Melihat Langsung Komitmen Pendidikan Nasional: Kunjungan Presiden ke Banjarbaru dan Makna 166 Sekolah Baru
Presiden Prabowo meresmikan 166 Sekolah Rakyat di Banjarbaru. Apa arti langkah ini bagi masa depan pendidikan inklusif dan pemerataan kesempatan belajar di Indonesia?
Bayangkan seorang anak di pelosok Kalimantan Selatan yang setiap hari harus menempuh perjalanan berjam-jam hanya untuk sampai ke sekolah terdekat. Atau remaja di daerah perkotaan yang terpaksa putus sekolah karena biaya yang tak terjangkau. Cerita-cerita semacam ini bukan lagi sekadar anekdot, melainkan potret nyata dari ketimpangan akses pendidikan yang masih menghantui negeri kita. Nah, dalam konteks inilah, kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Banjarbaru pada Senin lalu menjadi sebuah sinyal penting. Bukan sekadar seremoni politik, tapi sebuah pernyataan tegas: pemerataan pendidikan adalah prioritas yang tak bisa ditawar.
Di Sekolah Rakyat Terpadu BBPPKS Banjarbaru, suasana pagi itu berbeda. Seragam khas Sekolah Rakyat yang dikenakan siswa-siswi seolah menjadi simbol harapan baru. Presiden tidak hanya datang untuk memotong pita peresmian, tetapi juga menyelami langsung denyut nadi proses belajar mengajar di sana. Dari meninjau ruang kelas, berinteraksi dengan para guru, hingga menyimak cerita dari para siswa. Kunjungan ini menjadi momen simbolis sekaligus substantif dalam perjalanan panjang upaya membangun pendidikan yang benar-benar menjangkau semua lapisan masyarakat.
Lebih Dari Sekadar Angka: Membongkar Makna 166 Sekolah Rakyat
Angka 166 mungkin terlihat seperti sekadar statistik dalam siaran pers. Namun, jika kita telisik lebih dalam, setiap unit dari angka itu mewakili sebuah komunitas, ratusan anak, dan ribuan mimpi yang mendapatkan peluang baru. Program Sekolah Rakyat sejatinya adalah terobosan konseptual. Ia dirancang khusus untuk menjembatani kesenjangan yang selama ini menganga, terutama bagi keluarga dengan keterbatasan ekonomi. Yang menarik dari model ini adalah pendekatannya yang terpadu. Bukan hanya menyediakan bangunan fisik, tetapi juga memastikan kurikulum, tenaga pendidik, dan sarana pendukungnya disesuaikan dengan konteks dan kebutuhan peserta didik yang berasal dari latar belakang kurang mampu.
Data dari Kementerian Pendidikan pada 2025 menunjukkan bahwa angka partisipasi sekolah untuk kelompok ekonomi terbawah masih tertinggal sekitar 15% dibandingkan kelompok menengah ke atas. Inisiatif seperti Sekolah Rakyat secara langsung menargetkan celah tersebut. Dengan lokasi yang tersebar di berbagai wilayah, program ini berpotensi menjadi penyeimbang, terutama di daerah-daerah yang infrastruktur pendidikannya masih minim atau mahal. Bayangkan dampak multiplier-nya: satu sekolah yang baik tidak hanya menghasilkan lulusan yang terampil, tetapi juga dapat mengangkat kondisi sosial-ekonomi keluarga dan lingkungan sekitarnya dalam jangka panjang.
Tinjauan Langsung dan Komitmen di Balik Podium
Ada sesuatu yang powerful ketika seorang pemimpin negara memilih untuk melihat langsung, bukan hanya mendengar laporan. Agenda Presiden Prabowo di Banjarbaru mencerminkan hal itu. Peninjauan fasilitas pendidikan dan ruang belajar adalah upaya untuk mendapatkan umpan balik pertama, merasakan tantangan yang dihadapi di lapangan, dan memastikan bahwa bantuan pemerintah benar-benar tepat sasaran. Dalam pidatonya, penekanan pada pendidikan sebagai fondasi pembangunan bangsa bukanlah retorika kosong. Ia terkait erat dengan visi membangun daya saing bangsa di tengah persaingan global yang semakin ketat.
Namun, komitmen itu perlu diterjemahkan lebih jauh. Pendidikan inklusif dan merata yang digaungkan membutuhkan lebih dari sekadar pembangunan sekolah. Ia memerlukan guru-guru yang berkualitas dan termotivasi, kurikulum yang relevan dengan kebutuhan zaman, serta sistem pendukung yang memastikan anak-anak tetap bisa belajar tanpa terbebani biaya hidup. Inilah tantangan sesungguhnya. Peresmian 166 sekolah adalah langkah awal yang monumental, tetapi perjalanan untuk memastikan setiap anak Indonesia mendapatkan pendidikan bermasih masih panjang.
Opini: Antara Gebrakan Awal dan Marathon Panjang
Sebagai pengamat kebijakan sosial, saya melihat langkah peresmian massal Sekolah Rakyat ini sebagai gebrakan yang tepat waktu dan simbolis. Ia mengirim pesan politik yang jelas tentang prioritas pemerintah. Namun, kita harus jujur mengakui bahwa membangun gedung adalah bagian yang relatif lebih mudah. Ujian sebenarnya terletak pada konsistensi. Apakah alokasi anggaran untuk operasional, pelatihan guru, dan beasiswa siswa akan berlanjut dalam APBN tahun-tahun mendatang? Apakah model Sekolah Rakyat akan dievaluasi secara berkala untuk mengukur dampak nyatanya terhadap peningkatan kualitas hidup lulusannya?
Pengalaman dari berbagai program pendidikan serupa di masa lalu mengajarkan kita satu hal: keberlanjutan adalah kunci. Banyak inisiatif yang bersinar di awal, tetapi redup seiring waktu karena kurangnya pendanaan atau perubahan prioritas. Karena itu, momentum Banjarbaru ini harus dimanfaatkan untuk membangun sistem, bukan hanya proyek. Kolaborasi dengan pemerintah daerah, organisasi masyarakat, dan sektor swasta menjadi crucial untuk memastikan bahwa 166 sekolah ini benar-benar hidup, berkembang, dan melahirkan generasi penerus yang kompeten dan berkarakter.
Refleksi Akhir: Pendidikan sebagai Jalan Menuju Keadilan
Pada akhirnya, apa yang terjadi di Banjarbaru mengajak kita semua untuk berefleksi. Pendidikan adalah alat paling ampuh untuk memutus mata rantai kemiskinan dan menciptakan keadilan sosial. Setiap anak yang berhasil mengenyam pendidikan berkualitas bukan hanya mengubah nasibnya sendiri, tetapi juga berkontribusi pada kemajuan bangsa. Kunjungan presiden dan peresmian sekolah-sekolah baru ini adalah pengingat bahwa tugas besar ini membutuhkan partisipasi semua pihak.
Jadi, pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah kita punya komitmen, tapi bagaimana kita menjalankan komitmen itu dengan konsisten dan cerdas. Mari kita jadikan momen ini sebagai titik tolak untuk lebih memperhatikan kualitas pendidikan di sekitar kita. Apakah kita, sebagai masyarakat, juga bisa berkontribusi? Mungkin dengan menjadi relawan pengajar, mendonasikan buku, atau sekadar menyebarkan semangat pentingnya pendidikan. Karena membangun masa depan Indonesia yang lebih adil dan sejahtera dimulai dari satu ruang kelas, satu guru, dan satu anak pada suatu waktu. Apa yang Anda lakukan hari ini untuk mendukung mimpi mereka?