Politik

Rp 5,7 Juta di Jakarta: Cukupkah untuk Hidup Layak? Suara Buruh Menggema di Depan Istana

Aksi buruh tolak UMP DKI 2026 bukan sekadar demo. Ini adalah cermin kegelisahan akan jurang upah dan biaya hidup di ibu kota.

Penulis:khoirunnisakia
7 Januari 2026
Rp 5,7 Juta di Jakarta: Cukupkah untuk Hidup Layak? Suara Buruh Menggema di Depan Istana

Bayangkan Anda harus membagi Rp 5,7 juta untuk sebulan hidup di Jakarta. Setelah dipotong biaya sepetak kamar kos di pinggiran kota, ongkos transportasi yang menyita waktu berjam-jam, dan biaya makan sehari-hari, berapa sisanya untuk menabung, berobat, atau sekadar memberikan yang terbaik untuk anak? Inilah pertanyaan nyata yang hari ini menggema di sepanjang jalan menuju Istana Merdeka, diwujudkan dalam langkah ribuan buruh yang menuntut keadilan upah.

Suasana di Jakarta Pusat pagi ini berbeda. Bukan hanya karena kemacetan biasa, tetapi karena gelombang manusia dengan seragam khas serikat pekerja memenuhi ruang publik, menyuarakan satu hal: penolakan terhadap Upah Minimum Provinsi (UMP) DKI Jakarta tahun 2026 yang baru ditetapkan sebesar Rp 5,7 juta. Bagi banyak pengamat, angka ini mungkin terlihat sebagai kenaikan. Namun, bagi para pekerja yang menghitung setiap rupiah untuk bertahan di kota dengan biaya hidup tertinggi di Indonesia, angka itu dinilai seperti ‘menggarami laut’—nyaris tak terasa dampaknya.

Lebih dari Sekadar Angka: Aspirasi yang Menumpuk di Trotoar

Aksi yang dipelopori Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) bersama Partai Buruh ini direncanakan berlangsung selama dua hari, 29 dan 30 Desember 2025. Pemilihan lokasi di sekitar Istana Merdeka bukan tanpa alasan. Ini adalah simbolisasi kuat bahwa aspirasi ini ditujukan langsung ke jantung pemerintahan. Presiden KSPI, Said Iqbal, dalam orasinya menegaskan, ini adalah perjuangan mendasar untuk hidup yang bermartabat.

Tuntutan mereka jelas: peninjauan ulang UMP DKI 2026 dan penetapan upah sektoral yang lebih adil. Yang menarik, tuntutan ini muncul bukan dalam vakum ekonomi. Kita sedang berada dalam periode pasca-kenaikan harga BBM dan tarif listrik, di mana gelombang inflasi masih terasa. Upah minimum, dalam perspektif buruh, bukan sekadar angka statistik, tetapi garis pertahanan terakhir untuk menjaga daya beli dari tergerus sepenuhnya.

Membongkar Kalkulasi: Bisakah Rp 5,7 Juta Bertahan di Jakarta?

Mari kita lakukan simulasi sederhana yang sering diabaikan dalam perdebatan kebijakan. Seorang pekerja single dengan UMP Rp 5,7 juta (bruto). Setelah dipotong BPJS Ketenagakerjaan dan pensiun, pendapatan bersihnya mungkin sekitar Rp 5,3 juta. Biaya hidup pokok di Jakarta bisa dengan mudah menyedotnya: sewa kos/kontrakan sederhana (Rp 1,5 - 2 juta), transportasi (Rp 600.000 - 1 juta untuk Commuter Line/bensin dan tol), makan (Rp 15.000 x 2 x 30 hari = Rp 900.000), belum termasuk pulsa, listrik, air, dan kebutuhan darurat lainnya. Sisanya? Sangat tipis untuk investasi dalam pendidikan, kesehatan, atau sekadar rekreasi ringan.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa garis kemiskinan di Jakarta pada Maret 2025 sudah menembus angka sekitar Rp 700.000 per kapita per bulan. Untuk keluarga dengan dua anak, angka kebutuhan hidup layak (KHL) yang dihitung serikat pekerja seringkali melampaui Rp 8-9 juta. Di sinilah letak paradoksnya: UMP yang ditetapkan seringkali masih berjarak cukup jauh dari KHL riil yang dihitung berdasarkan survei pasar, bukan hanya formula administratif.

