Kolong Manggarai Mencekam Lagi: Ketika Gas Air Mata Menjadi 'Solusi' Rutin di Ibu Kota
Suasana Jumat sore di Kolong Manggarai berubah dari hiruk-pikuk lalu lintas menjadi arena lempar batu dan ledakan petasan. Insiden tawuran ini bukan sekadar berita kriminal biasa, melainkan cermin dari masalah sosial yang terus mengakar di jantung Jakarta. Bagaimana kita bisa keluar dari siklus kekerasan yang sama berulang kali?
Bayangkan ini: Jumat sore, saat sebagian warga Jakarta bersiap untuk menikmati akhir pekan, kawasan Kolong Manggarai tiba-tiba berubah menjadi zona perang mini. Suara petasan menggantikan klakson mobil, batu-batu beterbangan menggantikan senyum ramah tetangga. Ini bukan adegan film, tapi realitas yang—sayangnya—terlalu sering kita dengar. Seperti rekaman yang diputar ulang, tawuran antar kelompok warga kembali pecah di lokasi yang sama, dengan skenario yang nyaris identik.
Menurut catatan independen dari Lembaga Kajian Konflik Perkotaan, kawasan Manggarai dan sekitarnya telah menjadi lokasi 7 insiden tawuran serius dalam 18 bulan terakhir. Yang menarik—atau lebih tepatnya mengkhawatirkan—adalah pola yang konsisten: sore hari, melibatkan pemuda dari lingkungan sekitar, dan selalu berakhir dengan intervensi aparat. Seolah ada jam biologis kekerasan yang terus berdetak di bawah permukaan kehidupan kota ini.
Pada insiden Jumat, 2 Januari lalu, puluhan orang terlibat dalam aksi saling lempar material bangunan dan meledakkan petasan. Suasana mencekam langsung menyebar, membuat warga yang sedang beraktivitas buru-buru mengunci diri di rumah dan pengendara mencari jalan alternatif. Kolong rel yang biasanya menjadi jalur penghubung vital tiba-tiba berubah menjadi zona terlarang.
Respons aparat pun datang dengan skenario yang bisa ditebak: personel kepolisian dan Brimob diterjunkan, dan ketika massa sulit dikendalikan, gas air mata menjadi pilihan. Setelah asap putih menyebar dan mata perih, situasi perlahan reda. Lalu lintas kembali normal, seolah-olah tidak ada yang terjadi. Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan secara resmi, tapi luka sosialnya mungkin lebih dalam dari yang terlihat.
Di sinilah letak paradoksnya: kita punya data yang menunjukkan Manggarai sebagai titik rawan konflik, kita tahu pola kejadiannya, kita bahkan bisa memprediksi kapan biasanya bentrokan terjadi—tapi solusi yang muncul selalu reaktif, bukan preventif. Gas air mata efektif membubarkan kerumunan, tapi tidak menyentuh akar masalah: kesenjangan ekonomi, persaingan antar kelompok muda, dan rasa kepemilikan wilayah yang sudah terpolarisasi.
Sebuah studi dari Universitas Indonesia tahun 2023 mengungkap fakta menarik: 68% pelaku tawuran di kawasan padat penduduk Jakarta berasal dari kelompok usia 16-24 tahun yang tidak bekerja atau bersekolah secara rutin. Mereka bukan 'preman' profesional, melainkan anak muda yang punya energi tapi tidak punya saluran positif. Ini bukan pembenaran, tapi penjelasan yang penting untuk dicermati.
Jadi, apa yang bisa kita pelajari dari insiden yang—jujur saja—sudah terlalu sering ini? Pertama, bahwa pendekatan keamanan saja tidak akan pernah cukup. Kedua, bahwa setiap kali gas air mata dilepaskan, itu sebenarnya tanda kegagalan kita dalam mencegah konflik sebelum meledak. Dan ketiga, bahwa warga yang setiap kali harus mengunci diri di rumah adalah korban paling diam dari seluruh drama ini.
Mungkin sudah waktunya kita bertanya: kapan terakhir kali ada program pemberdayaan pemuda yang benar-benar masif di kawasan Manggarai? Kapan terakhir kali dialog antar kelompok difasilitasi secara serius, bukan hanya ketika situasi sudah memanas? Kota ini butuh lebih dari sekadar aparat berseragam; butuh pendekatan komunitas yang konsisten, program kreatif untuk menyalurkan energi muda, dan—yang paling penting—komitmen bahwa kita tidak akan menerima tawuran sebagai 'bagian normal' dari kehidupan urban.
Lain kali Anda mendengar berita tawuran di Manggarai—dan sayangnya, mungkin akan ada lain kali—coba tanyakan pada diri sendiri: apakah kita sudah terlalu terbiasa dengan kekerasan hingga menganggapnya sebagai berita biasa? Perubahan dimulai dari penolakan untuk menerima yang tidak normal sebagai normal. Dan Jakarta, kota yang kita cintai ini, layak mendapatkan lebih dari sekadar siklus kekerasan dan gas air mata yang tak berujung.