Energi

Mengapa Perubahan Sumber Energi Bukan Lagi Pilihan, Tapi Keharusan?

Menyelami urgensi peralihan energi dari perspektif ekonomi, lingkungan, dan masa depan generasi mendatang dalam konteks Indonesia yang unik.

Penulis:Sanders Mictheel Ruung
30 Januari 2026
Mengapa Perubahan Sumber Energi Bukan Lagi Pilihan, Tapi Keharusan?

Bayangkan Dunia Tanpa Batas: Ketika Sumber Daya Bukan Lagi Masalah

Pernahkah Anda membayangkan hidup di sebuah tempat di mana listrik tidak pernah padam, udara selalu segar, dan kita tidak perlu khawatir tentang harga BBM yang naik turun? Itu bukanlah mimpi di siang bolong, melainkan gambaran nyata dari sebuah masa depan yang bisa kita wujudkan bersama. Selama ini, kita seperti terperangkap dalam hubungan yang rumit dengan energi fosil—sebuah hubungan yang penuh ketergantungan, namun juga menyimpan banyak konsekuensi yang mulai terasa di kulit kita sendiri. Dari udara yang semakin panas hingga tagihan listrik yang kerap membuat kita menghela napas, semua ini adalah bagian dari cerita yang lebih besar tentang bagaimana kita memilih untuk memberi daya pada peradaban.

Transisi energi sering kali digambarkan sebagai proyek teknis yang rumit, penuh dengan grafik dan data yang membingungkan. Namun, jika kita menyelaminya lebih dalam, ini sebenarnya adalah kisah tentang pilihan kolektif kita sebagai masyarakat. Ini tentang memutus rantai ketergantungan pada sumber daya yang suatu hari nanti akan habis, dan beralih kepada sesuatu yang lebih abadi—energi dari matahari, angin, air, dan panas bumi. Bagi Indonesia, negara dengan kekayaan alam terbarukan yang luar biasa, peralihan ini bukan sekadar mengikuti tren global, melainkan sebuah peluang emas untuk membangun kemandirian dan ketahanan energi yang sesungguhnya.

Dampak yang Sudah Kita Rasakan: Lebih dari Sekadar Polusi

Mari kita bicara secara jujur. Ketergantungan pada batubara, minyak, dan gas alam telah meninggalkan jejak yang dalam. Ini bukan hanya soal kabut asap atau emisi karbon yang memicu perubahan iklim. Dampaknya merambah ke aspek-aspek kehidupan yang mungkin tidak langsung kita sadari:

  • Beban Ekonomi yang Tak Terduga: Sebagai negara yang masih mengimpor sebagian kebutuhan minyaknya, gejolak harga di pasar global langsung terasa di dalam negeri. Subsidi energi yang membengkak sering kali mengorbankan anggaran untuk sektor lain yang lebih mendesak, seperti pendidikan dan kesehatan.
  • Kerentanan Sistem: Ketika kita bergantung pada beberapa pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) besar, gangguan di satu titik bisa menyebabkan pemadaman bergilir yang melumpuhkan aktivitas ekonomi dan kenyamanan hidup.
  • Dampak Kesehatan yang Terabaikan: Polusi udara dari pembakaran fosil berkontribusi pada meningkatnya kasus penyakit pernapasan. Biaya pengobatan dan hilangnya produktivitas adalah beban tersembunyi yang ditanggung masyarakat.

Data dari Kementerian ESDM menunjukkan potensi yang luar biasa: Indonesia memiliki potensi energi surya sekitar 207,8 Gigawatt (GW), namun yang baru terpasang masih di bawah 0,2 GW pada 2023. Ini seperti memiliki lahan subur seluas puluhan hektar, tetapi hanya menanam di pekarangan rumah. Ada kesenjangan besar antara potensi dan realisasi yang perlu segera kita jembatani.