Opini: Demo Ini Bukan Tentang Kekerasan, Tapi Tentang Komunikasi yang Tersumbat

Di tengah sorotan media yang seringkali hanya menampilkan kerumunan massa atau potongan konflik, ada narasi penting yang terlewat. Aksi seperti ini sebenarnya adalah indikator kesehatan demokrasi ekonomi dan kegagalan komunikasi. Demonstrasi buruh berskala besar biasanya adalah pilihan terakhir, ketika mekanisme dialog tripartit (buruh, pengusaha, pemerintah) dianggap tidak lagi efektif menyuarakan kepentingan mereka.

Pengalaman dari negara-negara dengan hubungan industrial yang matang menunjukkan bahwa pencegahan demonstrasi masif justru terletak pada intensitas dan kualitas dialog sebelum keputusan diambil. Apakah proses penetapan UMP 2026 sudah benar-benar mengakomodasi suara dari lapangan? Ataukah masih didominasi oleh perhitungan makroekonomi dan tekanan dari asosiasi pengusaha? Inilah pertanyaan kritis yang harus dijawab, bukan hanya oleh pemerintah DKI, tetapi oleh semua pemangku kepentingan.

Dampak Jangka Panjang: Ketika Generasi Muda Enggan Jadi Buruh

Implikasi dari sengketa upah ini lebih dalam dari yang kita kira. Ada data unik dan sering diabaikan dari survei tenaga kerja: semakin banyak generasi muda yang lebih memilih menjadi pekerja gig (ojol, freelancer) atau berwirausaha mikro dengan pendapatan tidak menentu, daripada masuk ke pabrik sebagai buruh tetap. Mengapa? Salah satu alasannya adalah persepsi bahwa upah buruh di sektor formal, meski lebih aman secara administratif, tidak lagi kompetitif dibandingkan potensi penghasilan (walau berisiko) di sektor informal.

Jika upah minimum tidak mampu menawarkan kehidupan yang layak dan prospek yang jelas, kita bisa menghadapi krisis di hilir: kekurangan tenaga kerja terampil di sektor manufaktur dan industri padat karya. Perusahaan pun akan kesulitan karena turnover tinggi dan rendahnya loyalitas. Ini adalah lingkaran setan yang merugikan semua pihak.

Mencari Jalan Tengah: Antara Kelayakan Hidup dan Daya Saing Usaha

Tentu, argumen dari sisi pengusaha juga valid. Kenaikan upah yang drastis dapat membebani UMKM dan berpotensi memicu pemutusan hubungan kerja (PHK) atau penghambatan rekrutmen. Namun, solusinya bukan dengan mempertahankan upah rendah, melainkan dengan mendorong produktivitas. Pemerintah bisa berperan lebih besar dengan insentif pelatihan vokasi, subsidi untuk perusahaan yang mengadopsi teknologi ramah produktivitas, dan reformasi birokrasi yang memangkas biaya tinggi lainnya bagi usaha.

Negosiasi upah sektoral, seperti yang dituntut buruh, sebenarnya adalah solusi yang lebih cerdas daripada satu angka untuk semua. Upah pekerja tekstil tentu berbeda dengan pekerja logam atau retail. Penetapan berdasarkan sektor memungkinkan perhitungan yang lebih adil, mempertimbangkan kemampuan masing-masing industri.

Ketika ribuan buruh berdiri di depan Istana, mereka sedang mengetuk kesadaran kolektif kita. Ini bukan hanya tentang mereka, tetapi tentang model pembangunan seperti apa yang kita inginkan. Apakah kita ingin Jakarta menjadi kota dengan pertumbuhan ekonomi yang hanya dinikmati segelintir orang, atau kota yang memberikan kesempatan hidup layak bagi semua yang berkontribusi membangunnya, termasuk para buruh?

Suara yang menggema hari ini mungkin akan reda besok. Namun, pertanyaan yang mereka bawa akan terus relevan: sampai kapan kita mentolerir jurang antara upah dan kebutuhan hidup? Dialog yang jujur, transparan, dan berpihak pada keadilan sosial adalah satu-satunya jalan keluar. Bukan hanya untuk meredakan demo hari ini, tetapi untuk membangun fondasi perekonomian ibu kota yang lebih kokoh dan berkeadilan untuk tahun-tahun mendatang. Bagaimana pendapat Anda? Sudahkah upah di sekitar Anda benar-benar ‘hidup’ atau sekadar ‘bertahan’?

Dipublikasikan: 7 Januari 2026, 16:54
Diperbarui: 7 Januari 2026, 16:54
Rp 5,7 Juta di Jakarta: Cukupkah untuk Hidup Layak? Suara Buruh Menggema di Depan Istana | Kabarify