Ekonomi

Menuju 6%: Bisakah Indonesia Melompat Lebih Tinggi dari Target APBN 2026?

Target pertumbuhan ekonomi 6% di 2026 bukan sekadar angka. Ini adalah tantangan besar yang membutuhkan harmonisasi kebijakan dan percepatan investasi.

Penulis:salsa maelani
7 Januari 2026
Menuju 6%: Bisakah Indonesia Melompat Lebih Tinggi dari Target APBN 2026?

Mimpi Besar di Tengah Ketidakpastian Global

Bayangkan ini: tahun 2026, ekonomi Indonesia tumbuh 6 persen. Bukan angka yang mustahil, tapi juga bukan pencapaian yang datang begitu saja. Baru-baru ini, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dengan optimis menaikkan target pertumbuhan untuk tahun itu dari 5,4% menjadi 6%. Ini bukan sekadar koreksi angka di atas kertas, melainkan sebuah pernyataan ambisi yang tegas. Di tengah gejolak geopolitik dan perlambatan ekonomi global yang masih mengintai, target ini bagaikan sebuah lompatan. Pertanyaannya, apakah kita sudah memiliki pijakan yang cukup kuat untuk melompat setinggi itu?

Lebih dari Sekadar Angka: Strategi di Balik Target 6%

Pencapaian target 6% ini, menurut Purbaya, sangat bergantung pada satu hal: keselarasan. Bukan hanya keselarasan antara pemerintah dan Bank Indonesia dalam kebijakan fiskal dan moneter, tetapi juga keselarasan antara janji dan aksi nyata di lapangan. Pemerintah menyadari bahwa untuk menarik investasi yang lebih agresif, mereka harus membersihkan "sumbatan" birokrasi yang selama ini menjadi keluhan klasik investor, baik domestik maupun asing.

Debottlenecking atau penghilangan hambatan ini menjadi kata kunci. Proses perizinan yang lebih cepat, regulasi yang lebih pasti, dan iklim usaha yang kondusif bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Investasi yang masuk dengan lancar diharapkan akan menjadi mesin pencipta lapangan kerja baru, yang pada gilirannya meningkatkan daya beli masyarakat dan mendorong pertumbuhan dari sisi konsumsi. Ini adalah siklus yang ingin diwujudkan.

Opini: Antara Optimisme dan Realitas Lapangan

Di sini, saya ingin menyisipkan sebuah opini yang mungkin perlu kita renungkan bersama. Target 6% adalah angka yang sangat menggoda dan membangkitkan semangat. Namun, sejarah beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa kita sering kali lebih jago dalam menetapkan target ambisius daripada dalam konsistensi eksekusi. Ambil contoh, target investasi atau realisasi proyek strategis nasional yang kerap molor.

Data dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menunjukkan bahwa realisasi investasi memang terus tumbuh, tetapi seringkali terkonsentrasi di Jawa dan beberapa sektor tertentu seperti logam dasar dan industri pengolahan. Pertanyaannya, apakah pertumbuhan 6% itu akan inklusif dan merata, atau hanya akan dinikmati oleh segelintir pulau dan industri? Inilah yang menurut saya menjadi ujian sebenarnya. Target angka tinggi itu penting, tetapi kualitas pertumbuhan dan pemerataannya jauh lebih penting untuk kesejahteraan jangka panjang.

Modal Utama: Kepercayaan dan Konsistensi

Analis ekonomi sepakat bahwa modal terbesar untuk mencapai target ini adalah kepercayaan. Kepercayaan investor bahwa regulasi tidak akan berubah-ubah semena-mena. Kepercayaan pelaku usaha bahwa birokrasi akan menjadi mitra, bukan penghalang. Dan kepercayaan masyarakat bahwa pertumbuhan ekonomi akan membawa dampak nyata bagi kehidupan mereka.

Konsistensi kebijakan adalah kunci membangun kepercayaan itu. Investor tidak takut pada aturan yang ketat, mereka takut pada aturan yang tidak jelas dan plin-plan. Langkah-langkah seperti penyederhanaan perizinan melalui sistem Online Single Submission (OSS) harus terus diperbaiki dan benar-benar dirasakan kemudahannya oleh pelaku usaha di semua level, bukan hanya korporasi besar.

Penutup: Sebuah Lompatan yang Membutuhkan Pijakan Kolektif

Jadi, bisakah Indonesia mencapai pertumbuhan 6% di 2026? Jawabannya terletak bukan hanya di tangan Menteri Keuangan atau Gubernur BI, tetapi di meja kerja kita semua. Target ini adalah sebuah undangan untuk berlari lebih cepat, berinovasi lebih gesit, dan berkolaborasi lebih erat. Ini adalah panggilan untuk meninggalkan ego sektoral dan bekerja sama menciptakan ekosistem yang benar-benar produktif.

Angka 6% itu akhirnya bukan tentang statistik di laporan kuartalan. Ia adalah tentang jutaan lapangan kerja baru yang tercipta, tentang usaha mikro dan kecil yang bisa naik kelas, tentang anak-anak yang mendapat pendidikan lebih baik karena ekonomi keluarganya membaik, dan tentang desa-desa yang tidak lagi tertinggal. Itulah makna sebenarnya dari pertumbuhan ekonomi yang kita dambakan.

Mari kita awali dengan sebuah pertanyaan sederhana untuk direnungkan: Apa yang bisa saya lakukan, dalam kapasitas saya, untuk ikut memperkuat pijakan ekonomi bangsa ini? Karena lompatan besar menuju 6% itu dimulai dari langkah-langkah kecil yang konsisten dari setiap kita. Optimisme pemerintah perlu kita sambut, tetapi lebih dari itu, perlu kita wujudkan bersama dalam aksi nyata.

Dipublikasikan: 7 Januari 2026, 16:53
Diperbarui: 7 Januari 2026, 16:53
Menuju 6%: Bisakah Indonesia Melompat Lebih Tinggi dari Target APBN 2026? | Kabarify