Keamanan

Rasa Aman yang Sejati: Bukan Tentang CCTV, Tapi Tentang Kepercayaan di Hati

Mengapa kita sering merasa tidak aman meski dikelilingi teknologi? Artikel ini mengupas keamanan sebagai perasaan yang dibangun dari interaksi sosial dan kepercayaan.

Penulis:Sanders Mictheel Ruung
12 Januari 2026
Rasa Aman yang Sejati: Bukan Tentang CCTV, Tapi Tentang Kepercayaan di Hati

Pernah Merasa Tidak Aman di Tempat yang Sebenarnya Aman?

Bayangkan ini: Anda berjalan di sebuah kompleks perumahan mewah yang dipenuhi CCTV, pagar tinggi, dan satpam di setiap sudut. Secara teknis, tempat itu sangat aman. Tapi, jika tidak ada seorang pun yang menyapa, tetangga saling menghindari kontak mata, dan suasana terasa dingin, apakah Anda benar-benar merasa aman? Kontrasnya, di gang sempit kampung tempat Anda besar, mungkin tidak ada satpam sama sekali, tapi karena Anda kenal semua orang dan merasa menjadi bagian dari komunitas, rasa aman itu justru hadir dengan begitu natural. Inilah paradoks keamanan modern: kita sering mengukur keamanan dengan jumlah kunci dan kamera, padahal ukuran sesungguhnya ada di dalam hati dan pikiran kita.

Keamanan, dalam esensinya yang paling mendasar, adalah sebuah perasaan. Bukan sekadar kondisi objektif bebas dari ancaman. Artikel ini akan membawa kita menyelami bagaimana rasa aman itu dibangun—bukan dari beton dan besi—tetapi dari jaringan kepercayaan, komunikasi, dan hubungan manusiawi yang sering kita abaikan di era yang serba terkoneksi namun terasa terpisah ini.


Psikologi di Balik Rasa Aman: Lebih dari Sekadar Bebas Ancaman

Menurut psikolog humanistik seperti Abraham Maslow, rasa aman berada di tingkat kedua dalam hierarki kebutuhan dasar manusia, tepat di atas kebutuhan fisiologis seperti makan dan tidur. Ini bukan kebetulan. Otak kita secara evolusioner terprogram untuk terus-menerus memindai lingkungan terhadap potensi bahaya. Namun, yang menarik, pemindaian ini sangat dipengaruhi oleh faktor psikologis internal, bukan hanya ancaman eksternal yang nyata.

Rasa aman psikologis terbentuk dari beberapa pilar:

  • Kepastian dan Prediktabilitas: Otak kita menyukai pola. Ketika kita bisa memprediksi apa yang akan terjadi—bahkan jika itu hal yang tidak menyenangkan—kita merasa lebih terkendali dan aman dibandingkan ketika dihadapkan pada ketidakpastian total.

  • Rasa Memiliki dan Keterhubungan: Perasaan menjadi bagian dari suatu kelompok atau komunitas memberikan ‘keamanan sosial’. Kita tahu ada orang yang akan memperhatikan kita jika terjadi sesuatu.

  • Otonomi dan Kendali: Merasa memiliki kendali atas lingkungan dan keputusan diri sendiri adalah sumber rasa aman yang kuat. Ketika kendali itu diambil, kecemasan muncul.

Di sinilah letak masalahnya: masyarakat modern seringkali mengikis pilar-pilar ini. Hidup kita penuh ketidakpastian, individualisme terkadang mengalahkan rasa kebersamaan, dan kita merasa kendali kita terhadap informasi serta kehidupan sosial semakin kecil.


Kesenjangan Persepsi: Ketika Realitas dan Perasaan Tidak Bertemu

Data kriminalitas di suatu kota mungkin turun, tapi jika media lokal terus-menerus memberitakan kejahatan dengan sensasional, apa yang akan dirasakan masyarakat? Persepsi mereka tentang keamanan akan jauh lebih buruk daripada realitas statistiknya. Ini bukan sekadar anekdot. Sebuah studi yang dilakukan di beberapa kota besar menunjukkan bahwa paparan berita kriminal di media dapat meningkatkan persepsi risiko pribadi menjadi 2-3 kali lebih tinggi daripada risiko aktual.

Faktor-faktor yang membentuk persepsi ini kompleks:

  • Bias Negativitas: Otak kita memberi bobot lebih besar pada informasi negatif. Satu pengalaman buruk atau cerita horor dari teman bisa menghapus seratus pengalaman netral atau positif.

  • Pengalaman Personal vs. Data Umum: Kita lebih percaya pada pengalaman diri sendiri atau orang terdekat daripada data statistik yang abstrak.

  • Kualitas Interaksi dengan Otoritas: Sekali kita diperlakukan dengan tidak hormat atau tidak adil oleh polisi atau aparat, kepercayaan terhadap seluruh sistem penegak hukum bisa runtuh, dan rasa aman pun ikut terkikis.

