Jakarta Tenggelam Lagi: Ketika Hujan Beberapa Jam Mengubah Ibu Kota Menjadi Danau
Hujan Senin pagi menggenangi puluhan RT di Jakarta. Di balik banjir tahunan ini, ada cerita warga dan tantangan kota yang belum tuntas.
Jakarta Tenggelam Lagi: Ketika Hujan Beberapa Jam Mengubah Ibu Kota Menjadi Danau
Pagi itu, alarm smartphone mungkin berbunyi seperti biasa. Namun bagi ribuan warga Jakarta pada Senin (12/1/2026), bunyi yang benar-benar membangunkan mereka adalah derasnya hujan di atap dan perlahan tapi pasti, desahan air yang mulai menyusup ke dalam rumah. Dalam hitungan jam, pemandangan yang seharusnya akrab berubah total: jalan raya menjadi sungai, halaman rumah berubah jadi kolam, dan aktivitas harian pun terpaksa berhenti total. Ini bukan sekadar laporan cuaca buruk, ini adalah potret repetitif sebuah kota yang terus berjuang melawan elemen alam yang semakin tak terduga.
Banjir, kata yang sudah terlalu familiar di telinga warga ibu kota, datang lagi dengan skala yang membuat kita bertanya: Sudah sejauh mana perbaikan kita? Atau jangan-jangan, kita hanya menjadi ahli dalam 'menunggu air surut' daripada mencegahnya datang? Mari kita telusuri apa yang terjadi di balik genangan setinggi satu meter yang merendam puluhan RT itu.
Peta Genangan: Dari Selatan Hingga Utara, Tak Ada yang Benar-Benar Aman
Berdasarkan pantauan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, genangan air menyebar layaknya noda tinta di atas kertas. Wilayah yang terdampak tidak hanya terpusat di satu titik, melainkan tersebar di Jakarta Selatan, Timur, Barat, hingga Utara. Yang menarik dari data ini adalah variasi ketinggian air. Di beberapa lokasi 'hanya' 30 sentimeter, cukup untuk merendam roda mobil dan mengganggu pejalan kaki. Namun di titik rawan seperti Kampung Melayu dan Kebon Pala, air mencapai ketinggian yang mengkhawatirkan: sekitar satu meter, setinggi pinggang orang dewasa.
Bayangkan dampaknya. Bukan hanya sekadar basah. Air setinggi itu sudah bisa merendam perabotan rumah tangga, merusak elektronik, mengkontaminasi persediaan makanan, dan yang paling penting, mengancam keselamatan jiwa, terutama anak-anak dan lansia. Warga di wilayah terdampak terpaksa melakukan evakuasi darurat, mengangkat barang-barang berharga ke tempat yang lebih tinggi, dalam upaya menyelamatkan sedikit dari banyak yang mungkin hilang.
Lebih Dari Sekadar Hujan Deras: Akar Masalah yang Terus Berulang
Memang, pemicu langsungnya adalah hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur Jakarta selama beberapa jam tanpa henti. Tapi menyalahkan cuaca semata adalah penyederhanaan yang berbahaya. Faktanya, banjir Senin pagi itu adalah hasil dari kombinasi mematikan: curah hujan ekstrem ditambah dengan infrastruktur drainase yang sudah kewalahan sejak awal.
Sejumlah aliran sungai, termasuk Kali Ciliwung, meluap karena tidak mampu lagi menampung debit air yang meningkat drastis. Saluran-saluran air di bawah tanah, yang seharusnya menjadi jalur evakuasi bagi air hujan, justru menjadi titik bottleneck. Sampah yang menyumbat, sedimentasi yang tidak pernah tuntas dibersihkan, dan penyempitan saluran akibat pembangunan, semua berkontribusi menciptakan 'pesta genangan' yang merugikan.
Di sini, saya ingin menyisipkan sebuah data unik yang sering terlewat. Menurut kajian dari beberapa lembaga riset independen, kapasitas tampung sistem drainasi Jakarta saat ini diperkirakan hanya mampu menangani curah hujan dengan intensitas maksimal 70-100 mm per hari. Padahal, dalam beberapa tahun terakhir, kejadian hujan dengan intensitas di atas 150 mm dalam waktu singkat semakin sering terjadi. Artinya, sistem kita sudah 'kalah telak' sebelum pertandingan dimulai. Kita berinvestasi untuk mengatasi masalah kemarin, bukan ancaman iklim hari ini dan besok.
Kemacetan Panjang dan Transportasi yang Lumpuh
Dampak banjir tidak berhenti di depan pintu rumah warga. Ia merambat ke jalan raya, memutus urat nadi transportasi ibu kota. Sejumlah ruas jalan utama, yang biasanya menjadi penghubung antarkawasan, berubah menjadi danau-danau kecil yang tidak bisa dilintasi kendaraan roda empat. Konsekuensinya? Kemacetan panjang yang berlipat ganda. Kendaraan yang biasanya melintas di jalur itu terpaksa mencari jalan alternatif, memadati jalan-jalan kecil yang juga tidak dirancang untuk volume lalu lintas tinggi.
