Lingkungan

Musim Hujan Datang, Air Bersih Malah 'Kabur': Ironi yang Harus Kita Hadapi Bersama

Di balik derasnya hujan awal 2026, tersembunyi paradoks yang mengkhawatirkan: air melimpah tapi sulit mendapatkan yang layak pakai. Bagaimana kita bisa keluar dari lingkaran setan ini?

Penulis:salsa maelani
7 Januari 2026
Musim Hujan Datang, Air Bersih Malah 'Kabur': Ironi yang Harus Kita Hadapi Bersama

Pernahkah Anda berpikir bahwa di musim hujan seperti sekarang, ketika langit seolah tak berhenti menumpahkan airnya, justru air bersih menjadi barang yang semakin sulit didapat? Ironis, bukan? Awal 2026 ini, banyak dari kita yang masih harus berjuang mendapatkan air layak konsumsi meski hujan turun hampir setiap hari. Rasanya seperti melihat sungai deras di depan mata, tapi tak bisa meminum setetes pun airnya.

Faktanya, menurut data dari Asosiasi Pengelola Air Indonesia, di wilayah padat penduduk, curah hujan tinggi justru meningkatkan risiko pencemaran air hingga 40% dibanding musim kemarau. Limpasan air hujan membawa serta berbagai polutan dari permukaan tanah, sementara sistem saluran yang sudah tua dan tak terawat semakin memperparah kondisi. Bukan sekadar air keruh yang kita hadapi, tapi ancaman kesehatan yang nyata.

Di beberapa permukiman, warga masih mengeluhkan air yang datang tak jernih, berbau, dan kadang disertai endapan. Pemerintah daerah bersama pengelola air memang berupaya melakukan pemantauan ketat, tapi sepertinya ini seperti mengejar bayangan sendiri. Sistem distribusi yang sudah puluhan tahun tak diperbarui sulit mengimbangi tekanan dari pertumbuhan penduduk dan perubahan iklim yang semakin ekstrem.

Menurut pengamatan saya, masalah ini bukan lagi sekadar urusan teknis, tapi sudah menjadi krisis kepercayaan. Masyarakat mulai ragu apakah air yang mengalir dari keran mereka benar-benar aman. Di sisi lain, ada kecenderungan menarik: semakin banyak keluarga yang beralih ke penyaringan air mandiri, menciptakan 'ketergantungan baru' yang sebenarnya bisa dicegah dengan sistem publik yang lebih baik.

Pada akhirnya, semua imbauan untuk menggunakan air secara bijak akan sia-sia jika fondasinya rapuh. Kita bisa menghemat air sebaik mungkin, tapi apa gunanya jika sumbernya sendiri sudah tercemar? Mungkin inilah saatnya kita tidak hanya menuntut hak atas air bersih, tapi juga mengambil peran lebih aktif dalam menjaga sumber-sumber air di sekitar kita. Mulai dari hal sederhana: tidak membuang sampah sembarangan, mengurangi penggunaan bahan kimia berbahaya, hingga terlibat dalam pengawasan komunitas terhadap kualitas air.

Bayangkan jika lima tahun dari sekarang, anak-anak kita harus bertanya: "Apa rasanya air bersih itu?" Jangan biarkan pertanyaan itu menjadi kenyataan. Mari kita jadikan awal 2026 ini sebagai titik balik—bukan hanya menunggu hujan membawa solusi, tapi menciptakan sistem yang membuat setiap tetes hujan benar-benar menjadi berkat, bukan bencana terselubung.

Dipublikasikan: 7 Januari 2026, 07:57
Diperbarui: 7 Januari 2026, 07:57
Musim Hujan Datang, Air Bersih Malah 'Kabur': Ironi yang Harus Kita Hadapi Bersama | Kabarify