Peternakan

Hujan Tak Hanya Basahi Tanah, Tapi Juga Ujian Bagi Peternak: Strategi Bertahan di Musim Basah 2026

Musim hujan 2026 jadi tantangan serius bagi peternak. Simak strategi cerdas menjaga pasokan pakan ternak agar usaha tetap produktif dan berkelanjutan.

Penulis:salsa maelani
13 Januari 2026
Hujan Tak Hanya Basahi Tanah, Tapi Juga Ujian Bagi Peternak: Strategi Bertahan di Musim Basah 2026

Bayangkan ini: pagi-pagi sekali, langit masih kelabu, tetapi seorang peternak sapi sudah berdiri di tengah gudangnya. Dia tidak sedang menghitung ternak, melainkan menimbang-nimbang tumpukan jerami dan konsentrat dengan perasaan was-was. Musim hujan yang mengguyur awal tahun 2026 bukan sekadar perubahan cuaca biasa. Bagi mereka yang hidup dari beternak, ini adalah periode kritis yang menentukan apakah usaha mereka akan tetap bertahan atau terpuruk. Kekhawatiran akan ketersediaan dan kualitas pakan ternak tiba-tiba menjadi lebih nyata daripada embun pagi. Ini bukan soal basah atau kering semata, melainkan soal ketahanan pangan hewan yang berdampak langsung pada ketahanan ekonomi keluarga.

Faktanya, curah hujan tinggi sering kali menjadi musuh diam-diam bagi peternakan tradisional maupun modern. Air yang berlebihan dapat merusak kualitas hijauan, meningkatkan risiko jamur pada pakan kering, dan mempersulit proses pengeringan. Menurut data dari Pusat Penelitian Peternakan beberapa waktu lalu, produktivitas ternak ruminansia seperti sapi dan kambing bisa turun hingga 15-20% selama musim hujan akibat permasalahan pakan. Penurunan ini bukan angka main-main; ia bisa berarti selisih antara untung dan rugi bagi banyak peternak. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi di balik gerimis dan hujan lebat itu, dan bagaimana peternak yang cerdik menyiasatinya?

Dampak Nyata Hujan pada Rantai Pakan Ternak

Hujan tidak hanya membuat tanah becek. Ia mengubah seluruh ekosistem penyediaan pakan. Pertama, untuk pakan hijauan seperti rumput gajah atau daun lamtoro, hujan berlebihan dapat menyebabkan pembusukan akar dan menurunkan nilai nutrisi. Daun yang terus-terusan basah menjadi lebih rentan terhadap penyakit tanaman. Kedua, untuk pakan kering seperti jerami padi atau jagung, proses pengeringan yang membutuhkan sinar matahari menjadi terhambat total. Hasilnya? Kadar air yang tinggi memicu tumbuhnya kapang dan aflatoksin, racun berbahaya yang bisa membunuh ternak perlahan-lahan. Ketiga, akses ke lahan penggembalaan atau sumber pakan lain menjadi terbatas, memaksa peternak bergantung pada stok yang ada.

Di sinilah antisipasi menjadi kunci. Peternak-peternak yang telah berpengalaman tidak menunggu hingga hujan datang. Mereka sudah mulai melakukan penyimpanan pakan kering dengan metode yang tepat sejak musim kemarau berakhir. Penyimpanan bukan sekadar menumpuk di gudang, melainkan memastikan sirkulasi udara baik, menggunakan alas palet untuk menghindari kelembaban dari lantai, dan menutup dengan terpal berkualitas. Sementara untuk hijauan, teknik pengelolaan seperti pembuatan silase—fermentasi hijauan dalam kondisi kedap udara—menjadi solusi cerdas. Silase tidak hanya mengawetkan pakan, tetapi juga bisa meningkatkan kecernaannya.

Peran Penting Pendampingan Teknis di Lapangan

Namun, pengetahuan tentang silase atau penyimpanan yang baik tidak serta-merta dimiliki semua peternak. Di sinilah peran penyuluh peternakan dan tenaga lapangan menjadi sangat vital. Mereka adalah jembatan antara teori di buku dan praktik di kandang. Pendampingan teknis yang diberikan bukan sekadar teori, tetapi berupa demonstrasi langsung, pemecahan masalah spesifik di lokasi, dan motivasi untuk menerapkan cara-cara baru. Seorang penyuluh di Jawa Timur pernah bercerita, keberhasilan peternak dalam melewati musim hujan sering kali ditentukan oleh seberapa erat kolaborasi mereka dengan penyuluh dalam merancang blueprint penyediaan pakan jauh-jauh hari.