Layanan transportasi publik pun tak luput. Beberapa rute TransJakarta, andalan warga yang ingin menghindari macet, justru terjebak oleh genangan air di jalur busway-nya sendiri. Pengalihan rute dan keterlambatan operasional menjadi pemandangan umum. Bayangkan frustrasi para pekerja yang harus sampai kantor tepat waktu, atau anak sekolah yang harus mengikuti ujian. Banjir tidak hanya merendam fisik kota, tetapi juga merendam produktivitas dan rutinitas jutaan orang.
Respons Darurat: Solidaritas di Tengah Genangan
Di tengah keprihatinan ini, ada secercah cahaya: respons tim penanggulangan bencana yang relatif cepat. Petugas BPBD, dibantu unsur TNI, Polri, dan relawan dari berbagai komunitas, langsung dikerahkan ke titik-titik terdampak. Tugas mereka berlapis: memantau perkembangan ketinggian air, membantu evakuasi warga yang terjebak, mengoperasikan pompa air portable untuk mempercepat pengeringan, dan membersihkan sampah yang menyumbat saluran.
Aksi gotong royong warga juga patut diapresiasi. Tetangga membantu tetangga, menyelamatkan barang, berbagi tempat tinggal sementara, dan saling mengingatkan untuk waspada. Solidaritas semacam inilah yang menjadi 'penahan banjir' sosial ketika infrastruktur fisik gagal berfungsi. Namun, tentu saja, kita tidak bisa selamanya mengandalkan ketangguhan warga. Ketangguhan harus dibangun di level sistem.
Opini: Banjir Jakarta Bukan Bencana Alam, Tapi Bencana Tata Kelola
Izinkan saya menyampaikan pendapat pribadi di sini. Setelah mengamati siklus banjir Jakarta selama bertahun-tahun, saya semakin yakin bahwa ini bukan lagi semata-mata bencana alam. Ini adalah bencana tata kelola. Hujan adalah fenomena alam, tetapi banjir yang merendam permukiman adalah hasil dari keputusan (atau kelalaian) manusia dalam mengelola ruang kota.
Kita terus membiarkan perubahan tata guna lahan di daerah penyangga seperti Bogor dan Puncak, yang mempercepat aliran permukaan ke Jakarta. Kita kompromi dengan ruang hijau dan daerah resapan yang semakin menyusut. Kita lambat dalam normalisasi sungai dan pembangunan infrastruktur pengendali banjir yang berkelanjutan. Banjir Senin ini adalah pengingat yang mahal: setiap cent yang kita hemat dalam pencegahan, akan kita bayar berlipat-lipat dalam bentuk kerugian saat bencana datang.
Data unik lain yang perlu dipertimbangkan: Biaya ekonomi akibat satu hari banjir besar di Jakarta diperkirakan bisa mencapai ratusan miliar rupiah, meliputi kerusakan properti, hilangnya produktivitas, gangguan perdagangan, dan biaya pemulihan. Bandingkan dengan anggaran untuk normalisasi sungai atau pembangunan sumur resapan. Mana yang lebih hemat?
Menatap ke Depan: Antara Siaga dan Solusi Jangka Panjang
Hingga Senin malam, laporan mulai menyebutkan bahwa sebagian genangan telah surut. Napas mungkin sedikit lega, tetapi kewaspadaan tidak boleh kendur. Petugas BPBD tetap bersiaga karena prakiraan cuaca masih menunjukkan potensi hujan dalam beberapa hari ke depan. Pemerintah daerah juga mengklaim terus melakukan koordinasi lintas instansi untuk meminimalkan dampak.
Namun, pertanyaan besarnya adalah: Apa yang akan kita lakukan setelah air benar-benar surut? Apakah kita akan kembali ke aktivitas normal, melupakan genangan ini sampai hujan besar berikutnya datang? Atau kita akan menjadikan momentum ini sebagai titik balik?
Penutup: Sebuah Refleksi untuk Kita Semua
Melihat foto-foto rumah yang terendam dan wajah lelah warga yang menyelamatkan hartanya, hati ini miris. Jakarta, kota dengan segudang mimpi dan pencapaian, masih terjebak dalam siklus tahunan yang sama: hujan, banjir, surut, lalu lupa. Kita telah menjadi ahli dalam bertahan, tetapi masih pemula dalam mencegah.
Mungkin inilah saatnya kita mengubah perspektif. Jangan lagi melihat banjir sebagai 'ritual tahunan' yang harus diterima dengan pasrah. Lihatlah ia sebagai alarm darurat yang memekakkan telinga, mengingatkan bahwa hubungan kita dengan alam dan tata ruang kota sedang tidak baik-baik saja. Setiap genangan adalah cermin yang memantulkan kesalahan kolektif kita.
Jadi, setelah membaca ini, mari kita renungkan. Sebagai warga, apa yang bisa kita lakukan lebih baik? Mulai dari hal sederhana: tidak membuang sampah sembarangan, menjaga saluran di depan rumah, mendukung program biopori. Sebagai bagian dari masyarakat, kita bisa mendorong kebijakan yang lebih visioner dan berkelanjutan. Karena pada akhirnya, Jakarta yang aman dari banjir bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau petugas pompa. Itu adalah tanggung jawab kita semua, yang memanggilnya rumah. Air mungkin akan surut besok, tetapi tekad untuk memperbaiki kota ini harus tetap mengalir, lebih deras dari hujan apa pun.