Kekalahan Telak Madrid di Lisbon: Benarkah Mourinho Solusi yang Dibutuhkan Bernabéu?
Analisis mendalam pasca kekalahan Real Madrid dari Benfica. Apakah kembalinya Jose Mourinho adalah jawaban atau sekadar nostalgia Florentino Perez?
Bayangkan suasana di ruang eksekutif Santiago Bernabéu malam itu. Layar besar menampilkan angka akhir 4-2 untuk Benfica, dan wajah Florentino Perez mungkin berkerut dalam campuran rasa malu dan frustrasi. Kekalahan telak di Estadio da Luz bukan sekadar angka di papan skor; itu adalah tamparan keras bagi kebanggaan klub yang terbiasa menjadi raja Eropa. Dalam keheningan yang menyiksa pasca-pertandingan, satu nama mulai bergema lagi di koridor kekuasaan: Jose Mourinho. Tapi, apakah membawa kembali sang 'Special One' adalah langkah visioner atau sekadar reaksi panik dari seorang presiden yang terjebak dalam nostalgia?
Pertandingan melawan Benfica pada Kamis, 29 Januari 2026, akan dikenang sebagai salah satu malam terkelam Madrid dalam beberapa tahun terakhir. Bermain dengan sembilan pemain setelah kartu merah untuk Raul Asencio dan Rodrygo, Los Blancos tampak seperti raksasa yang kehilangan arah. Yang lebih menusuk bagi Perez adalah fakta bahwa di seberang lapangan, berdiri seorang pria yang pernah dia pecat—Jose Mourinho—sedang menari-nari di pinggir lapangan, merayakan kemenangan dengan intensitas khasnya. Kekalahan ini bukan hanya tentang poin yang hilang di Grup Champions; ini tentang psikologi, tentang harga diri, dan tentang pertanyaan mendasar: ke mana arah proyek Madrid pasca-era Carlo Ancelotti?
Proyek Xabi Alonso yang Runtuh dan Dilema Arbeloa
Ketika Xabi Alonso meninggalkan kursi kepelatihan Madrid untuk tantangan baru, banyak yang mengira Alvaro Arbeloa adalah penerus logis—seorang legenda klub yang memahami DNA Madrid. Namun, realitasnya ternyata jauh lebih kompleks. Kekalahan dari Benfica mengungkap retakan struktural dalam tim. Pertahanan yang rapuh, transisi yang lambat, dan kurangnya kepemimpinan di lapangan adalah masalah sistemik yang tidak akan terselesaikan hanya dengan mengganti pelatih. Data statistik menunjukkan bahwa dalam 10 pertandingan terakhir di semua kompetisi, Madrid telah kebobolan 15 gol—angka yang sangat tinggi untuk standar mereka. Ini bukan sekadar masalah taktik Arbeloa, tetapi mungkin indikasi bahwa skuad membutuhkan regenerasi yang lebih mendalam.
Di sinilah opini pribadi saya muncul: Madrid sedang terjebak dalam siklus berbahaya mencari 'penyelamat ajaib'. Setelah era Zidane, mereka beralih ke Ancelotti (kembali). Setelah Ancelotti, mereka mencoba Alonso. Kini, ketika Alonso dianggap gagal dan Arbeloa diragukan, mereka melihat ke belakang lagi—kepada Mourinho. Pola ini mengkhawatirkan karena menunjukkan kurangnya proyek jangka panjang yang jelas. Sebuah klub sebesar Madrid seharusnya memiliki filosofi permainan yang tetap, di mana pelatih datang dan pergi tetapi identitas klub tidak berubah drastis. Saat ini, Madrid seperti kapal tanpa kompas, berbelok arah sesuai angin kekalahan terakhir.
Mourinho 2026: Masihkah 'Special' untuk Madrid?
Mari kita lihat Jose Mourinho secara objektif. Di Benfica, dia telah menunjukkan bahwa api kompetisinya masih menyala. Timnya bermain dengan intensitas tinggi, disiplin taktik ketat, dan mentalitas pemenang yang menjadi trademark-nya. Laporan Defensa Central menyebut energi dan keinginan besar yang ditunjukkan Benfica membuat Perez terkesan. Namun, konteksnya sangat berbeda. Melatih Benfica dengan tekanan ekspektasi yang berbeda jauh lebih mudah daripada mengemban tugas di Bernabéu, di mana setiap hasil imbang dianggap sebagai bencana dan setiap kekalahan memicu krisis nasional.
Ada data menarik yang perlu dipertimbangkan: Dalam sejarahnya, Mourinho jarang sukses dalam periode kedua di klub mana pun. Gaya konfrontasinya, yang awalnya efektif untuk membangun mentalitas pemenang, cenderung menciptakan kelelahan psikologis pada pemain dan manajemen dalam jangka panjang. Di Chelsea dan Manchester United, periode keduanya berakhir dengan perpecahan. Pertanyaannya: Apakah Florentino Perez dan pemain-pemain Madrid generasi baru—banyak di antaranya masih remaja ketika Mourinho pergi pada 2013—siap untuk drama dan polarisasi yang sering menyertai sang pelatih?
