Kuliner

Nostalgia Rasa Nusantara: Mengapa Kuliner Tradisional Justru Makin Laris Saat Menyambut 2026?

Tren menarik terjadi jelang 2026: kuliner tradisional justru booming. Apa rahasia di balik fenomena ini dan dampaknya bagi ekonomi kreatif kita? Simak analisisnya.

Penulis:salsa maelani
7 Januari 2026
Nostalgia Rasa Nusantara: Mengapa Kuliner Tradisional Justru Makin Laris Saat Menyambut 2026?

Lebih Dari Sekadar Tren: Makanan Tradisional Kembali Jadi Primadona

Pernahkah Anda memperhatikan, di tengah derasnya arus kuliner modern yang menawarkan segala sesuatu yang kekinian, justru aroma sate yang dibakar atau kuah bakso yang mengepul terasa lebih menggoda saat akhir tahun tiba? Menjelang peralihan menuju 2026, sebuah fenomena menarik sedang terjadi. Bukan restoran fusion atau kafe aesthetic yang ramai dipesan, melainkan warung-warung dan pedagang kaki lima yang menghidangkan masakan khas Nusantara. Seolah ada magnet tersendiri yang menarik kita kembali ke cita rasa yang sudah akrab di lidah sejak kecil.

Di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan kota-kota lainnya, para pelaku usaha kuliner tradisional tersenyum lebar. Penjualan mereka melonjak, bukan dalam hitungan persen biasa, tapi seringkali berlipat ganda. Ini bukan sekadar soal orang malas masak atau mencari yang praktis. Ada cerita yang lebih dalam di balik sepiring nasi liwet, tusukan sate, atau semangkuk bakso yang dipesan untuk acara kumpul keluarga menyambut tahun baru. Rasanya, kita sedang mencari sesuatu yang hilang—sebuah rasa ‘pulang’—di tenging hingar-bingar kehidupan yang semakin kompleks.

Dari Data ke Meja Makan: Bukti Nyata Lonjakan Permintaan

Lonjakan ini bukan sekadar perasaan atau cerita dari mulut ke mulut. Data dari asosiasi pedagang pasar tradisional dan platform pesan-antar makanan menunjukkan pola yang konsisten. Pada dua minggu terakhir Desember 2025, pesanan untuk kategori “makanan tradisional” dan “jajanan pasar” meningkat rata-rata 120-180% dibandingkan bulan-bulan biasa. Yang menarik, peningkatan terbesar justru datang dari kelompok usia milenial dan Gen Z (usia 18-35 tahun), yang menyumbang hampir 65% dari total peningkatan pesanan tersebut.

“Biasanya orderan kita naik sekitar 30-40% saat akhir tahun. Tapi tahun ini benar-benar di luar dugaan. Sejak pertengahan Desember, kami harus menambah tenaga kerja dan bahan baku dua kali lipat,” tutur Bu Sari, pemilik usaha katering nasi liwet legendaris di Bandung yang sudah beroperasi selama 25 tahun. Kisah serupa diungkapkan oleh Pak Joko, penjual sate Madura di kawasan Jakarta Selatan, yang mengaku harus membuka pesanan pre-order karena kapasitas pembuatan yang tidak mencukupi untuk permintaan walk-in.

Fenomena ini menunjukkan pergeseran selera yang signifikan. Di tengah dominasi kuliner cepat saji dan tren makanan kekinian yang fotogenik, masakan rumahan dengan bumbu rempah autentik justru menemukan momentumnya. Masyarakat tidak lagi hanya mencari makanan untuk mengisi perut, tetapi juga pengalaman dan koneksi emosional. Menyajikan sate atau lontong sayur di meja makan saat malam tahun baru menjadi simbol kebersamaan dan penanda waktu—sebuah ritual untuk mengakhiri dan memulai babak baru dengan rasa yang familiar dan menenangkan.

Ekonomi Rasa: Dampak Positif Bagi Pelaku UMKM dan Perekonomian Lokal

Lonjakan permintaan ini tentu membawa angin segar bagi perekonomian, khususnya di sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Uang yang beredar tidak hanya mengalir ke perusahaan besar, tetapi langsung ke tangan pedagang lokal, petani rempah, penjual ayam di pasar, hingga pengrajin kemasan tradisional. Setiap peningkatan penjualan sate, misalnya, berdampak berantai pada peternak, penjual arang, pembuat kecap, dan penjual bawang.

Pemerintah daerah pun melihat peluang ini. Bukan sekadar mendorong untuk menjaga kebersihan dan kualitas—yang tentu sangat penting—beberapa daerah mulai meluncurkan program pendampingan yang lebih strategis. Misalnya, membantu para pedagang tradisional untuk mengoptimalkan pemasaran digital, mengelola keuangan dengan lebih baik, atau bahkan mengemas produk mereka agar memiliki daya tawar dan nilai jual yang lebih tinggi, tidak hanya saat musim tertentu. Ini adalah momentum tepat untuk mengubah keberuntungan musiman menjadi bisnis yang berkelanjutan.

