HukumNasional

Dari Konflik Keluarga ke Tragedi Maut: Menelisik Akar Kekerasan dalam Rumah Tangga di NTB

Sebuah kasus pembunuhan ibu oleh anak di Lombok Barat menguak kompleksitas konflik keluarga. Bagaimana pencegahan bisa dilakukan sebelum eskalasi mematikan terjadi?

Penulis:Ahmad Alif Badawi
29 Januari 2026
Dari Konflik Keluarga ke Tragedi Maut: Menelisik Akar Kekerasan dalam Rumah Tangga di NTB

Bayangkan sebuah hubungan yang seharusnya menjadi tempat paling aman di dunia: ikatan antara ibu dan anak. Lalu, bayangkan ikatan itu berubah menjadi panggung tragedi paling kelam. Inilah realitas pahit yang baru-baru ini mengguncang masyarakat Nusa Tenggara Barat, mengingatkan kita bahwa kadang-kadang, bahaya terbesar justru bersemayam di dalam dinding rumah kita sendiri.

Kasus ini bukan sekadar berita kriminal biasa. Ini adalah cermin retak yang memantulkan bagaimana konflik keluarga, ketika dibiarkan mengendap dan tidak dikelola dengan sehat, bisa bereskalasi menjadi kekerasan yang tak terbayangkan. Sebelum kita terjebak dalam penghakiman, mari kita coba memahami lapisan-lapisan kompleks di balik sebuah tindakan yang, bagi banyak orang, sama sekali tak masuk akal.

Lebih Dari Sekadar Angka Rp39 Juta

Media banyak memberitakan bahwa pemicu utama tragedi di Dusun Batu Leong, Lombok Barat adalah penolakan permintaan uang sebesar Rp39 juta. Namun, jika kita melihat lebih dalam, angka tersebut kemungkinan besar hanyalah puncak gunung es. Menurut data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, sekitar 70% kasus kekerasan dalam rumah tangga yang berujung fatal memiliki riwayat konflik finansial yang berkepanjangan. Uang seringkali menjadi simbol dari masalah yang lebih mendasar: perasaan tidak dihargai, tekanan ekonomi yang tak tertahankan, atau komunikasi yang sudah lama putus.

Dalam kasus ini, pelaku berinisial BP (33) disebutkan ingin menggunakan uang tersebut untuk melunasi utang. Ini mengindikasikan beban finansial yang mungkin sudah menumpuk bertahun-tahun. Yang menarik untuk dicermati adalah dinamika hubungan antara BP dan ibunya, YRA (60). Apakah penolakan itu adalah yang pertama kalinya? Ataukah ini merupakan klimaks dari serangkaian konflik yang sudah berlangsung lama? Polisi menyebutkan pembunuhan terjadi di rumah mereka di Mataram pada dini hari, saat korban tidur—detail yang menunjukkan perencanaan dan intensitas emosi tertentu.

Eskalasi Kekerasan: Dari Kata-Kata Kasar ke Tindakan Mematikan

Proses penyelidikan mengungkap kronologi yang mengerikan. Setelah aksi pembunuhan, pelaku tidak berhenti di situ. Ia membawa jasad ibunya ke wilayah Sekotong, Lombok Barat, menyiramnya dengan bahan bakar, dan membakarnya. Tindakan pembakaran jasad ini menambah dimensi lain pada kasus ini. Dalam psikologi kriminal, penghancuran atau pengrusakan jenazah seringkali menunjukkan upaya pelaku untuk menghapus identitas korban atau simbolisasi kemarahan yang sangat mendalam terhadap korban.

Penyidik Polres Lombok Barat telah mengamankan barang bukti dan menetapkan BP sebagai tersangka dengan ancaman pasal berat—Pasal 458 ayat (2) KUHP dan/atau Pasal 459 KUHP yang bisa berujung pada hukuman mati atau penjara seumur hidup. Namun, yang patut diperhatikan adalah pernyataan pihak kepolisian bahwa tes kejiwaan terhadap tersangka belum dilakukan. Padahal, dalam kasus dengan motif seperti ini, asesmen psikologis sangat krusial untuk memahami apakah ada gangguan mental, pengaruh zat, atau faktor psikososial lain yang berperan.

