Internasional

Ketika Kedaulatan Negara Diinjak: Penangkapan Maduro oleh AS dan Dunia yang Bergetar

Operasi militer AS yang menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro bukan sekadar berita politik biasa. Ini adalah gempa bumi geopolitik yang menggetarkan fondasi hukum internasional dan membuka kotak Pandora yang berbahaya. Mari kita selami dampak riil di balik headline yang menggemparkan itu.

Penulis:Ahmad Alif Badawi
7 Januari 2026
Ketika Kedaulatan Negara Diinjak: Penangkapan Maduro oleh AS dan Dunia yang Bergetar

Bayangkan ini: di tengah malam yang sunyi di ibu kota sebuah negara berdaulat, pasukan asing tiba-tiba menerobos masuk, melumpuhkan pertahanan, dan membawa kabur kepala negaranya. Bukan plot film aksi Hollywood, tapi inilah yang dikabarkan terjadi di Caracas, Venezuela, pada 3 Januari 2026. Amerika Serikat, dengan dalih penegakan hukum, dikabarkan telah menangkap Presiden Nicolás Maduro dan istrinya, Cilia Flores, dalam sebuah operasi militer yang dramatis. Dunia pun terbelah—antara yang melihatnya sebagai keadilan yang terlambat, dan yang mengutuknya sebagai agresi yang melanggar semua aturan main peradaban bangsa-bangsa.

Menurut laporan, pasukan khusus AS beraksi cepat di Caracas, menetralkan keamanan setempat sebelum menerbangkan pasangan presiden itu ke New York. Klaim AS tentang tuduhan kriminal terhadap Maduro langsung tenggelam oleh gelombang pertanyaan yang lebih mendasar: Atas hak apa sebuah negara bisa bertindak sebagai polisi dunia, menginvasi kedaulatan negara lain? Inilah yang membuat peristiwa ini bukan sekadar krisis bilateral, tapi sebuah ujian nyata bagi tatanan internasional yang kita kenal selama ini.

Dampak Politik dan Kedaulatan: Retaknya Fondasi Hubungan Antarnegara

Reaksi dunia internasional berlangsung cepat dan keras. Rusia, China, dan Iran tidak hanya mengkritik, tapi menggunakan kata-kata yang sangat tajam seperti “terorisme negara” dan “agresi unilateral”. Ini bukan retorika biasa. Ini adalah sinyal bahwa kepercayaan pada prinsip-prinsip dasar kedaulatan dan non-intervensi—pilar yang menopang perdamaian pasca-Perang Dunia II—sedang retak. Di Venezuela sendiri, Mahkamah Agung bergerak cepat menunjuk Wakil Presiden Delcy Rodríguez sebagai pemimpin sementara, sebuah upaya untuk menunjukkan bahwa negara itu masih berdiri meski kepalanya ‘diculik’. Namun, pertanyaannya, seberapa legitimasi pemerintahan yang lahir dari trauma semacam ini?

Reaksi Global: Sebuah Presiden yang Berbahaya Tercipta

Kekhawatiran terbesar datang dari para pengamat hukum internasional dan organisasi multilateral. Mereka memperingatkan bahwa tindakan AS ini menciptakan preseden yang sangat berbahaya. Bayangkan jika mulai besok, setiap negara dengan kekuatan militer unggul merasa berhak menyerbu dan menangkap pemimpin negara lain yang dianggap ‘bersalah’ menurut hukum mereka sendiri. Dunia akan kembali ke era ‘hukum rimba’, di mana kekuatan fisik, bukan hukum dan diplomasi, yang menjadi penentu. Analisis dari International Crisis Group menunjukkan bahwa intervensi unilateral semacam ini meningkatkan risiko konflik regional di Amerika Latin hingga 70%, karena memicu perlombaan senjata dan aliansi balasan.

Pernyataan AS dan Dilema Hukum: Di Mana Batasnya?

Pemerintah AS bersikukuh bahwa ini murni masalah penegakan hukum terhadap kejahatan berat. Namun, banyak ahli hukum internasional, termasuk profesor dari Harvard Law School, menyoroti kelemahan fatal argumen ini: tidak ada mandat dari PBB atau pengadilan internasional yang mengesahkan operasi militer lintas batas negara untuk penangkapan seorang kepala negara yang sedang menjabat. Ini adalah wilayah abu-abu yang berbahaya. Jika AS bisa melakukannya kepada Maduro hari ini, apa yang mencegah negara lain melakukan hal serupa kepada pemimpin yang tidak mereka sukai besok? Di sinilah letak paradoksnya: upaya ‘menegakkan keadilan’ justru berpotensi melahirkan ketidakadilan dan ketidakstabilan yang jauh lebih besar.

Di balik semua analisis politik dan hukum yang rumit, ada satu pertanyaan sederhana yang menggelitik: Apakah tujuan menghukum satu orang sebanding dengan risiko mengobrak-abrik seluruh tatanan dunia? Penangkapan Maduro mungkin terasa seperti kemenangan cepat bagi sebagian pihak, tetapi konsekuensi jangka panjangnya bisa berupa dunia yang lebih tidak aman, penuh kecurigaan, dan dimana hukum yang kuat hanya berlaku bagi yang lemah. Sejarah mencatat, intervensi unilateral seringkali melahirkan kekacauan yang lebih panjang daripada masalah yang ingin dipecahkan, seperti yang kita lihat di beberapa belahan dunia lainnya.

Pada akhirnya, peristiwa ini mengajak kita semua untuk berefleksi. Dalam dunia yang semakin terhubung namun penuh ketegangan, diplomasi dan multilateralisme mungkin terlihat lambat dan berbelit, tetapi itulah satu-satunya jalan beradab untuk menyelesaikan perselisihan antar bangsa. Ketika kita membiarkan satu negara mengambil alih peran hakim, juri, dan algojo, kita semua—tanpa terkecuali—kehilangan jaminan bahwa kedaulatan dan keamanan kita akan dihormati esok hari. Mari kita renungkan: dunia seperti apa yang benar-benar kita inginkan untuk diwariskan kepada generasi mendatang?

Dipublikasikan: 7 Januari 2026, 06:01
Diperbarui: 7 Januari 2026, 06:01
Ketika Kedaulatan Negara Diinjak: Penangkapan Maduro oleh AS dan Dunia yang Bergetar | Kabarify