Menyembuhkan Luka Sumatera: Kisah di Balik Pengerahan Massal Tenaga Medis Pascabencana
Lebih dari sekadar angka, ini adalah cerita tentang upaya manusiawi memulihkan layanan kesehatan di daerah terisolasi Sumatera pascabencana. Bagaimana strateginya bekerja?
Bayangkan Anda seorang bidan di sebuah puskesmas kecil di pedalaman Aceh Timur. Gempa dan banjir baru saja meluluhlantakkan bangunan tempat Anda biasa melayani puluhan ibu hamil setiap bulannya. Listrik padam, jalan terputus, dan suplai obat-obatan menipis. Di tengah keputusasaan itu, tiba-tiba datang bantuan: tim medis dari luar daerah yang menembus isolasi hanya untuk memastikan layanan kesehatan tetap berjalan. Ini bukan sekadar skenario—ini realitas yang sedang terjadi di berbagai titik di Sumatera sejak awal tahun 2026.
Pascabencana hidroklimatologi yang melanda wilayah Sumatera, tantangan terberat justru muncul di tempat-tempat yang paling sulit dijangkau. Sementara perhatian media seringkali terfokus pada kerusakan fisik yang terlihat, ada krisis lain yang lebih sunyi: terputusnya akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan dasar. Menurut data dari Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan, ada peningkatan 300% kasus penyakit yang seharusnya bisa dicegah di daerah bencana selama bulan pertama pascabencana, terutama yang berkaitan dengan sanitasi dan gizi.
Strategi di Balik Angka 513 Tenaga Kesehatan
Angka 513 tenaga kesehatan yang dikerahkan mungkin terdengar seperti statistik biasa. Namun, di balik angka itu terdapat strategi yang lebih kompleks. Mereka bukan sekadar dikirim secara acak, melainkan merupakan angkatan ketiga Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) yang telah melalui pelatihan khusus penanganan bencana. Uniknya, 40% dari mereka adalah relawan yang pernah berpengalaman menangani bencana sebelumnya, seperti gempa Lombok 2018 dan banjir Kalimantan 2021.
Penempatan mereka di sembilan kabupaten/kota di Aceh dilakukan dengan pendekatan berbasis kebutuhan spesifik setiap lokasi. Misalnya, di daerah dengan tingkat kerusakan infrastruktur air yang parah, tim lebih banyak terdiri dari ahli sanitasi dan dokter penyakit tropis. Sementara di wilayah dengan populasi lansia tinggi, komposisi tim didominasi oleh perawat geriatri dan terapis rehabilitasi medik.
Lebih Dari Sekadar Membangun Kembali
Yang menarik dari upaya pemulihan kali ini adalah pendekatan yang tidak hanya fokus pada rekonstruksi fisik. Pembangunan puskesmas moduler pengganti Puskesmas Lokop dan Jambur Lak Lak, misalnya, dirancang dengan standar ketahanan bencana yang lebih tinggi. Material yang digunakan sudah mempertimbangkan kemungkinan bencana serupa di masa depan.
Proyek 20 unit sumur bor di berbagai fasilitas kesehatan juga memiliki nilai strategis jangka panjang. Sebelum bencana, banyak fasilitas kesehatan di daerah terpencil ini sudah bergantung pada suplai air yang tidak stabil. Kini, dengan adanya sumur bor yang dibangun pascabencana, mereka justru mendapatkan sistem pasokan air yang lebih andal daripada sebelumnya.
Dana BOK: Inovasi dalam Keterbatasan
Keputusan Menteri Kesehatan untuk memanfaatkan sisa dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) Tahun Anggaran 2025 menunjukkan keluwesan birokrasi dalam situasi darurat. Biasanya, dana anggaran tahun sebelumnya sulit dialihkan untuk keperluan di tahun berjalan. Namun, dalam konteks pemulihan bencana, fleksibilitas ini menjadi kunci percepatan.
Menurut analisis ekonom kesehatan dari Universitas Indonesia, alokasi dana BOK untuk pemulihan bencana bisa memberikan multiplier effect hingga 3 kali lipat. Setiap rupiah yang dikeluarkan untuk memperbaiki fasilitas kesehatan tidak hanya mengembalikan layanan, tetapi juga mencegah kerugian ekonomi yang lebih besar akibat penurunan produktivitas masyarakat karena sakit.
Koordinasi 18 Lembaga: Tantangan dan Pelajaran
Daily brief Posko Satgas PRR yang dilaporkan kepada Tito Karnavian mengungkap kompleksitas koordinasi 18 kementerian dan lembaga. Pengalaman dari bencana-bencana sebelumnya menunjukkan bahwa koordinasi multisektor sering menjadi titik lemah penanganan pascabencana. Namun, kali ini ada mekanisme yang berbeda: sistem komando terpadu dengan kanal komunikasi digital yang memungkinkan pertukaran data real-time antar lembaga.
Perbaikan 24 unit ambulans di Aceh dan Sumatera Utara, misalnya, melibatkan tidak hanya Kementerian Kesehatan tetapi juga Kementerian Perindustrian (untuk suku cadang), Kementerian Perhubungan (untuk izin operasional), dan pemerintah daerah (untuk pendataan kebutuhan).
Refleksi: Bencana sebagai Momentum Perbaikan Sistem
Di balik semua upaya teknis ini, ada pelajaran penting yang sering terlewatkan: bencana seharusnya tidak hanya dipandang sebagai tragedi, tetapi juga sebagai momentum untuk membangun sistem kesehatan yang lebih tangguh. Pengalaman di Sumatera menunjukkan bahwa daerah yang sebelumnya memiliki sistem kesehatan primer yang kuat cenderung lebih cepat pulih.
Opini pribadi saya? Respons pascabencana di Sumatera ini patut diapresiasi, namun yang lebih penting adalah bagaimana pembelajaran dari pengalaman ini bisa diinstitusionalisasi. Alih-alih hanya reaktif menanggapi bencana, sistem kesehatan kita perlu dibangun dengan ketahanan sebagai fondasi utamanya. Puskesmas dan rumah sakit di daerah rawan bencana harus dirancang dengan standar bangunan tahan gempa dan banjir sejak awal, bukan diperbaiki setelah rusak.
Pertanyaan yang perlu kita renungkan bersama: Sudah siapkah sistem kesehatan kita di daerah lain menghadapi kemungkinan bencana serupa? Pengerahan 513 tenaga kesehatan ke Sumatera adalah respons yang baik, tetapi yang ideal adalah jika setiap daerah sudah memiliki cadangan tenaga kesehatan terlatih di tingkat lokal. Mungkin inilah saatnya kita memikirkan ulang paradigma ketahanan kesehatan nasional—tidak hanya merespons setelah bencana terjadi, tetapi membangun ketangguhan sebelum bencana datang.
Pada akhirnya, pemulihan pascabencana bukan sekadar tentang membangun kembali apa yang hancur, tetapi tentang membangun sesuatu yang lebih baik. Setiap tenaga kesehatan yang berjuang di daerah terisolasi Sumatera saat ini tidak hanya menyembuhkan luka fisik masyarakat, tetapi juga sedang menulis bab baru dalam sejarah ketahanan kesehatan Indonesia. Dan kita semua punya peran untuk memastikan pelajaran dari bab ini tidak terlupakan.