Opini Unik: Di sini saya ingin berbagi sebuah pandangan: terkadang, upaya kita menciptakan keamanan justru merusak rasa aman. Perumahan dengan pagar tertutup rapat dan gerbang otomatis mungkin mencegah pencuri, tetapi juga memutus ‘kehadiran sosial’—mata dari tetangga, obrolan dari pedagang keliling, yang sebenarnya adalah sistem keamanan alamiah paling efektif. Kita mengganti ‘mata masyarakat’ dengan ‘lensa kamera’, dan kehilangan sesuatu yang sangat manusiawi dalam prosesnya.


Kepercayaan: Mata Uang Sosial yang Membeli Rasa Aman

Jika rasa aman adalah sebuah bangunan, maka kepercayaan adalah fondasinya. Tanpanya, segalanya akan retak. Kepercayaan ini multidimensi:

  • Kepercayaan Antarpersonal: Percaya bahwa orang di sekitar kita tidak akan menyakiti kita dan akan membantu jika kita dalam kesulitan.

  • Kepercayaan Institusional: Keyakinan bahwa polisi, pemerintah, dan sistem hukum akan bertindak adil dan melindungi.

  • Kepercayaan Sistemik: Percaya bahwa lingkungan fisik (jalan, lampu, transportasi) dirancang untuk keselamatan kita.

Sayangnya, di era informasi yang terfragmentasi dan penuh misinformasi, kepercayaan ini semakin sulit dibangun dan sangat mudah dihancurkan. Sebuah kebohongan kecil dari pihak berwenang atau sebuah video yang menunjukkan ketidakadilan bisa merusak kepercayaan yang dibangun puluhan tahun.


Membangun Kembali Rasa Aman di Era yang Terfragmentasi

Lalu, bagaimana kita membangun rasa aman yang sejati, terutama di tengah polarisasi sosial dan banjir informasi yang kita alami sekarang? Strateginya harus holistik, menyentuh aspek psikologis dan sosial sekaligus.

1. Memulihkan Komunikasi yang Manusiawi. Alih-alih sekadar mengumumkan peraturan melalui pengeras suara atau media sosial, otoritas dan komunitas perlu membuka ruang dialog. Komunikasi yang empatik, transparan, dan konsisten adalah penangkal rasa takut.

2. Merancang Ruang Publik yang Mempertemukan, Bukan Memisahkan. Taman, trotoar yang lebar, lapangan komunitas—ruang-ruang ini mendorong interaksi spontan dan non-transaksional yang membangun keakraban dan, pada akhirnya, kepercayaan.

3. Literasi Informasi dan Emosional. Masyarakat perlu dibekali kemampuan untuk menyaring informasi, memahami bias media, dan mengelola kecemasan yang ditimbulkan oleh arus berita. Di sisi lain, kita juga perlu melatih empati untuk memahami bahwa rasa aman bisa berbeda bagi orang dengan identitas, gender, atau latar belakang ekonomi yang berbeda.

4. Memperkuat Jaring Pengaman Sosial di Tingkat Komunitas Terkecil. Program siskamling (sistem keamanan lingkungan) yang revitalisasi bukan hanya tentang ronda malam, tapi tentang saling mengenal, kelompok ibu-ibu arisan yang juga saling mendukung, atau komunitas warga di media sosial yang konkret membantu tetangga yang kesusahan.


Penutup: Keamanan adalah Sebuah Karya Bersama

Pada akhirnya, membangun rasa aman bukanlah tugas polisi atau pemerintah semata. Ini adalah proyek kolektif kita semua. Setiap senyuman dan sapa kepada tetangga, setiap tindakan jujur yang memperkuat kepercayaan, setiap kali kita memilih untuk tidak menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya, dan setiap upaya untuk terlibat dalam kehidupan komunitas—semua itu adalah batu bata yang menyusun tembok rasa aman kita bersama.

Mari kita renungkan: Apakah lingkungan tempat kita tinggal hari ini membuat kita merasa dilindungi, atau justru diawasi? Apakah kita mengenal nama tetangga sebelah rumah? Ketika kita memikirkan keamanan, apakah yang terbayang adalah gembok yang lebih kuat, atau hubungan yang lebih hangat?

Rasa aman yang sejati dan berkelanjutan lahir ketika kita tidak lagi melihat orang lain sebagai potensi ancaman, tetapi sebagai potensi penolong. Itulah fondasi masyarakat yang stabil dan harmonis—bukan yang paling banyak kameranya, tetapi yang paling kuat ikatan sosialnya. Mari mulai membangunnya dari hal-hal kecil di sekitar kita.

Dipublikasikan: 12 Januari 2026, 09:16
Diperbarui: 12 Januari 2026, 09:16
Rasa Aman yang Sejati: Bukan Tentang CCTV, Tapi Tentang Kepercayaan di Hati | Kabarify