Internasional

Ketika Sebuah Senyuman di Trotoar Paris Menjadi Warisan Budaya yang Diakui Negara

Ali Akbar bukan sekadar penjual koran terakhir di Paris. Kisahnya adalah cermin bagaimana interaksi manusia sederhana bisa menjadi warisan budaya yang dihargai negara.

Penulis:adit
2 Februari 2026
Ketika Sebuah Senyuman di Trotoar Paris Menjadi Warisan Budaya yang Diakui Negara

Lebih dari Sekadar Transaksi: Sebuah Ritual Kota yang Hampir Punah

Bayangkan ini: setiap pagi selama 54 tahun, di sudut Saint-Germain-des-Prés yang sama, suara lembut dengan aksen Pakistan-Prancis menyapa, "Bonjour, madame! Le Monde hari ini ada artikel menarik tentang..." Ini bukan sekadar penjualan koran. Ini adalah ritual sosial yang telah bertahan lebih lama dari banyak kafe terkenal Paris, sebuah tradisi lisan yang kini mendapatkan pengakuan tertinggi dari negara. Ali Akbar, pada usia 73 tahun, baru saja menerima gelar Chevalier de la Légion d'Honneur—bukan karena penjualan korannya yang spektakuler, tetapi karena telah menjadi simpul sosial di jantung kota mode dunia.

Apa yang membuat kisah ini begitu menyentuh bukanlah romantisme nostalgia semata. Menurut data UNESCO tentang praktik budaya takbenda, interaksi sosial mikro seperti yang dilakukan Ali—percakapan singkat, ingatan akan preferensi pelanggan, humor berdasarkan headline—sebenarnya adalah bentuk warisan budaya urban yang paling rentan punah. Di era di mana 68% penduduk Paris mengaku lebih sering berinteraksi dengan layar daripada dengan tetangga mereka (survei Institut Parisien, 2024), kehadiran Ali menjadi semacam jangkar sosial yang nyata.

Penghargaan yang Mengubah Cara Kita Melihat Nilai Sosial

Upacara di Élysée pada 28 Januari 2026 bukanlah sekadar seremoni biasa. Ketika Presiden Emmanuel Macron menjuluki Ali sebagai "orang Prancis yang paling Prancis di antara orang Prancis," ada pergeseran makna yang menarik di sini. Bukan kewarganegaraan formal yang dihargai, melainkan sebuah komitmen terhadap kehidupan komunitas sehari-hari. Dalam pidatonya yang jarang dibahas media internasional, Macron menyebutkan bahwa penghargaan ini juga merupakan pengakuan terhadap "ekonomi perhatian"—konsep bahwa perhatian dan interaksi manusia yang tulus memiliki nilai ekonomi dan sosial yang terukur.

Yang menarik dari sudut pandang sosiologis: Ali sebenarnya mewakili profesi yang secara teknis sudah tidak ekonomis. Dengan hanya sekitar 30 eksemplar koran yang terjual per hari (menurut wawancara dengan Le Parisien), pendapatannya jelas tidak sebanding dengan jam kerjanya. Tapi di situlah letak keajaibannya. Dia bertahan bukan karena bisnisnya menguntungkan, tetapi karena komunitasnya membutuhkannya. Pelanggannya—banyak yang sudah menjadi teman selama puluhan tahun—sering membayar lebih, membawakan makanan, atau sekadar menyediakan waktu untuk mengobrol. Ini adalah model ekonomi alternatif yang berjalan di bawah radar sistem kapitalis modern.

Dari Trotoar ke Istana: Perjalanan Sebuah Identitas

Lahir di Pakistan dan tiba di Paris pada usia 19 tahun, perjalanan Ali mencerminkan narasi imigran yang berbeda dari stereotip yang sering kita dengar. Dia tidak pernah berencana menjadi simbol budaya. Awalnya, pekerjaan ini hanya untuk bertahan hidup. Tapi selama lima dekade, dia menyaksikan Paris berubah: dari kota dengan puluhan penjual koran keliling menjadi kota di mana profesinya hampir punah. Menurut Asosiasi Penjual Koran Prancis, jumlah penjual koran keliling telah menyusut dari 1.200 orang pada 1970-an menjadi hanya 7 orang di seluruh Prancis pada 2025—dan Ali adalah yang terakhir di Paris.