Opini saya, tantangan musim hujan ini sebenarnya adalah cermin dari ketahanan sistem peternakan kita secara keseluruhan. Peternak yang hanya mengandalkan satu jenis pakan atau sistem pasif ‘ambil dari alam’ akan selalu rentan. Musim hujan 2026 bisa menjadi momentum bagi banyak pihak—mulai dari peternak individu, kelompok tani, hingga pemerintah daerah—untuk membangun sistem logistik pakan yang lebih tangguh. Misalnya, dengan mendorong pembuatan feed bank (bank pakan) komunitas di tingkat desa, di mana stok pakan kering dan silase dikelola bersama untuk menghadapi masa sulit.

Data Unik: Kaitan antara Kualitas Pakan dan Kesehatan Ternak Jangka Panjang

Ada satu data menarik yang sering terlewat. Sebuah studi lapangan di sentra peternakan sapi perah menunjukkan bahwa ternak yang mengalami penurunan kualitas pakan selama musim hujan tidak hanya menghasilkan susu lebih sedikit. Dampaknya berlanjut hingga 2-3 bulan setelah musim hujan berakhir, berupa penurunan daya tahan tubuh dan peningkatan angka kejadian mastitis (radang ambing). Artinya, efeknya bukan sesaat. Investasi dalam menjaga kualitas pakan di musim hujan adalah investasi untuk kesehatan dan produktivitas ternak di bulan-bulan berikutnya. Ini seperti kita menjaga imunitas tubuh; jika asupan nutrisi buruk di satu periode, pemulihannya butuh waktu lebih lama.

Selain itu, inovasi sederhana bisa memberikan dampak besar. Beberapa peternak mulai memanfaatkan limbah pertanian seperti pucuk tebu atau kulit kakao yang difermentasi sebagai pakan alternatif. Bahan-bahan ini sering melimpah justru di musim hujan dan, dengan pengolahan tepat, nilai gizinya bisa ditingkatkan. Ini adalah bentuk adaptasi lokal yang brilliant dan hemat biaya.

Menutup dengan Refleksi: Lebih dari Sekadar Jerami dan Hujan

Jadi, ketika kita membicarakan peternak dan musim hujan, kita sebenarnya sedang membicarakan tentang ketangguhan, perencanaan, dan kecerdikan lokal. Tantangan pasokan pakan di awal 2026 ini bukanlah bencana yang tak terduga, melainkan ujian rutin yang meminta kesiapan lebih baik. Peternak yang berhasil melewatinya biasanya adalah mereka yang melihat musim hujan bukan sebagai halangan, tetapi sebagai bagian dari siklus yang harus di-manage dengan strategi.

Pada akhirnya, ketahanan pakan ternak adalah fondasi ketahanan pangan kita secara nasional. Jika ternak sehat dan produktif, pasokan daging, susu, dan telur untuk kita semua akan tetap stabil. Mungkin, lain kali ketika kita menikmati segelas susu atau sepiring rendang di tengah hujan, ada baiknya kita sedikit berhenti dan mengingat jerih payah peternak di baliknya yang telah bersiasat melawan kelembaban dan menjaga kualitas pakan. Mereka mengingatkan kita bahwa di era teknologi tinggi sekalipun, harmoni dengan alam dan antisipasi terhadap siklusnya tetaplah kunci keberlangsungan. Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita menghargai setiap rantai dalam sistem pangan yang sering kita anggap remeh?

Mari kita jadikan musim hujan tahun depan bukan sebagai momok, tetapi sebagai ajang pembuktian bahwa peternakan Indonesia bisa semakin adaptif dan berdaya tahan. Dimulai dari gudang pakan yang tertata rapi, hingga kolaborasi yang erat antara peternak dan penyuluh. Karena, seperti kata petuah lama, “Persiapkan payung sebelum hujan”—dan dalam konteks peternakan, persiapkan pula pakan yang cukup dan berkualitas sebelum langit benar-benar mendung.

Dipublikasikan: 13 Januari 2026, 03:25
Diperbarui: 13 Januari 2026, 11:56
Hujan Tak Hanya Basahi Tanah, Tapi Juga Ujian Bagi Peternak: Strategi Bertahan di Musim Basah 2026 | Kabarify