Internasional

Politik Dinasti Kim: Analisis Dampak Pemilihan Ulang Kim Jong Un Terhadap Stabilitas Regional

Menyelami implikasi geopolitik dari pemilihan kembali Kim Jong Un sebagai pemimpin Partai Buruh Korea Utara dan dampaknya terhadap keamanan kawasan Asia Timur.

Penulis:Ahmad Alif Badawi
23 Februari 2026
Politik Dinasti Kim: Analisis Dampak Pemilihan Ulang Kim Jong Un Terhadap Stabilitas Regional

Bayangkan sebuah negara di mana satu keluarga telah memegang kendali mutlak selama tiga generasi, di mana kongres partai bukan sekadar acara politik biasa, melainkan ritual pengukuhan kekuasaan yang penuh simbolisme. Inilah realitas Korea Utara, yang baru saja menggelar Kongres Partai Buruh kesembilan. Acara ini bukan sekadar formalitas—ini adalah momen penting yang mengirimkan sinyal kuat ke seluruh dunia tentang arah kebijakan Pyongyang di tengah ketegangan geopolitik yang semakin memanas.

Ketika Kim Jong Un kembali terpilih sebagai Sekretaris Jenderal Partai Buruh pada 23 Februari 2025, dunia menyaksikan lebih dari sekadar pergantian jabatan. Ini adalah konsolidasi kekuasaan yang strategis, terjadi di tengah perkembangan program nuklir Korea Utara yang terus mengkhawatirkan tetangga-tetangganya. Ribuan elite partai yang memadati Pyongyang bukan hanya hadir untuk memberikan suara—mereka hadir untuk menunjukkan kesetiaan mutlak dalam sebuah tarian politik yang telah dipentaskan selama puluhan tahun.

Simbolisme Kekuasaan dalam Kongres Partai

Kongres Partai Buruh Korea Utara selalu menjadi tontonan politik yang menarik untuk dianalisis. Di balik liputan media pemerintah yang seragam, terdapat dinamika kekuasaan yang kompleks. Menurut laporan Kantor Berita Pusat Korea (KCNA), para petinggi militer menyampaikan "sumpah setia" kepada Kim Jong Un setelah pemilihannya. Ritual semacam ini bukan hal baru, tetapi konteksnya kali ini berbeda—negara itu kini memiliki kemampuan nuklir yang jauh lebih maju dibandingkan lima tahun lalu.

Yang menarik untuk diamati adalah bagaimana partai secara khusus menyoroti upaya Kim dalam mengembangkan "kekuatan nuklir" Korea Utara secara "radikal". Pernyataan resmi partai menyebutnya sebagai pembangunan "angkatan bersenjata revolusioner yang mampu menghadapi setiap ancaman agresi atas inisiatif sendiri". Bahasa ini menunjukkan pergeseran dari defensif ke postur yang lebih ofensif, meski tetap dibungkus dalam retorika pertahanan.

Dukungan Eksternal dan Aliansi Strategis

Respons dari China dan Rusia terhadap pemilihan kembali Kim Jong Un patut menjadi perhatian khusus. Presiden China Xi Jinping tidak hanya menyambut baik pemilihan tersebut, tetapi juga menyatakan bahwa hubungan kedua negara akan memasuki "babak baru". Ini adalah sinyal diplomatik yang signifikan, mengingat China tetap menjadi penyangga ekonomi dan politik terpenting bagi Korea Utara.

Analisis saya menunjukkan bahwa aliansi Pyongyang-Beijing-Moscow semakin mengkristal dalam beberapa tahun terakhir. Parade militer di Beijing tahun lalu, di mana Kim Jong Un tampil bersama Xi Jinping dan Vladimir Putin, bukan sekadar pertunjukan simbolis. Itu adalah deklarasi visual tentang pembentukan poros kekuatan alternatif di kawasan, yang berpotensi mengubah peta geopolitik Asia Timur secara permanen.

Perkembangan Kapabilitas Nuklir: Dari Ancaman ke Realitas

Data yang cukup mengkhawatirkan: meski sudah lebih dari delapan tahun sejak uji coba nuklir terakhir Korea Utara, perkembangan teknologi persenjataannya justru semakin pesat. Para ilmuwan nuklir Pyongyang dilaporkan terus bekerja untuk mengecilkan hulu ledak agar dapat dipasang pada rudal jarak jauh—sebuah pencapaian teknis yang akan secara signifikan meningkatkan kemampuan deterensi negara itu.