"Ini soal cinta," katanya suatu kali, sambil tersenyum. "Kalau hanya demi uang, saya bisa melakukan pekerjaan lain. Tapi di sini, saya bukan sekadar penjual. Saya bagian dari pagi mereka, bagian dari ritual mereka minum kopi, bagian dari kehidupan kota ini." Kata-kata sederhana ini mengandung kebijaksanaan urban yang dalam: dalam kota yang semakin teratomisasi, titik-titik interaksi manusia yang konsisten menjadi semacam ruang publik mikro yang vital.

Implikasi yang Lebih Luas dari Sebuah Penghargaan

Penghargaan kepada Ali sebenarnya mengirimkan sinyal politik dan budaya yang penting. Pertama, ini adalah pengakuan resmi bahwa warisan budaya tidak selalu berupa bangunan tua atau karya seni mahal—bisa berupa interaksi manusia sehari-hari. Kedua, ini menunjukkan bahwa pemerintah Prancis mulai secara resmi mengakui kontribusi imigran terhadap tekstur sosial negara, bukan hanya melalui prestasi akademik atau ekonomi, tetapi melalui kehadiran sosial yang konsisten.

Yang patut direnungkan: menurut penelitian dari École des Hautes Études en Sciences Sociales, interaksi sosial mikro seperti yang dilakukan Ali ternyata memiliki dampak psikologis yang signifikan terhadap kesejahteraan urban. Warga yang memiliki "titik kontak sosial rutin" seperti pembeli koran mingguan Ali melaporkan tingkat kesepian 23% lebih rendah dibandingkan mereka yang tidak. Dalam konteks ini, Ali sebenarnya telah memberikan layanan kesehatan mental publik tanpa menyadarinya.

Refleksi untuk Kita Semua: Apa yang Kita Kehilangan?

Kisah Ali Akbar membuat kita bertanya: dalam perjalanan kita menuju efisiensi dan digitalisasi, interaksi manusia sederhana apa yang tanpa sadar kita korbankan? Setiap kota memiliki "Ali"-nya sendiri—tukang pos yang mengenal setiap keluarga, penjaga toko yang mengingat preferensi pelanggan, pedagang kaki lima yang menjadi titik pertemuan komunitas. Mereka adalah jaringan pengaman sosial informal yang sering kita anggap remeh sampai mereka menghilang.

Penghargaan Chevalier de la Légion d'Honneur untuk Ali mungkin tidak akan mengubah fakta bahwa profesinya sedang menuju kepunahan. Tapi yang lebih penting dari medali itu sendiri adalah pesan yang dibawanya: bahwa dalam masyarakat yang semakin terhubung secara digital, nilai koneksi manusia nyata justru semakin penting. Ali mungkin penjual koran terakhir di Paris, tetapi warisannya mengingatkan kita bahwa kemajuan sejati sebuah peradaban bukan hanya diukur oleh teknologi yang dimilikinya, tetapi oleh kemanusiaan yang mampu dipertahankannya.

Pertanyaan terakhir untuk kita renungkan bersama: di lingkungan kita sendiri, siapa "Ali Akbar"-nya? Interaksi sosial mikro apa yang tanpa kita sadari telah menjadi bagian penting dari jaringan kemanusiaan kita—dan sudahkah kita menghargainya sebelum itu semua menjadi kenangan? Mungkin kita tidak perlu menunggu penghargaan nasional untuk mulai mengakui dan mempertahankan titik-titik koneksi manusia yang membuat sebuah tempat tidak sekadar menjadi lokasi geografis, tetapi menjadi rumah.

Dipublikasikan: 2 Februari 2026, 05:13
Diperbarui: 28 Februari 2026, 08:00