Ekonomi

Gelombang Digitalisasi Pajak: Antara Antrean Panjang dan Transformasi Sistem Nasional

Menyoroti fenomena antrean wajib pajak jelang Coretax 2026, bukan sekadar kerumunan, tapi cermin transisi besar-besaran menuju ekosistem perpajakan digital terintegrasi.

Penulis:khoirunnisakia
22 Januari 2026
Gelombang Digitalisasi Pajak: Antara Antrean Panjang dan Transformasi Sistem Nasional

Bayangkan sebuah pagi biasa di kota besar. Bukan antrean untuk kopi kekinian atau tiket konser, melainkan barisan panjang yang terbentuk bahkan sebelum matahari terbit di depan kantor pajak. Ini bukan adegan film, tapi realitas yang terjadi di berbagai penjuru Indonesia menjelang tahun 2026. Apa yang sebenarnya terjadi di balik kerumunan ini? Ini lebih dari sekadar 'membludaknya' wajib pajak—ini adalah detak jantung awal dari transformasi sistem perpajakan nasional yang akan mengubah cara kita berinteraksi dengan negara.

Fenomena ini mengingatkan saya pada transisi besar-besaran lain dalam sejarah administrasi kita. Seperti migrasi dari KTP konvensional ke e-KTP dulu, hanya kali ini skalanya lebih masif dan dampaknya lebih langsung terhadap kehidupan ekonomi sehari-hari. Yang menarik, antusiasme masyarakat justru datang lebih awal dari yang diperkirakan, menciptakan sebuah paradoks: sistem yang dirancang untuk mempermudah justru (sementara) menciptakan kerumitan tambahan dalam fase transisinya.

Lebih Dari Sekadar Aktivasi Akun: Memahami Psikologi Massa di Era Digital

Mengamati wajah-wajah yang mengantre sejak pukul 05.00 pagi, ada cerita yang lebih dalam dari sekadar kepatuhan pajak. Ada ketakutan akan tertinggal, keinginan untuk 'selesai' dengan kewajiban administratif sebelum deadline, dan mungkin juga sedikit rasa penasaran terhadap sistem baru yang digadang-gadang akan menyederhanakan hidup. Data dari Asosiasi Konsultan Pajak Indonesia menunjukkan bahwa 68% wajib pajak merasa lebih nyaman menyelesaikan urusan perpajakan secara langsung meskipun sistem digital sudah tersedia—sebuah angka yang menjelaskan mengapa antrean fisik masih menjadi pilihan utama.

Yang patut dicatat, lonjakan kunjungan ini terjadi meskipun tenggat waktu penerapan penuh Coretax masih cukup lama. Ini mengindikasikan dua hal: pertama, efektivitas sosialisasi yang menciptakan awareness tinggi, dan kedua, adanya 'efek FOMO' (Fear Of Missing Out) dalam konteks kepatuhan pajak. Masyarakat tidak ingin menjadi yang terakhir memahami sistem baru, terutama ketika sistem tersebut berkaitan dengan kewajiban hukum dan finansial.

Coretax 2026: Bukan Hanya Platform, Tapi Ekosistem Baru

Mari kita lihat lebih dalam apa yang ditawarkan Coretax. Ini bukan sekadar pengganti sistem online yang sudah ada, melainkan sebuah ekosistem terintegrasi yang dirancang untuk menghubungkan berbagai aspek administrasi perpajakan dalam satu platform. Bayangkan sebuah super-app untuk urusan pajak—dari pelaporan, pembayaran, hingga konsultasi dan penyelesaian sengketa. Integrasi ini yang menjadi nilai jual utamanya, sekaligus sumber kerumitan dalam fase adopsi awal.

Menurut analisis dari Pusat Studi Ekonomi Digital Universitas Indonesia, transisi ke sistem seperti Coretax biasanya mengalami tiga fase: chaos (kekacauan), adaptation (adaptasi), dan normalization (normalisasi). Saat ini, kita berada di ujung fase pertama menuju fase kedua. Yang menarik, antrean panjang justru menjadi indikator positif—masyarakat aktif mencari solusi daripada menghindari perubahan.

