musibah

Korsleting di Sarinah: Alarm Nyata untuk Keamanan Instalasi Publik di Jakarta

Kebakaran papan reklame Sarinah bukan sekadar insiden kecil. Ini adalah cermin kerentanan infrastruktur publik kita. Apa yang harus kita pelajari?

Penulis:adit
7 Januari 2026
Korsleting di Sarinah: Alarm Nyata untuk Keamanan Instalasi Publik di Jakarta

Malam Minggu yang Berasap di Jantung Jakarta

Bayangkan ini: Anda sedang menikmati akhir pekan di sekitar Thamrin, pusat denyut nadi ibu kota. Lampu neon dan papan reklame raksasa menyala terang, menjadi bagian dari pemandangan metropolitan yang sudah sangat biasa. Tiba-tiba, dari salah satu simbol ikonik itu, asap tebal mulai mengepul, diikuti lidah api yang mengancam. Itulah yang terjadi di Mall Sarinah pada Minggu malam lalu. Bukan drama di layar lebar, tapi kejadian nyata yang menghentak kesadaran kita: seberapa aman instalasi publik di sekeliling kita?

Insiden ini mungkin berakhir tanpa korban jiwa dan api berhasil dipadamkan dengan cepat. Tapi, jangan biarkan itu menidurkan kewaspadaan kita. Justru karena berakhir 'baik-baik saja', kita sering kali menganggapnya sekadar berita lalu. Padahal, di balik asap yang telah sirna itu, ada pelajaran penting yang menunggu untuk kita gali. Kebakaran papan reklame di Sarinah bukan cuma soal korsleting listrik; ini adalah alarm yang berbunyi nyaring tentang manajemen risiko di ruang publik kita.

Kronologi Singkat: Respons Cepat yang Patut Diapresiasi

Menurut laporan, api pertama kali terlihat menjilat papan reklame atau billboard di sisi luar gedung Sarinah. Dalam sekejap, malam yang tenang berubah menjadi momen genting. Yang menarik dan patut kita acungi jempol adalah respons yang diberikan. Petugas keamanan internal Sarinah tidak panik. Mereka langsung mengambil tindakan penanganan awal, sebuah langkah krusial yang mencegah api merambat ke bagian gedung utama yang tentu lebih padat dan kompleks.

Tim Damkar (Gulkarmat) DKI Jakarta pun bergerak cepat. Saat unit pemadam mereka tiba di lokasi, api sudah berhasil dikendalikan berkat upaya awal tadi. Proses pemadaman akhirnya bisa diselesaikan dengan efisien. Hasilnya sungguh patut disyukuri: nol korban jiwa, nol luka-luka. Operasional mall pun bisa kembali normal. Ini adalah skenario terbaik dari sebuah insiden kebakaran. Namun, keberhasilan penanganan darurat tidak boleh mengaburkan akar masalah yang menyebabkan insiden ini terjadi.

Dugaan Korsleting: Akar Masalah yang (Terlalu) Sering Terulang

Dugaan sementara penyebabnya adalah korsleting listrik pada instalasi papan reklame. Jika nanti penyelidikan resmi mengonfirmasi hal ini, maka ini adalah cerita lama yang berulang. Data dari Dinas Gulkarmat DKI Jakarta sendiri dalam beberapa tahun terakhir kerap menyebutkan bahwa korsleting listrik adalah salah satu penyebab utama kebakaran di wilayah perkotaan, baik di permukiman maupun bangunan komersial.

Di sinilah opini saya muncul: Kita sudah terlalu sering mendengar 'korsleting listrik' sebagai biang kerok. Ini seolah menjadi kambing hitam yang mudah. Padahal, di balik istilah teknis itu, ada rangkaian kelalaian manusiawi yang bisa dicegah. Mulai dari pemasangan instalasi yang asal-asalan, penggunaan material kabel yang tidak standar, kurangnya perawatan rutin, hingga beban listrik yang berlebihan pada satu titik. Papan reklame, dengan lampu-lampu dan sistem elektroniknya yang terus menyala 24/7, adalah beban konstan. Tanpa inspeksi dan perawatan berkala, ia adalah bom waktu.

