Kriminal

Ketika Kejahatan Berevolusi: Bagaimana Sistem Hukum Bisa Tetap Relevan di Era Digital?

Evolusi kejahatan di era digital menuntut transformasi sistem penegakan hukum. Artikel ini mengupas tantangan dan strategi adaptasi yang diperlukan untuk tetap efektif.

Penulis:Sanders Mictheel Ruung
28 Januari 2026
Ketika Kejahatan Berevolusi: Bagaimana Sistem Hukum Bisa Tetap Relevan di Era Digital?

Bayangkan Ini: Kejahatan yang Tak Lagi Mengenal Batas

Pernahkah Anda membayangkan seorang penjahat yang bisa melakukan aksinya dari balik layar komputer ribuan kilometer jauhnya, sementara korban berada di kota Anda? Atau modus penipuan yang berubah lebih cepat daripada aplikasi di ponsel Anda diperbarui? Ini bukan lagi skenario film fiksi ilmiah. Ini adalah realitas yang dihadapi sistem penegakan hukum kita hari ini. Dunia bergerak dengan kecepatan cahaya—teknologi berkembang, pola interaksi berubah, dan sayangnya, kejahatan pun ikut berevolusi dengan cara yang seringkali membuat kita tercengang.

Di tengah arus perubahan ini, muncul pertanyaan mendasar yang jarang kita ajukan dengan lantang: Apakah sistem penegakan hukum kita, yang seringkali dibangun di atas fondasi dan prosedur lama, masih cukup tangguh untuk menghadapi bentuk-bentuk kriminalitas baru? Ini bukan sekadar soal menangkap lebih banyak pelaku, tetapi tentang apakah kita memiliki kerangka yang tepat untuk bahkan mendefinisikan, melacak, dan membuktikan kejahatan-kejahatan modern. Artikel ini akan menyelami kompleksitas tantangan ini dan melihat celah-celah di mana adaptasi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk bertahan.

Dari Gangster Jalanan Hingga Hacker Siber: Pergeseran Medan Tempur

Dulu, gambaran penjahat seringkali terikat pada lokasi fisik: preman pasar, pencopet di terminal, atau perampok bank. Medan tempurnya jelas. Hari ini, medan itu telah meluas menjadi ruang siber yang tak terbatas. Kejahatan finansial seperti penipuan investasi online, pemerasan ransomware, atau pencucian uang melalui cryptocurrency terjadi dalam hitungan detik dan melintasi banyak yurisdiksi hukum. Sumber daya yang dibutuhkan pun berbeda. Bukan lagi kekuatan fisik atau senjata api, tetapi keahlian coding, pemahaman algoritma blockchain, dan kemampuan analisis data raksasa (big data).

Di sinilah letak paradoksnya. Sementara penjahat dengan cepat mengadopsi teknologi mutakhir, banyak lembaga penegak hukum masih bergumul dengan anggaran terbatas, sistem TI yang ketinggalan zaman, dan—yang paling krusial—kesenjangan keterampilan (skills gap) yang lebar. Bagaimana mungkin tim penyidik yang terbiasa dengan dokumen fisik dan visum et repertum tiba-tiba harus menganalisis log server, metadata, atau jejak digital yang tak kasat mata? Tantangan ini diperparah oleh sifat kejahatan siber yang seringkali bersifat borderless. Sebuah serangan bisa berasal dari server di negara A, dikendalikan oleh pelaku di negara B, dan menargetkan korban di negara C. Prosedur hukum dan kerja sama internasional yang lambat dan berbelit kerap menjadi tembok penghalang yang nyata.

Lebih Dari Sekadar Teknologi: Membangun Kecerdasan Kolaboratif

Solusi yang sering diumbar adalah: "Berikan mereka teknologi canggih!" Memang, pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) untuk analisis pola kejahatan, penggunaan data prediktif, dan platform digital untuk koordinasi adalah langkah vital. Namun, saya berpendapat bahwa teknologi hanyalah alat. Jiwa dari transformasi ini haruslah kolaborasi ekosistem yang jauh lebih dalam dan luas.