Beberapa hari sebelum kongres, Kim Jong Un memperkenalkan peluncur roket besar yang mampu membawa hulu ledak nuklir. Foto-foto yang dirilis media pemerintah menunjukkan puluhan kendaraan militer berjajar rapi di alun-alun Pyongyang. Pameran kekuatan militer ini bukan kebetulan—ini adalah pesan yang disengaja kepada dunia luar, terutama Amerika Serikat dan sekutunya di kawasan.

Dinamika Suksesi dan Masa Depan Kepemimpinan

Salah satu aspek paling menarik dari kongres ini adalah apa yang tidak secara eksplisit dibahas: suksesi kepemimpinan. Menurut badan intelijen Korea Selatan, putri remaja Kim Jong Un, Ju Ae, telah muncul sebagai calon pewaris potensial. Meski tidak disebutkan dalam laporan resmi kongres, kehadirannya dalam acara-acara kenegaraan semakin sering diperhatikan oleh para pengamat.

Dalam analisis saya, pertanyaan tentang suksesi menjadi semakin relevan mengingat Kim Jong Un telah memimpin selama lebih dari satu dekade. Kongres partai sering menjadi ajang untuk memberikan petunjuk tentang rencana suksesi, meski biasanya disampaikan melalui simbolisme daripada pernyataan terbuka. Pengamatan terhadap susunan tempat duduk dan siapa yang muncul di samping pemimpin menjadi bahan analisis yang kaya bagi para pakar Korea Utara.

Implikasi bagi Keamanan Regional dan Global

Pemilihan kembali Kim Jong Un terjadi dalam konteks hubungan yang membeku dengan Amerika Serikat. Meski Presiden Donald Trump sebelumnya menyatakan keterbukaan untuk bertemu dengan Kim, dialog tingkat tinggi antara kedua negara praktis terhenti. Kongres kali ini menjadi kesempatan bagi Kim untuk menyampaikan pesan kepada Washington tanpa harus bertemu langsung.

Yang perlu dicermati adalah apakah Kim akan melanjutkan retorika konfrontatif atau memilih pendekatan yang lebih lunak. Pada kongres lima tahun lalu, ia menyebut AS sebagai "musuh terbesar". Kali ini, dunia menunggu apakah nada tersebut akan berubah, atau justru semakin mengeras seiring dengan penguatan kemampuan militer Korea Utara.

Opini Analitis: Dari perspektif keamanan regional, perkembangan terbaru ini mengkhawatirkan. Korea Utara di bawah Kim Jong Un telah berhasil mengubah program nuklirnya dari sekadar alat diplomasi menjadi komponen sentral strategi pertahanan nasional. Bahaya terbesar bukan pada uji coba nuklir itu sendiri, tetapi pada normalisasi Korea Utara sebagai negara nuklir—sebuah realitas yang semakin sulit dibantah oleh komunitas internasional.

Data Unik: Menurut catatan sejarah, Kongres Partai Buruh Korea Utara memiliki pola yang menarik. Di bawah Kim Il Sung (kakek Kim Jong Un), kongres diadakan relatif teratur. Namun, di era Kim Jong Il (ayah Kim Jong Un), kongres tidak diselenggarakan selama bertahun-tahun sebelum akhirnya dihidupkan kembali pada 2016 oleh Kim Jong Un. Pola ini menunjukkan perbedaan gaya kepemimpinan antar generasi: dari formalisme institusional ke personalisme karismatik, dan kini kembali ke formalisme—tetapi dengan sentuhan modern dan penguatan legitimasi melalui pencapaian militer.

Sebagai penutup, mari kita renungkan: dalam dunia yang semakin terpolarisasi, konsolidasi kekuasaan Kim Jong Un bukan hanya urusan domestik Korea Utara. Ini adalah perkembangan yang akan membayangi diplomasi kawasan selama bertahun-tahun mendatang. Ketika satu negara terus mengembangkan senjata nuklir sambil menolak keterlibatan dalam rezim non-proliferasi internasional, seluruh kawasan berada dalam situasi yang rapuh.

Pertanyaan terbesar bukan lagi apakah Korea Utara akan melepaskan senjata nuklirnya—melainkan bagaimana dunia akan belajar hidup dengan realitas baru ini sambil mencegah eskalasi yang bisa berakibat fatal. Masa depan stabilitas Asia Timur mungkin bergantung pada jawaban atas pertanyaan ini. Bagaimana menurut Anda—apakah pendekatan diplomatik masih mungkin, atau sudah saatnya menerima kenyataan pahit tentang proliferasi nuklir di Semenanjung Korea?

Dipublikasikan: 23 Februari 2026, 07:14
Diperbarui: 28 Februari 2026, 08:00