Lebih Dari Sekadar Billboard: Implikasi untuk Ruang Publik Kita

Mari kita lihat lebih luas. Insiden di Sarinah ini hanyalah satu titik. Coba Anda perhatikan sekeliling Jakarta, atau kota besar lainnya di Indonesia. Berapa banyak papan reklame, neon box, dan instalasi pencahayaan luar ruangan yang menempel di gedung-gedung tinggi? Setiap instalasi itu adalah titik potensi risiko. Pertanyaannya: seberapa ketat pengawasan dan standar keamanannya?

Manajemen gedung seperti Sarinah tentu memiliki protokol. Tapi bagaimana dengan gedung-gedung lain? Apakah ada audit keamanan instalasi listrik luar ruangan yang wajib dan periodik? Ataukah baru bertindak ketika sudah terjadi insiden? Ini bukan hanya tanggung jawab pengelola gedung atau pemasang reklame. Pemerintah daerah, dalam hal ini Dinas Perizinan dan terkait, memiliki peran besar dalam menetapkan dan menegakkan regulasi yang ketat. Izin pemasangan harus dibarengi dengan kewajiban pemeriksaan rutin oleh pihak yang kompeten.

Refleksi Akhir Pekan: Keselamatan adalah Investasi, Bukan Biaya

Jadi, apa yang bisa kita ambil dari malam berasap di Sarinah ini? Pertama, apresiasi setinggi-tingginya untuk para penjaga keamanan dan petugas damkar yang bekerja cepat dan profesional. Mereka adalah garis depan yang menyelamatkan situasi. Kedua, dan ini yang utama, kita perlu mengubah pola pikir. Keselamatan dan pencegahan kebakaran harus dilihat sebagai investasi, bukan sebagai biaya yang memberatkan.

Melakukan pengecekan rutin, mengganti kabel yang sudah tua, memastikan instalasi sesuai standar—semua itu mungkin mengeluarkan uang di awal. Tapi bandingkan dengan kerugian yang bisa ditimbulkan oleh satu kejadian kebakaran: bukan hanya kerugian materi miliaran rupiah, tetapi yang lebih berharga adalah nyawa manusia dan trauma yang tidak ternilai.

Sebagai masyarakat, kita juga punya peran. Ke mana pun kita pergi, ke mall, gedung perkantoran, atau sekadar jalan-jalan, cobalah sedikit lebih sadar akan lingkungan. Perhatikan tanda darurat, lokasi alat pemadam, dan jalur evakuasi. Jika melihat sesuatu yang mencurigakan seperti kabel terbuka atau bau hangus, laporkan. Kewaspadaan kolektif adalah lapisan pengaman tambahan yang sangat kuat.

Penutup: Jangan Tunggu Asap Kedua Kali Baru Bergerak

Kebakaran di Sarinah telah padam. Asapnya telah lama hilang diterpa angin Jakarta. Tapi semoga 'alarm'-nya tidak ikut padam dalam benak kita. Peristiwa ini adalah pengingat yang sempurna—tepat sebelum kita masuk ke musim penghujan dimana risiko korsleting juga bisa meningkat akibat kelembaban.

Pertanyaan terakhir untuk kita renungkan bersama: Apakah kita akan menunggu sampai ada insiden serupa, atau bahkan lebih parah, di lokasi lain baru kemudian kita serius membenahi sistem pencegahan ini? Atau, kita memilih untuk belajar dari Sarinah dan mulai mendorong—baik sebagai pengelola bisnis, aparatur, atau masyarakat—standar keamanan yang lebih tinggi untuk ruang publik kita? Pilihannya ada di tangan kita. Karena keselamatan itu bukan soal keberuntungan, tapi hasil dari kesiapan dan komitmen yang tidak pernah kita relakan.

Mari kita jadikan insiden ini sebagai momentum. Cek instalasi listrik di rumah atau usaha Anda hari ini juga. Dan saat Anda melintasi Thamrin nanti, pandanglah gedung-gedung di sekitarnya dengan kesadaran baru. Kita semua ingin kota yang tidak hanya gemerlap, tetapi juga aman untuk ditinggali dan dikunjungi. Itu dimulai dari hal-hal kecil yang kita perhatikan, sebelum semuanya benar-benar terbakar.

Dipublikasikan: 7 Januari 2026, 16:54
Diperbarui: 7 Januari 2026, 16:54
Korsleting di Sarinah: Alarm Nyata untuk Keamanan Instalasi Publik di Jakarta | Kabarify