Peluang di Balik Tantangan: Membaca Peta Jalan Energi Terbarukan

Beralih ke energi terbarukan sering dikaitkan dengan biaya mahal dan teknologi rumit. Memang, investasi awal untuk pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atau bayu (PLTB) bisa lebih tinggi. Namun, perspektif ini mengabaikan gambaran jangka panjang. Biaya operasi dan pemeliharaan energi terbarukan cenderung jauh lebih rendah karena 'bahan bakarnya'—sinar matahari dan angin—tersedia gratis. Selain itu, teknologi panel surya misalnya, harganya telah turun lebih dari 80% dalam satu dekade terakhir, membuatnya semakin terjangkau.

Yang menarik adalah bagaimana energi terbarukan bisa mendorong pemerataan pembangunan. Bayangkan desa-desa terpencil yang selama ini gelap gulita karena sulit dijangkau jaringan listrik PLN, kini bisa menerangi rumah mereka dengan panel surya mandiri. Atau, masyarakat di daerah pesisir yang memanfaatkan energi angin untuk menggerakkan pompa air dan pendingin ikan. Transisi energi, jika dikelola dengan baik, bisa menjadi alat untuk memberdayakan komunitas lokal dan menciptakan lapangan kerja baru di sektor hijau—mulai dari teknisi panel surya hingga pengelola pembangkit listrik tenaga mikrohidro.

Langkah Nyata: Dari Wacana ke Aksi Kolaboratif

Lalu, bagaimana kita memulai? Transisi energi bukanlah tugas pemerintah semata, atau hanya menjadi tanggung jawab perusahaan besar. Ini adalah gerakan kolektif yang membutuhkan partisipasi dari semua pihak. Di tingkat individu, langkah-langkah kecil seperti memilih produk elektronik yang hemat energi, memanfaatkan pencahayaan alami di rumah, atau bahkan memasang panel surya atap jika memungkinkan, adalah kontribusi yang bermakna.

Di tingkat bisnis, banyak perusahaan mulai menyadari bahwa keberlanjutan adalah nilai tambah yang dihargai konsumen dan investor. Mengadopsi energi terbarukan untuk operasional pabrik atau kantor tidak hanya mengurangi jejak karbon, tetapi juga menstabilkan biaya energi dalam jangka panjang. Sementara itu, pemerintah memiliki peran kritis dalam menciptakan regulasi yang mendukung, memberikan insentif, dan membangun infrastruktur pendukung seperti smart grid yang bisa mengintegrasikan berbagai sumber energi terbarukan secara stabil.

Menutup dengan Refleksi: Warisan Apa yang Ingin Kita Tinggalkan?

Pada akhirnya, percakapan tentang transisi energi adalah percakapan tentang warisan. Setiap kali kita memutuskan untuk tetap bergantung pada pembangkit listrik batubara yang sudah tua, atau memilih untuk tidak berinvestasi pada riset energi terbarukan, kita sedang menuliskan sebuah bab dalam buku sejarah untuk anak cucu kita nanti. Apakah bab itu akan berisi cerita tentang kelangkaan, konflik, dan kerusakan lingkungan? Atau, apakah itu akan menjadi kisah tentang visi, inovasi, dan keberanian untuk berubah?

Peralihan menuju energi terbarukan mungkin terasa seperti perjalanan panjang yang penuh tikungan. Namun, setiap panel surya yang terpasang, setiap kincir angin yang berputar, dan setiap kebijakan hijau yang diterapkan, adalah sebuah langkah pasti menuju masa depan yang lebih tangguh dan berdaulat. Mari kita mulai dari hal-hal yang bisa kita kendalikan. Diskusikan topik ini dengan keluarga dan rekan kerja, dukung bisnis yang berkomitmen pada praktik berkelanjutan, dan teruslah menuntut kebijakan energi yang progresif. Masa depan energi ada di tangan kita—dan kekuatannya benar-benar tak terbatas.

Dipublikasikan: 30 Januari 2026, 02:28
Diperbarui: 28 Februari 2026, 08:00