Pilihan Lain di Meja Perez: Emery dan Paradigma Baru
Yang menarik adalah bahwa Mourinho bukan satu-satunya nama yang beredar. Unai Emery, arsitek di balik kebangkitan Aston Villa, dikabarkan telah menjalin komunikasi dengan pihak Madrid. Ini pilihan yang menarik karena mewakili paradigma yang berbeda sama sekali. Jika Mourinho adalah simbol dari kepribadian besar dan manajemen berbasis konflik, Emery mewakili pendekatan yang lebih teknis, detail-oriented, dan kurang dramatis.
Rekam jejak Emery di Sevilla (tiga gelar Europa League berturut-turut) dan pekerjaannya yang brilian di Villa Park menunjukkan kemampuannya membangun tim yang kohesif dengan sumber daya terbatas. Di Villa, dia mengubah tim yang berjuang menghindari degradasi menjadi pesaing Liga Champions dalam waktu dua musim. Pendekatannya yang analitis dan fokus pada pengembangan pemain muda mungkin lebih cocok dengan kebutuhan Madrid jangka panjang, yang sedang dalam proses transisi generasi. Namun, pertanyaannya adalah: Apakah Florentino Perez, yang selalu tertarik pada bintang-bintang besar dan kepribadian dominan, akan memilih pendekatan yang lebih rendah hati ini?
Jejak Ancelotti: Nostalgia vs. Realitas
Argumen yang sering muncul adalah bahwa jika Carlo Ancelotti bisa kembali dan sukses pada usia 62 tahun, mengapa Mourinho tidak bisa? Benar, 'Carletto' kembali dari Everton—klub yang saat itu bukan kekuatan Eropa—dan memenangkan La Liga dan Champions League lagi. Namun, konteksnya berbeda. Ancelotti selalu menjadi pemersatu, figur ayah yang disukai pemain. Kepulangannya disambut dengan antusiasme oleh seluruh skuad. Mourinho, di sisi lain, meninggalkan Madrid pada 2013 dengan hubungan yang tegang dengan beberapa pemain kunci seperti Iker Casillas dan Sergio Ramos.
Faktor usia juga penting. Mourinho akan berusia 63 tahun jika kembali ke Madrid. Dalam wawancara-wawancara terakhirnya, dia mengakui bahwa energinya tidak lagi sama seperti sepuluh tahun lalu. Melatih di level tertinggi dengan tuntutan media Madrid yang gila-gilaan membutuhkan ketahanan fisik dan mental yang luar biasa. Apakah Mourinho versi 2026 masih memiliki stamina untuk pertempuran harian di Bernabéu?
Refleksi Akhir: Apakah Madrid Membutuhkan Pelatih atau Revolusi?
Ketika kita menyaksikan drama kepelatihan Madrid ini dari luar, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: Apakah masalah sebenarnya ada di bangku cadangan atau di seluruh struktur klub? Kekalahan dari Benfica mengungkapkan kelemahan yang telah terakumulasi selama beberapa musim: ketergantungan berlebihan pada bintang individu, kurangnya pola permainan yang konsisten, dan masalah regenerasi di beberapa posisi kunci.
Membawa kembali Mourinho mungkin memberikan kejutan adrenalin jangka pendek—dia pasti akan menanamkan disiplin dan mentalitas bertarung. Tapi seperti kopi espresso yang kuat, efeknya mungkin cepat memudar. Madrid membutuhkan lebih dari sekadar pelatih baru; mereka membutuhkan visi yang jelas untuk dekade berikutnya. Apakah mereka akan membangun tim muda dengan identitas permainan menyerang, atau kembali ke pragmatisme Mourinho yang efektif tapi seringkali kurang memukau?
Pada akhirnya, keputusan Florentino Perez akan mengungkap banyak tentang bagaimana dia memandang masa depan klubnya. Apakah dia terjebak dalam nostalgia era Mourinho-Ancelotti pertama, atau berani membuka babak baru dengan filosofi yang berbeda? Sebagai pengamat sepak bola, saya cenderung berpikir bahwa klub sebesar Madrid harus menjadi trendsetter, bukan pengikut trend. Membawa kembali Mourinho terasa seperti mengulangi sejarah, bukan menciptakannya. Tapi dalam dunia sepak bola yang emosional, terkadang hati mengalahkan logika. Kita tinggal menunggu: akankah Bernabéu sekali lagi bergema dengan teriakan 'Mou! Mou! Mou!' atau akankah Madrid memilih jalan yang kurang dramatis namun mungkin lebih berkelanjutan? Hanya waktu yang akan menjawab.