musibah

Ketika Buku dan Bangku Terendam: Kisah Sumatra yang Bangkit dari Banjir

Lebih dari sekadar angka dan laporan kerusakan, inilah cerita tentang ribuan sekolah yang berjuang kembali berdiri setelah diterjang banjir, dan semangat belajar yang tak pernah benar-benar padam meski air masih menggenang.

Penulis:khoirunnisakia
7 Januari 2026
Ketika Buku dan Bangku Terendam: Kisah Sumatra yang Bangkit dari Banjir

Bayangkan ruang kelas yang biasanya riuh dengan tawa dan diskusi, kini sunyi, lantainya masih basah, dan dindingnya penuh coretan lumpur. Itulah pemandangan yang harus dihadapi ribuan guru dan siswa di Sumatra beberapa pekan terakhir. Bukan hanya rumah yang terendam, tapi juga masa depan—yang dalam bentuk bangku sekolah, buku pelajaran, dan papan tulis—ikut tersapu oleh derasnya air. Musibah banjir dan longsor ini meninggalkan pertanyaan besar: bagaimana caranya belajar kembali ketika infrastruktur pendidikan ikut menjadi korban?

Data dari Kementerian Pendidikan mengungkapkan, lebih dari 3.000 sekolah di berbagai wilayah Sumatra terdampak, dengan puluhan di antaranya mengalami kerusakan parah. Namun, yang menarik—dan mungkin sedikit mengejutkan—adalah kecepatan pemulihannya. Dalam waktu relatif singkat, sebagian besar sekolah sudah bisa menggelar aktivitas belajar lagi, meski dengan segala keterbatasan. Ini bukan sekadar soal memperbaiki bangunan, tapi lebih tentang tekad kolektif untuk tidak membiarkan bencana menghentikan denyut pendidikan.

Kunjungan langsung Wakil Menteri Pendidikan ke lokasi terdampak menjadi simbol penting bahwa pemulihan pendidikan adalah prioritas. Bukan hanya mengecek fisik bangunan, tapi juga menyemangati para guru yang harus mengajar dalam kondisi darurat, serta siswa-siswa yang mungkin masih trauma. Pesannya jelas: belajar harus terus berjalan, bahkan di tengah ketidakpastian. Rehabilitasi fasilitas ini menjadi bagian dari respons yang lebih luas, di mana pemerintah daerah berkoordinasi untuk memulihkan layanan dasar seperti transportasi dan listrik, yang juga vital bagi kelancaran sekolah.

Di balik upaya teknis ini, ada sebuah pelajaran penting yang sering terlewat. Menurut pengamatan beberapa pegiat pendidikan di daerah bencana, musibah justru memunculkan inovasi-inovasi kecil yang powerful. Guru-guru mulai memanfaatkan ruang terbuka sebagai kelas darurat, materi pembelajaran disesuaikan dengan konteks lingkungan pascabanjir, dan solidaritas antar-sekolah menguat. Sebuah sekolah di daerah yang relatif aman, misalnya, membuka pintunya untuk berbagi ruang dengan sekolah yang masih tergenang. Ini menunjukkan bahwa ketangguhan sistem pendidikan kita tidak hanya terletak pada gedungnya, tapi pada manusianya.

Namun, tantangan jangka panjangnya masih nyata. Pemulihan fisik mungkin bisa selesai dalam hitungan bulan, tapi bagaimana dengan dampak psikologis pada anak-anak yang kehilangan rasa aman? Atau kesenjangan pembelajaran yang mungkin terjadi karena proses belajar sempat terhenti? Di sinilah peran kita semua sebagai masyarakat sipil menjadi krusial. Bukan hanya dengan donasi, tapi juga dengan perhatian berkelanjutan—memastikan bahwa setelah air surut, perhatian kita tidak ikut mengering.

Pada akhirnya, kisah Sumatra pascabanjir ini mengajarkan kita tentang sebuah paradoks: terkadang, justru di saat segala sesuatu terlihat hancur, fondasi yang paling kokoh justru terlihat. Fondasi itu adalah tekad untuk terus belajar, semangat para pendidik yang pantang menyerah, dan kolaborasi antar-pihak yang lahir dari kesulitan. Mari kita jadikan momentum ini bukan sekadar untuk membangun kembali sekolah yang rusak, tapi juga untuk merenungkan—apakah sistem pendidikan kita sudah cukup tangguh menghadapi ketidakpastian di masa depan? Karena satu hal yang pasti: bencana mungkin akan datang lagi, tapi semangat belajar seharusnya tidak pernah boleh ikut tenggelam.

Dipublikasikan: 7 Januari 2026, 06:27
Diperbarui: 7 Januari 2026, 06:27
Ketika Buku dan Bangku Terendam: Kisah Sumatra yang Bangkit dari Banjir | Kabarify