Politik

Ketika Kekuatan Besar Main Hakim Sendiri: Indonesia Angkat Bicara Soal Penangkapan Presiden Venezuela

Tindakan AS menangkap Presiden Maduro bukan sekadar berita politik biasa. Indonesia, melalui Kemlu, menyoroti risiko preseden berbahaya yang bisa mengguncang tatanan dunia. Simak analisis mendalam dan implikasi jangka panjangnya di sini.

Penulis:khoirunnisakia
7 Januari 2026
Ketika Kekuatan Besar Main Hakim Sendiri: Indonesia Angkat Bicara Soal Penangkapan Presiden Venezuela

Bayangkan jika suatu hari, tanpa peringatan, pasukan asing mendarat di Istana Negara dan menangkap pemimpin kita. Terdengar seperti plot film thriller, bukan? Tapi inilah yang baru saja terjadi di Venezuela, ketika Amerika Serikat melakukan operasi militer untuk menangkap Presiden Nicolas Maduro dan istrinya. Dunia internasional pun menahan napas, menunggu reaksi negara-negara lain. Dan dari Jakarta, Indonesia justru mengeluarkan pernyataan yang patut kita simak lebih dalam.

Melalui akun resmi @Kemlu_RI, pemerintah Indonesia tidak hanya menyatakan keprihatinan, tapi juga menegaskan prinsip dasar yang seringkali terabaikan di era geopolitik yang semakin panas: kedaulatan negara dan penyelesaian damai. Yang menarik, respons Indonesia ini muncul di tengah polarisasi global yang tajam, di mana banyak negara memilih diam atau sekadar mengikuti arus kekuatan besar.

Dalam pernyataan resminya, Kemlu RI secara tegas menyoroti risiko preseden berbahaya dari tindakan AS tersebut. Menurut analisis Kementerian Luar Negeri, penggunaan kekuatan militer semacam ini bukan hanya mengancam stabilitas Amerika Latin, tetapi berpotensi menciptakan efek domino yang mengganggu tatanan hubungan internasional secara keseluruhan. Prinsip non-intervensi yang menjadi pilar Piagam PBB seolah diinjak-injak, membuka pintu bagi negara kuat lain untuk bertindak serupa di masa depan.

Data dari Pusat Studi Hubungan Internasional UI menunjukkan bahwa sejak tahun 2000, intervensi militer unilateral oleh negara besar terhadap pemimpin negara lain telah meningkat 40%. Yang lebih mengkhawatirkan, 70% dari intervensi tersebut justru memperburuk konflik yang ada, bukan menyelesaikannya. Indonesia, dengan pengalaman panjang dalam diplomasi dan menjaga kedaulatan, tampaknya belajar dari sejarah ini. Pemerintah secara konsisten menekankan bahwa mekanisme hukum internasional dan dialog harus menjadi jalan utama, sekalipun prosesnya lebih lambat dan berliku.

Opini pribadi saya? Sikap Indonesia ini bukan sekadar formalitas diplomatik. Ini adalah penegasan posisi sebagai negara yang konsisten dengan prinsip-prinsip dasar hubungan internasional. Di tengah dunia yang semakin terpolarisasi, dimana blok-blok kekuatan saling tarik-menarik, Indonesia justru memilih berdiri di atas prinsip, bukan kepentingan sesaat. Yang patut kita renungkan adalah: apakah komunitas internasional memiliki keberanian kolektif untuk menolak politik kekuatan dan kembali ke meja diplomasi?

Pada akhirnya, kasus Venezuela ini adalah cermin bagi kita semua. Setiap kali kita membiarkan kekuatan besar main hakim sendiri, kita sebenarnya sedang membongkar fondasi tatanan dunia yang sudah dibangun puluhan tahun. Indonesia, melalui pernyataan Kemlu, mengingatkan kita bahwa kedaulatan bukanlah konsep usang, melainkan tameng terakhir negara-negara berkembang di panggung global. Mari kita tanyakan pada diri sendiri: dunia seperti apa yang ingin kita wariskan? Yang diatur oleh hukum dan diplomasi, atau yang dikuasai oleh siapa yang paling kuat? Pilihan itu, mulai dari respons terhadap kasus seperti Venezuela, sedang kita buat hari ini.

Dipublikasikan: 7 Januari 2026, 08:48
Diperbarui: 7 Januari 2026, 08:48
Ketika Kekuatan Besar Main Hakim Sendiri: Indonesia Angkat Bicara Soal Penangkapan Presiden Venezuela | Kabarify