Bisnis

Lampung & Jateng 'Berpelukan' Rp833 Miliar: Bukan Sekadar Angka, Tapi Pintu Menuju Ekonomi yang Lebih Tangguh

Kolaborasi senilai fantastis antara Lampung dan Jawa Tengah bukan cuma soal transaksi. Ini adalah cerita tentang bagaimana dua wilayah dengan kekuatan berbeda saling mengisi, menciptakan gelombang baru peluang dari pendidikan vokasi hingga energi hijau, yang ujungnya menyentuh kehidupan kita sehari-hari.

Penulis:salsa maelani
7 Januari 2026
Lampung & Jateng 'Berpelukan' Rp833 Miliar: Bukan Sekadar Angka, Tapi Pintu Menuju Ekonomi yang Lebih Tangguh

Bayangkan dua sahabat yang saling melengkapi. Satu ahli bertani dengan kopi dan hasil laut terbaik, yang lain jago mengolah dan memasarkannya ke pasar yang lebih luas. Kira-kira, sebesar apa peluang yang bisa mereka ciptakan bersama? Itulah analogi sederhana dari kolaborasi strategis Pemerintah Provinsi Lampung dan Jawa Tengah yang baru saja mencatatkan nilai transaksi mengagumkan: Rp833 miliar. Angka ini bukan sekadar deretan digit di atas kertas kesepakatan, melainkan sebuah komitmen nyata untuk membangun ekonomi yang tidak hanya tumbuh, tetapi juga berkelanjutan dan inklusif.

Yang menarik, kolaborasi ini menjangkau area yang sangat vital bagi masa depan. Mulai dari pendidikan vokasi yang menyiapkan tenaga kerja terampil, lompatan ke energi baru terbarukan untuk ketahanan energi, hingga pendalaman di sektor riil seperti pertanian, peternakan, dan kelautan. Kopi Lampung yang khas, buah-buahan segar, dan hasil perikanan berkualitas kini mendapat jalur distribusi dan pasar yang lebih lebar di Jawa Tengah, dan sebaliknya. Ini seperti membuka keran investasi dan inovasi bagi pelaku usaha lokal di kedua wilayah untuk saling memperkuat jaringan.

Menurut data Kementerian PPN/Bappenas, potensi ekonomi dari sinergi antarwilayah seperti ini bisa meningkatkan PDB regional hingga 15-20% dalam jangka menengah. Yang sering luput dari perhatian adalah efek multiplier-nya. Sebuah proyek energi terbarukan, misalnya, tidak hanya menciptakan lapangan kerja di sektor konstruksi, tetapi juga membuka peluang riset, maintenance, dan pengembangan teknologi turunan. Kerja sama pendidikan vokasi antara SMK di Lampung dan industri di Jateng bisa menjadi model yang mengurangi mismatch antara lulusan sekolah dengan kebutuhan dunia kerja. Opini saya, inilah inti dari pembangunan berkelanjutan: pertumbuhan yang memberikan manfaat berlapis, dari hulu ke hilir, dan dirasakan oleh banyak lapisan masyarakat.

Pada akhirnya, kolaborasi senilai ratusan miliar rupiah ini akan diuji oleh satu hal: seberapa besar dampaknya bagi kesejahteraan warga biasa. Apakah petani kopi di Lampung merasa penghasilannya lebih stabil? Apakah lulusan SMK di Jateng punya pilihan karir yang lebih baik? Jawabannya akan menentukan apakah ini sekadar proyek kerja sama, atau benar-benar menjadi fondasi ekonomi baru yang tangguh. Mari kita pantau bersama, karena kesuksesan Lampung dan Jawa Tengah hari ini, bisa menjadi peta jalan bagi provinsi-provinsi lain di Indonesia untuk saling berpegangan tangan, alih-alih berjalan sendiri-sendiri. Bukankah bersama kita lebih kuat?

Dipublikasikan: 7 Januari 2026, 07:07
Diperbarui: 21 Januari 2026, 12:33