Pertama, kolaborasi harus terjadi antar-lembaga di dalam negeri. Polisi, Kejaksaan, PPATK (Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan), OJK, dan BSSN (Badan Siber dan Sandi Negara) tidak bisa lagi bekerja dalam sekat-sekat kaku. Mereka perlu berbagi data dan intelijen secara real-time melalui platform terintegrasi yang aman. Kedua, kemitraan dengan pihak swasta—khususnya perusahaan teknologi, perbankan, dan telekomunikasi—menjadi kunci. Mereka adalah gatekeeper yang memiliki data dan pemahaman teknis pertama tentang anomali dan potensi kejahatan di platform mereka. Skema pelaporan dan respons insiden bersama perlu dibangun.

Yang menarik dan sering terabaikan adalah peran komunitas akademik dan peneliti siber. Universitas dan lab riset bisa menjadi mitra strategis untuk pelatihan, riset modus operandi baru, dan pengembangan alat digital custom untuk kepentingan penegakan hukum. Ini adalah sumber daya kecerdasan yang belum dimanfaatkan secara optimal.

Masyarakat: Dari Pihak yang Dilindungi Menjadi Mitra Aktif

Opini saya yang kuat adalah: era di mana masyarakat hanya sebagai objek perlindungan yang pasif sudah usai. Dalam menghadapi kejahatan modern, terutama yang bersentuhan langsung dengan keseharian seperti scam online atau ujaran kebencian, masyarakat harus dilihat sebagai jaringan sensorik pertama (first sensory network) yang paling luas. Literasi digital dan hukum menjadi senjata utama. Kampanye tidak bisa lagi sekadar "hati-hati penipuan", tetapi harus mendidik tentang cara mengenali phishing, pentingnya verifikasi dua faktor, dan mekanisme pelaporan yang mudah diakses.

Contoh unik yang bisa dikembangkan adalah program "Digital Neighborhood Watch"—adaptasi dari sistem ronda modern. Dalam sebuah kelompok komunitas online (seperti grup RT/RW atau kompleks perumahan), anggota bisa dilatih untuk saling mengingatkan tentang modus penipuan terbaru yang beredar dan melaporkan konten atau akun mencurigakan melalui kanal yang telah disediakan aparat. Ini membangun ketahanan dari tingkat paling dasar.

Menutup dengan Refleksi: Hukum yang Hidup dan Bernafas

Pada akhirnya, menghadapi perubahan kriminal adalah ujian terbesar bagi prinsip bahwa hukum harus hidup dan bergerak mengikuti dinamika masyarakat. Bukan berarti hukum menjadi plin-plan, tetapi ia harus memiliki kelenturan interpretatif dan prosedural untuk menjangkau realitas baru. Regulasi seperti UU ITE dan perlindungan data pribadi adalah contoh upaya mengejar ketertinggalan, tetapi implementasi dan penegakannya masih perlu banyak penyempurnaan.

Kita sedang berada di persimpangan. Jalan satu arah mengarah pada sistem yang kaku, terlambat merespons, dan semakin tidak dipercaya. Jalan lain—yang lebih berliku tetapi perlu—adalah jalan transformasi menuju penegakan hukum yang proaktif, cerdas, dan benar-benar kolaboratif. Ini bukan hanya tugas polisi atau jaksa. Ini adalah tanggung jawab kolektif kita semua: legislator, eksekutif, pelaku industri, akademisi, dan setiap warga negara yang melek digital.

Jadi, mari kita mulai dari pertanyaan sederhana: Dalam keseharian kita yang semakin digital, sudah sejauh mana kita membekali diri bukan hanya untuk terhindar dari kejahatan, tetapi juga untuk menjadi bagian dari solusi? Mungkin, jawaban atas pertanyaan itulah yang akan menentukan apakah kita hanya akan menjadi korban evolusi kejahatan, atau justru menjadi arsitek dari sistem keamanan baru yang lebih tangguh.

Dipublikasikan: 28 Januari 2026, 05:33
Diperbarui: 28 Februari 2026, 12:00
Ketika Kejahatan Berevolusi: Bagaimana Sistem Hukum Bisa Tetap Relevan di Era Digital? | Kabarify