Tes Urine Serentak di Polres Tangsel: Bukan Sekadar Formalitas, Tapi Sinyal Kuat Reformasi Internal
Kapolres Tangsel pimpin tes urine massal. Langkah ini bukan cuma soal hasil negatif, tapi pesan tegas tentang integritas dan kepercayaan publik yang harus dibangun ulang.
Bayangkan Anda sedang menonton sebuah tim olahraga profesional. Bagaimana perasaan Anda jika tahu beberapa pemainnya mungkin bermain dalam kondisi tidak fit, atau bahkan melanggar aturan dasar permainan? Kepercayaan Anda terhadap tim itu pasti akan goyah. Nah, institusi kepolisian di mata masyarakat tak ubahnya seperti tim tersebut. Mereka diharapkan tampil prima, bersih, dan profesional setiap saat. Itulah mengapa langkah yang diambil Kapolres Tangerang Selatan, AKBP Boy Jumalolo, baru-baru ini menarik untuk disimak lebih dalam. Dia tak hanya memerintahkan tes urine untuk bawahannya, tapi memulai dari dirinya sendiri, di depan semua anggotanya. Ini bukan sekadar mematuhi perintah atasan, melainkan sebuah statement publik yang kuat.
Di Mapolres Tangsel, suasana hari itu berbeda. Bukan rapat rutin atau apel biasa, melainkan sebuah pemeriksaan yang bersifat personal namun berdampak kolektif. Boy Jumalolo, dengan tegas menyatakan bahwa tidak ada ruang bagi narkoba di tubuh Polri, terutama di wilayah tanggung jawabnya. "Jangan pernah coba-coba," ucapnya, sebuah peringatan yang terdengar klise, namun punya bobot berbeda ketika diucapkan oleh pemimpin yang juga ikut diperiksa. Hasilnya? Seluruh personel, termasuk sang Kapolres, dinyatakan negatif. Tapi, di balik hasil negatif itu, ada cerita yang lebih besar tentang upaya membangun kembali tembok kepercayaan yang mungkin mulai retak.
Dari Perintah Kapolri ke Aksi Nyata di Lapangan
Langkah di Tangsel ini berawal dari instruksi langsung Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Pasca terungkapnya beberapa oknum anggota yang terlibat kasus narkoba, tes urine serentak digulirkan sebagai bentuk shock therapy internal. Karo Penmas Div Humas Polri, Brigjen Trunoyudo Wisnu Andiko, menegaskan ini adalah bagian dari komitmen menjaga integritas. Yang menarik, pemeriksaan ini dirancang dengan sistem pengawasan berlapis, melibatkan pengawas internal dan eksternal, dari level Mabes hingga Polres terkecil. Artinya, ini bukan aksi yang bisa dianggap remeh atau sekadar pencitraan. Ada mekanisme yang dibuat untuk meminimalisir celah manipulasi.
Dalam perspektif yang lebih luas, kebijakan ini sejalan dengan visi pemerintahan saat ini yang menempatkan pemberantasan narkoba sebagai prioritas. Namun, yang sering luput dari perbincangan adalah aspek psikologis dan sosiologisnya. Tes urine massal di internal institusi sebesar Polri memiliki efek ganda. Pertama, sebagai alat deteksi dini dan pencegahan. Kedua, dan mungkin lebih penting, sebagai alat pembentuk budaya organisasi (culture shaping). Ia mengirim pesan bahwa standar integritas itu non-negotiable, berlaku untuk semua pangkat, dari yang tertinggi hingga terendah.
Opini: Antara Kebutuhan Transparansi dan Tantangan Implementasi
Di sini, izinkan saya menyelipkan sebuah opini. Langkah tes urine serentak ini patut diapresiasi sebagai sebuah gebrakan yang diperlukan. Namun, kehati-hatian tetap dibutuhkan. Pemeriksaan seperti ini harus benar-benar terjaga objektivitasnya dan menjadi bagian dari sistem pengawasan yang berkelanjutan, bukan program musiman. Sejarah menunjukkan, program serupa di berbagai institusi di dunia kadang hanya efektif di awal jika tidak diiringi dengan reformasi sistemik lainnya, seperti pembenahan sistem rekrutmen, peningkatan kesejahteraan, dan penguatan pengawasan etika sehari-hari.
Data dari Badan Narkotika Nasional (BNN) beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa penyalahgunaan narkoba memang mengancam berbagai lapisan profesi, tak terkecuali aparat penegak hukum. Ini memperkuat argumen bahwa tindakan pre-emptive seperti tes urine acak dan berkala sebenarnya sudah semestinya menjadi standar operasional, terutama untuk profesi yang memegang mandat kepercayaan publik dan kewenangan khusus. Keberhasilan Polri kedepannya tidak hanya diukur dari hasil tes yang negatif hari ini, tetapi dari konsistensi penerapan aturan dan transparansi tindak lanjut jika suatu saat ditemukan pelanggaran.
Implikasi Jangka Panjang: Lebih Dari Sekadar Anggota Bersih
Jadi, apa implikasi sebenarnya dari aksi di Tangsel dan daerah lain ini? Pertama, ini adalah investasi untuk modal sosial yang paling berharga bagi Polri: kepercayaan masyarakat. Ketika publik melihat aparatnya dengan sukarela dan terbuka diperiksa, sedikit demi sedikit prasangka negatif bisa terkikis. Kedua, ini menciptakan efek jera dan pencegahan dari dalam. Rekan sejawat akan saling mengingatkan, karena pelanggaran satu orang bisa berdampak pada citra kesatuan.
Yang tak kalah penting, langkah ini seharusnya menjadi preseden baik untuk institusi lain. Bayangkan jika tes integritas semacam ini juga diterapkan secara konsisten dan transparan di institusi publik lainnya. Dampaknya terhadap pemberantasan korupsi dan penyalahgunaan wewenang bisa sangat signifikan. AKBP Boy Jumalolo, dalam pesannya, juga menekankan pentingnya pelayanan prima dan profesional. Pesan itu akan lebih mudah diwujudkan oleh anggota yang bersih secara fisik dan mental, bebas dari ketergantungan zat terlarang.
Penutup: Sebuah Langkah Awal dalam Perjalanan Panjang
Pada akhirnya, apa yang terjadi di Polres Tangsel dan seluruh Indonesia hari ini adalah sebuah babak penting, namun bukan akhir cerita. Hasil negatif tes urine adalah sebuah baseline, sebuah titik awal yang baik. Tantangan sesungguhnya adalah menjaga konsistensi nilai-nilai integritas itu dalam keseharian, dalam setiap interaksi dengan masyarakat, dalam setiap penanganan kasus, jauh dari sorotan kamera dan perintah inspeksi mendadak.
Sebagai masyarakat, kita punya peran untuk mendukung langkah positif ini dengan memberikan apresiasi yang proporsional, namun tetap kritis. Kepercayaan bukanlah sesuatu yang diberikan sekali untuk selamanya, melainkan sesuatu yang harus terus dirawat dan dibuktikan. Aksi Kapolres Tangsel dan seluruh jajaran Polri ini adalah sebuah janji. Dan seperti semua janji, nilainya akan terlihat bukan dari pengucapannya, tetapi dari konsistensi pemenuhannya di hari-hari mendatang. Mari kita bersama-sama berharap bahwa ini benar-benar menjadi turning point menuju kepolisian yang lebih bersih, lebih profesional, dan lebih dekat di hati masyarakat yang dilayaninya.