Tantangan di Balik Antusiasme: Kapasitas Layanan vs. Gelombang Pengguna

Di satu sisi, antusiasme masyarakat patut diapresiasi. Di sisi lain, fenomena antrean panjang menyoroti kesenjangan antara kapasitas layanan fisik dan volume permintaan. Kantor pajak yang dirancang untuk melayani ratusan pengunjung sehari tiba-tiba harus menghadapi ribuan. Ini bukan masalah sederhana—ini tentang infrastruktur, sumber daya manusia, dan strategi distribusi layanan.

Beberapa kantor pajak progresif sudah mulai menerapkan sistem appointment online untuk aktivasi Coretax, membagi gelombang kunjungan berdasarkan hari dan jam. Namun, implementasinya belum merata. Data dari forum wajib pajak menunjukkan bahwa 42% responden mengalami kesulitan mendapatkan slot layanan di kota-kota besar, sementara di daerah, masalah utama justru terletak pada ketersediaan petugas yang memahami sistem baru secara komprehensif.

Perspektif Unik: Antrean sebagai Cermin Hubungan Negara dan Warga

Ada sudut pandang menarik yang jarang dibahas: antrean ini sebenarnya mencerminkan evolusi hubungan antara negara dan warga dalam konteks digital. Dulu, interaksi perpajakan bersifat satu arah dan birokratis. Kini, dengan sistem seperti Coretax, hubungan tersebut bergeser menjadi lebih kolaboratif dan transparan. Warga tidak lagi sekadar 'membayar' tetapi 'berpartisipasi' dalam sistem yang lebih terbuka.

Opini pribadi saya? Gelombang antrean ini justru menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia lebih siap untuk transformasi digital daripada yang sering kita duga. Ketakutan akan teknologi seringkali dibesar-besarkan. Kenyataannya, ketika ada nilai nyata yang ditawarkan—dalam hal ini kemudahan dan transparansi—masyarakat justru menjadi early adopter yang antusias. Problemnya bukan pada penerimaan teknologi, tetapi pada desain transisi yang belum optimal menyeimbangkan antara layanan digital dan dukungan manusiawi.

Melihat ke Depan: Dari Antrean Fisik menuju Kemandirian Digital

Beberapa tahun dari sekarang, kita mungkin akan melihat kembali fenomena 2025-2026 ini sebagai momen bersejarah—saat Indonesia secara massal melompat ke era perpajakan digital. Antrean panjang akan berangsur berkurang seiring dengan meningkatnya literasi digital dan optimalisasi layanan mandiri. Namun, pelajaran dari fase transisi ini harus dijadikan bahan evaluasi untuk transformasi digital sektor publik lainnya.

Pertanyaan reflektif untuk kita semua: Sudah siapkah kita tidak hanya sebagai pengguna sistem, tetapi juga sebagai bagian aktif dari ekosistem digital negara? Kesiapan ini melampaui kemampuan teknis—ini tentang mindset, tentang melihat kewajiban perpajakan bukan sebagai beban tetapi sebagai partisipasi dalam pembangunan melalui platform yang lebih modern dan akuntabel.

Pada akhirnya, transformasi seperti Coretax mengajarkan kita satu hal penting: perubahan sistemik selalu dimulai dengan sedikit kekacauan, diikuti oleh adaptasi, dan diakhiri dengan normalisasi baru. Yang kita saksikan sekarang adalah bagian dari proses itu—tanda bahwa kita sedang bergerak, meski terkadang dengan langkah yang belum sempurna. Mari kita nikmati proses belajar bersama ini, karena di balik setiap antrean panjang, ada cerita tentang sebuah bangsa yang sedang belajar berjalan di era digital dengan caranya sendiri.

Dipublikasikan: 22 Januari 2026, 08:10
Diperbarui: 22 Januari 2026, 08:10