Namun, ada tantangan yang mengintai. Lonjakan permintaan yang drastis seringkali diikuti tekanan untuk memproduksi dalam jumlah besar dengan waktu terbatas. Di sinilah kualitas dan konsistensi rasa seringkali menjadi taruhannya. Sebuah riset kecil yang dilakukan oleh komunitas food blogger pada Januari 2026 (menganalisis tren akhir tahun sebelumnya) menemukan bahwa 3 dari 10 konsumen mengeluhkan sedikit penurunan kualitas atau porsi pada pesanan kuliner tradisional mereka selama puncak permintaan. Ini adalah alarm bagi pelaku usaha untuk memiliki sistem manajemen dan standard operating procedure (SOP) yang baik, agar kepercayaan konsumen tidak rusak oleh euforia sesaat.

Opini: Nostalgia Sebagai Kekuatan Ekonomi Kreatif

Di sini, saya ingin menyampaikan sebuah opini. Menurut saya, fenomena ini lebih dari sekadar tren kuliner biasa. Ini adalah manifestasi dari “ekonomi nostalgia”. Di era di mana segala sesuatu berubah dengan cepat, ketidakpastian tinggi, dan dunia digital seringkali membuat kita terasa terpisah, manusia secara naluriah mencari sesuatu yang stabil, nyata, dan memberikan rasa aman. Makanan tradisional, dengan aromanya yang khas dan rasanya yang tidak berubah dari masa kecil, menjadi jangkar emosional yang sangat kuat.

Ini adalah peluang emas yang tidak boleh disia-siakan. Kita tidak boleh membiarkan kuliner tradisional hanya menjadi “tren musiman” yang ramai saat akhir tahun dan lebaran saja. Kekuatan nostalgia ini harus dikelola menjadi “nilai budaya berkelanjutan”. Bagaimana caranya? Dengan mendongengkan setiap hidangan. Setiap sate memiliki cerita asal-usulnya, setiap nasi liwet punya filosofinya, setiap jajanan pasar mengandung sejarah lokalnya. Ketika generasi muda tidak hanya mengenal rasa, tetapi juga cerita di baliknya, keterikatan mereka akan menjadi lebih dalam dan langgeng. Mereka tidak akan lagi melihatnya sebagai “makanan jadul”, tetapi sebagai “warisan rasa yang hidup”.

Menutup Tahun dengan Rasa, Membuka Masa Depan dengan Warisan

Jadi, apa sebenarnya yang kita rayakan dengan sepiring hidangan tradisional jelang tahun baru 2026? Kita merayakan ketahanan. Ketahanan rasa yang telah bertahan melintasi generasi. Ketahanan para pelaku usaha kecil yang terus berjuang menjaga keautentikan. Dan yang terpenting, ketahanan nilai-nilai kebersamaan yang dihidupkan kembali melalui meja makan.

Lonjakan penjualan ini adalah lampu hijau yang terang. Ia memberi tahu kita bahwa di jantung masyarakat modern, ada kerinduan yang mendalam akan identitas dan akar. Sebagai konsumen, pilihan kita untuk membeli bakso dari abang langganan atau nasi liwet dari warung turun-temurun bukanlah tindakan kecil. Itu adalah suara yang menyatakan bahwa kita peduli pada warisan kuliner lokal, bahwa kita ingin uang kita mengalir ke ekonomi kerakyatan, dan bahwa kita percaya kualitas terbaik seringkali datang dari resep yang telah diuji oleh waktu.

Mungkin, inilah resolusi bersama yang patut kita usung memasuki 2026: untuk lebih sering “pulang” melalui lidah. Tidak hanya saat hari-hari spesial, tetapi juga dalam keseharian. Mari kita tanyakan pada diri sendiri: kapan terakhir kali kita dengan sengaja mencari dan menikmati hidangan tradisional di luar momentum hari raya? Dan lebih dari itu, apakah kita sudah melakukan bagian kita untuk memastikan bahwa warisan rasa yang luar biasa ini tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dan dikenali oleh dunia?

Pada akhirnya, setiap suap bukan hanya tentang kenikmatan, tetapi juga tentang pelestarian. Saat kita menikmati hidangan itu bersama orang-orang terkasih, kita sedang menulis ulang kenangan sekaligus memastikan bahwa aroma dan rasa itu akan tetap ada untuk disantap oleh generasi-generasi berikutnya. Itulah cara paling lezat untuk menyambut masa depan: dengan membawa serta yang terbaik dari masa lalu.

Dipublikasikan: 7 Januari 2026, 16:54
Diperbarui: 7 Januari 2026, 16:54
Nostalgia Rasa Nusantara: Mengapa Kuliner Tradisional Justru Makin Laris Saat Menyambut 2026? | Kabarify