Gas Air Mata Meredam Kericuhan di Bawah Kolong Manggarai: Konflik Sosial Kembali Mengusik Jakarta
Suasana mencekam menyelimuti kawasan Underpass Manggarai, Jakarta Selatan, Jumat (2/1) sore, akibat bentrokan antarkelompok warga. Aparat kepolisian akhirnya turun tangan dan menggunakan gas air mata untuk membubarkan kerumunan massa yang sulit dikendalikan.
Suara ledakan petasan dan teriakan memecah kesibukan Jumat sore di kawasan Kolong Manggarai, Jakarta Selatan. Pada 2 Januari itu, bentrokan fisik antarkelompok warga kembali pecah, mengubah kawasan padat itu menjadi zona berbahaya. Aktivitas warga serta kelancaran lalu lintas pun terpaksa terhenti sejenak akibat insiden yang berlangsung cukup lama ini.
Dari kejauhan, puluhan orang terlihat saling berhadap-hadapan. Bukan sekadu adu mulut, melainkan lemparan batu dan bunyi petasan yang saling bersahutan. Situasi yang mendadak mencekam ini membuat warga sekitar mengambil langkah cepat: mengunci pintu rumah, menarik anak-anak ke dalam, dan menjauh dari jendela. Para pengendara yang melintas pun terpaksa mencari jalur alternatif, menghindari risiko terkena material keras yang beterbangan.
Eskalasi konflik yang semakin meningkat memaksa aparat keamanan bergerak cepat. Personel kepolisian yang didukung oleh Brimob segera diterjunkan ke lokasi. Setelah upaya persuasif dinilai tidak cukup, petugas akhirnya mengambil langkah tegas dengan menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa yang masih bertahan dan menunjukkan sikap konfrontatif. Upaya ini berhasil meredakan ketegangan; situasi perlahan kembali terkendali dan arus kendaraan dapat bergerak normal kembali.
Meski tidak ada korban jiwa yang dilaporkan secara resmi, insiden ini meninggalkan bekas yang lebih dalam. Kawasan Manggarai, sekali lagi, mencorengkan catatan sebagai salah satu titik rawan konflik horizontal di Ibu Kota. Kejadian ini bukan hanya sekadar tawuran, tetapi merupakan cermin dari persoalan sosial yang belum tuntas, memicu pertanyaan tentang efektivitas langkah pencegahan yang selama ini dijalankan.
Implikasinya jelas: keamanan fisik warga terganggu, rasa aman terkikis, dan aktivitas ekonomi lokal terhambat. Polisi pun mengeluarkan imbauan agar masyarakat tidak terprovokasi dan proaktif melaporkan bibit-bibit konflik. Namun, pesan yang lebih kuat yang tersirat dari kejadian ini adalah perlunya pendekatan yang lebih holistik. Penegakan hukum saja tidak cukup; diperlukan intervensi sosial yang berkelanjutan, dari program pemberdayaan pemuda hingga mediasi komunitas, untuk benar-benar mengurai akar masalah dan mencegah pengulangan di masa depan di wilayah-wilayah padat seperti Manggarai.