Masyarakat Lokal dan Trauma Kolektif

Dampak kasus ini melampaui keluarga yang langsung terlibat. Warga Dusun Batu Leong dan sekitarnya mengalami trauma kolektif. Penemuan mayat yang hangus terbakar di pinggir jalan pada suatu Minggu sore bukanlah pemandangan yang mudah dilupakan. Kasus ini mengganggu rasa aman komunitas, karena menunjukkan bahwa kekerasan ekstrem bisa terjadi di mana saja, bahkan di lingkungan yang mungkin selama ini dianggap damai.

Di banyak komunitas tradisional, termasuk di NTB, konflik keluarga seringkali dianggap sebagai urusan privat yang tidak pantas diintervensi pihak luar. Norma sosial ini, meskipun bertujuan menjaga kehormatan keluarga, kadang justru mencegah intervensi dini yang bisa menyelamatkan nyawa. Kasus ini menjadi pengingat keras bahwa ketika tanda-tanda kekerasan mulai muncul—baik verbal, psikologis, maupun fisik—diam bukanlah pilihan yang bertanggung jawab.

Perspektif Unik: Belajar dari Sistem Peringatan Dini Konflik Keluarga

Di beberapa negara, telah dikembangkan sistem peringatan dini untuk konflik keluarga yang berpotensi mematikan. Di Kanada misalnya, program "Danger Assessment" membantu mengidentifikasi faktor risiko pada hubungan yang berpotensi mematikan. Faktor-faktor seperti ancaman pembunuhan, penggunaan senjata, peningkatan frekuensi kekerasan, atau upaya korban untuk mengakhiri hubungan dijadikan indikator. Sistem serupa, yang disesuaikan dengan konteks budaya lokal, bisa menjadi pencegahan yang efektif.

Data dari Lembaga Bantuan Hukum NTB menunjukkan bahwa dalam 3 tahun terakhir, kasus kekerasan dalam rumah tangga yang dilaporkan meningkat sekitar 25% per tahun. Namun, yang lebih mengkhawatirkan adalah bahwa banyak kasus tidak dilaporkan sama sekali karena stigma sosial. Kasus BP dan ibunya mungkin hanya satu dari banyak kasus yang tidak terungkap sampai mencapai titik fatal.

Refleksi Akhir: Membangun Jaring Pengaman Sosial yang Lebih Tangguh

Tragedi di Lombok Barat ini meninggalkan kita dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang bagaimana masyarakat kita menangani konflik keluarga. Hukuman bagi pelaku memang penting untuk keadilan dan pencegahan umum, tetapi yang lebih krusial adalah membangun sistem yang mencegah eskalasi konflik sejak dini. Ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah melalui dinas sosial atau kepolisian, tetapi juga tanggung jawab kita sebagai anggota masyarakat.

Pernahkah kita memperhatikan tetangga yang sering bertengkar keras? Atau keluarga yang tampaknya terisolasi dari komunitas? Kadang-kadang, sekadar menawarkan diri untuk mendengarkan atau menjadi jembatan komunikasi bisa membuat perbedaan besar. Mari kita jadikan tragedi ini sebagai momentum untuk lebih peka terhadap lingkungan sekitar, untuk tidak lagi menganggap konflik keluarga sebagai urusan privat semata, dan untuk membangun budaya di mana mencari bantuan saat hubungan keluarga bermasalah bukanlah aib, tetapi langkah bijak.

Pada akhirnya, setiap nyawa yang hilang dalam kekerasan domestik adalah kegagalan kolektif kita sebagai masyarakat. Kasus ini mengajarkan bahwa pencegahan kekerasan keluarga membutuhkan lebih dari sekadar penegakan hukum setelah kejadian—ia membutuhkan jaringan kemanusiaan yang aktif, sistem dukungan yang mudah diakses, dan keberanian untuk peduli sebelum semuanya terlambat. Bagaimana menurut Anda? Sudahkah komunitas Anda memiliki mekanisme untuk mendeteksi dan mencegah eskalasi konflik keluarga sebelum berubah menjadi tragedi?

Dipublikasikan: 29 Januari 2026, 06:28
Diperbarui: 28 Februari 2026, 08:00
Dari Konflik Keluarga ke Tragedi Maut: Menelisik Akar Kekerasan dalam Rumah Tangga di NTB | Kabarify