidupan.
Tragedi ini meninggalkan pertanyaan yang dalam untuk kita semua: Seberapa besar nilai sebuah nyawa lansia di mata kita? Apakah kita hanya akan berduka ketika bencana terjadi, lalu melanjutkan hidup seperti biasa? Atau kita akan menggunakan kesedihan ini sebagai bahan bakar untuk perubahan? Mari kita mulai dari hal kecil. Jika Anda memiliki orang tua atau kerabat lansia di panti, kunjungilah. Periksa kondisi tempat tinggalnya. Tanyakan apakah ada prosedur darurat kebakaran. Suarakan kepedulian Anda. Tekan pihak pengelola dan pemerintah daerah untuk transparansi dalam standar keselamatan.
Pada akhirnya, cara sebuah masyarakat memperlakukan anggota tertua dan paling rentannya adalah cermin sejati dari peradaban itu sendiri. Manado telah menangis. Jangan biarkan air mata ini menguap sia-sia. Mari pastikan bahwa rumah terakhir para pejuang hidup ini benar-benar menjadi tempat yang damai, aman, dan penuh martabat. Bukan kuburan yang disiapkan oleh kelalaian kita bersama.