Peristiwa

Ketika Sirine Kali Bekasi Menggema: Mengurai Makna Siaga 3 dan Dampaknya Bagi Warga

Sirine peringatan banjir di Kali Bekasi berbunyi, menandakan status Siaga 3. Apa artinya bagi kehidupan warga dan bagaimana kita harus menyikapinya? Simak analisis mendalamnya.

Penulis:Ahmad Alif Badawi
29 Januari 2026
Ketika Sirine Kali Bekasi Menggema: Mengurai Makna Siaga 3 dan Dampaknya Bagi Warga

Ada suara yang tak pernah ingin didengar warga Bekasi di musim hujan—dentangan sirine peringatan banjir yang memecah kesunyian. Pagi ini, suara itu kembali menggema di sepanjang Kali Bekasi, bukan sebagai alarm biasa, melainkan sebagai pengingat nyata bahwa alam sedang berbicara dengan bahasa debit air yang meningkat. Bagi yang tinggal puluhan tahun di sini, setiap bunyi sirine seperti membuka memori kolektif tentang genangan, evakuasi, dan ketidakpastian. Tapi kali ini, ada yang berbeda: status resmi Siaga 3 yang ditetapkan pemerintah bukan sekadar formalitas—ini adalah babak baru dalam cerita adaptasi kota terhadap perubahan iklim.

Jika kita melihat lebih dalam, penetapan Siaga 3 di Bekasi sebenarnya adalah cerita tentang dua hal yang bertemu: siklus alamiah musim hujan dan tekanan urbanisasi yang masif. Data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa curah hujan di wilayah hulu Bekasi dan Bogor dalam 72 jam terakhir mencapai 150-200 mm, angka yang cukup untuk membuat sistem drainase kota bekerja ekstra keras. Namun, yang lebih mengkhawatirkan adalah temuan penelitian dari Institut Teknologi Bandung tahun 2023: kapasitas tampung Kali Bekasi telah menyusut 23% dalam dekade terakhir akibat sedimentasi dan penyempitan aliran. Artinya, air yang sama volume-nya sekarang punya risiko luap yang lebih besar.

Dibalik Status Siaga: Bukan Hanya Soal Ketinggian Air

Banyak orang mengira Siaga 3 hanya tentang angka di pengukur debit air. Padahal, status ini adalah sistem kompleks yang melibatkan aspek sosial, infrastruktur, dan respons darurat. Di Bekasi, Siaga 3 berarti 15 titik pemantauan beroperasi 24 jam, 200 personel gabungan disiagakan, dan 12 posko pengungsian siap diaktivasi. Yang menarik, sistem peringatan dini ini sekarang sudah terintegrasi dengan aplikasi Bekasi Siaga yang diakses 45.000 warga. Namun, teknologi saja tak cukup—kearifan lokal warga yang mengenal pola air di lingkungannya tetap menjadi pertahanan pertama.

Dampak riil Siaga 3 mulai terasa di kehidupan sehari-hari. Ibu Siti, pedagang sayur di bantaran kali, sudah memindahkan barang dagangannya ke tempat yang lebih tinggi. "Ini sudah keempat kalinya tahun ini sirine berbunyi," ujarnya sambil menata kembali kangkung dan bayam. "Tapi yang namanya Siaga 3, biasanya dua-tiga hari lagi kalau hujan terus, air sudah masuk pelan-pelan ke rumah." Cerita Ibu Siti mewakili ribuan warga yang hidup dalam ritme antara normalitas dan kewaspadaan.

Infrastruktur vs Realitas: Tantangan yang Tak Pernah Usai

Pemerintah Kota Bekasi memang telah mengalokasikan Rp 185 miliar untuk normalisasi sungai dan pembuatan tanggul tahun ini. Namun, dosen teknik lingkungan Universitas Bekasi, Dr. Ahmad Fauzi, memberikan perspektif menarik: "Normalisasi fisik saja seperti memberi obat penurun panas tanpa menyembuhkan infeksinya. Masalah sebenarnya ada di hulu—perubahan tata guna lahan, deforestasi, dan berkurangnya daerah resapan air." Data yang ia sajikan menunjukkan bahwa 40% daerah resapan di hulu Kali Bekasi telah berubah menjadi permukiman dan industri dalam 15 tahun terakhir.

Fakta unik lain: sistem peringatan dini Bekasi sebenarnya termasuk yang paling maju di Jawa Barat. Sirine yang berbunyi hari ini terhubung dengan sensor ultrasonik yang dipasang di 8 titik strategis, mengirim data real-time ke pusat kendali. Sistem ini bisa memprediksi waktu tiba banjir 3-6 jam lebih awal dengan akurasi 85%. Tapi teknologi canggih ini harus berhadapan dengan realitas sosial—masih ada warga yang menganggap sirine sebagai "bunyi biasa" karena terlalu sering terdengar.

Dari Kewaspadaan ke Aksi Kolektif

Status Siaga 3 seharusnya menjadi momentum refleksi, bukan hanya antisipasi sesaat. Komunitas Peduli Kali Bekasi, misalnya, telah menginisiasi program Satu Rumah Satu Biopori yang menargetkan pembuatan 10.000 lubang resapan di permukiman padat. Hasilnya? Di kelurahan yang menerapkan program ini, genangan berkurang 40% meski curah hujan sama. Ini membuktikan bahwa solusi banjir tidak selalu harus mahal—kadang cukup dengan mengembalikan fungsi alamiah tanah sebagai penyerap air.

Yang patut dicatat, banjir di Bekasi memiliki pola unik: bukan hanya datang dari luapan kali, tapi juga dari backwater effect—air dari Jakarta yang mengalir balik saat pasang laut tinggi. Inilah mengapa koordinasi antar wilayah menjadi krusial. Siaga 3 di Bekasi seharusnya juga menjadi alarm bagi wilayah sekitarnya untuk bersiap.

Menyiapkan Mental di Tengah Ketidakpastian

Bagi keluarga muda seperti Andi dan Rina yang baru pindah ke Bekasi tahun lalu, sirine ini adalah pengalaman pertama. "Kami dapat broadcast WhatsApp dari RT tentang Siaga 3," cerita Andi. "Langsung kami packing dokumen penting dan bikin tas siaga. Tapi yang paling susah itu menyiapkan mental anak-anak, menjelaskan kenapa harus siap-siap mengungsi tanpa membuat mereka panik." Kisah ini mengingatkan kita bahwa dampak banjir tidak hanya material, tetapi juga psikologis—terutama bagi mereka yang belum terbiasa dengan ritme hidup di daerah rawan.

Pelaku usaha juga merasakan dampaknya. Pak Budi, pemilik bengkel di Jalan Cut Meutia, sudah memasang papan "Bengkel Siap Pindah" sejak status Siaga 2. "Kerugian sekali banjir bisa 20-30 juta," keluhnya. "Tapi lebih baik siap-siap daripada menunggu air masuk. Pengalaman tahun 2020 mengajarkan itu." Respons proaktif seperti inilah yang membuat kerugian ekonomi bisa diminimalisir.

Penutup: Sirine sebagai Pengingat Peradaban

Sirine yang berbunyi hari ini sebenarnya adalah cermin bagaimana kota modern bernegosiasi dengan alam. Setiap dentangannya bukan hanya peringatan tentang air yang naik, tetapi pertanyaan tentang kesiapan kita sebagai masyarakat urban. Apakah kita hanya akan menjadi penonton yang pasif setiap musim hujan, atau mulai mengambil peran aktif dalam mengelola lingkungan?

Mungkin inilah pelajaran terbesar dari Siaga 3: banjir bukan lagi natural disaster murni, melainkan human-induced disaster yang diperparah oleh pilihan pembangunan kita. Sirine Kali Bekasi mengingatkan bahwa setiap tetes hujan yang turun di hulu, setiap meter persegi beton yang kita tambah, dan setiap pohon yang kita tebang, akhirnya akan berbicara melalui debit air di kali. Pertanyaannya sekarang: setelah sirine berhenti berbunyi, apakah kewaspadaan kita juga ikut berhenti? Atau kita mulai mengubah cara berinteraksi dengan sungai yang bukan sebagai musuh yang harus dikerangkeng, tetapi sebagai tetangga yang perlu dipahami ritmenya? Jawabannya akan menentukan, apakah tahun depan kita hanya akan mendengar sirine yang sama, atau mulai mendengar cerita baru tentang kota yang lebih resilien.

Dipublikasikan: 29 Januari 2026, 05:31
Diperbarui: 28 Februari 2026, 08:00
Ketika Sirine Kali Bekasi Menggema: Mengurai Makna Siaga 3 dan Dampaknya Bagi Warga | Kabarify