Bibit Siklon Tropis 96S: Bukan Hanya Hujan, Ini Dampak Nyata yang Akan Dirasakan Warga NTB
BMKG peringatkan cuaca ekstrem di NTB akibat bibit siklon tropis 96S. Simak analisis dampak riil dan langkah antisipasi yang bisa dilakukan.
Bayangkan Anda sedang merencanakan liburan akhir tahun di pantai-pantai indah Lombok atau Sumbawa. Matahari bersinar cerah, langit biru menjanjikan. Tiba-tiba, peringatan resmi datang: sebuah bibit siklon tropis sedang berkembang di perairan selatan Nusa Tenggara. Ini bukan sekadar peringatan cuaca biasa, tapi alarm untuk perubahan drastis yang bisa mengubah rencana, bahkan keselamatan, ribuan orang. Inilah yang sedang dihadapi masyarakat Nusa Tenggara Barat (NTB) saat BMKG mengeluarkan imbauan waspada cuaca ekstrem selama sepekan ke depan.
Bibit siklon tropis 96S mungkin terdengar seperti istilah teknis yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Namun, dampaknya sangat nyata: dari nelayan yang harus mengurungkan niat melaut, petani yang khawatir sawahnya terendam, hingga wisatawan yang harus memutar otak mencari alternatif kegiatan. Cuaca ekstrem bukan lagi sekadar prediksi di layar televisi—ia adalah realitas yang akan menyentuh langsung sendi-sendi kehidupan di NTB.
Mengurai Pengaruh Bibit Siklon Tropis 96S
Menurut prakirawan Stasiun Meteorologi BMKG NTB, Andre Jersey, periode 29 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026 akan menjadi masa yang perlu diwaspadai. Cuaca diperkirakan sangat bervariasi, mulai dari cerah berawan hingga hujan lebat yang bisa datang tiba-tiba. "Selama tujuh hari ke depan, cuaca umumnya diperkirakan cerah berawan hingga hujan lebat," jelas Andre dalam keterangan resminya.
Yang membuat situasi ini khusus adalah pola yang diprediksikan BMKG. Pada 29 hingga 31 Desember 2025—tepat di puncak pergantian tahun—potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat akan disertai petir dan angin kencang. Kombinasi ini berbahaya karena bisa menimbulkan efek domino: genangan air yang cepat, pohon tumbang, hingga gangguan pada jaringan listrik dan transportasi.
Dampak Riil di Tingkat Akar Rumput
Di balik data meteorologi, ada cerita manusia yang perlu diperhatikan. Nelayan tradisional di pesisir selatan NTB, misalnya, sudah mulai merasakan perubahan pola angin dan gelombang sejak beberapa hari terakhir. Bagi mereka, bibit siklon bukan sekadar istilah—itu berarti pendapatan yang hilang dan risiko keselamatan yang nyata di laut.
Data unik dari penelitian lokal menunjukkan bahwa wilayah NTB memiliki kerentanan khusus terhadap cuaca ekstrem. Topografi yang bervariasi—dari dataran rendah pesisir hingga pegunungan—membuat dampak hujan lebat tidak merata. Daerah dengan lereng curam di Lombok Barat dan Sumbawa Barat berisiko lebih tinggi terhadap tanah longsor, sementara wilayah urban seperti Mataram lebih rentan terhadap genangan dan banjir bandang.
Opini saya sebagai penulis yang telah meliput isu lingkungan di NTB: kita sering terjebak pada angka-angka prediksi tanpa benar-benar memahami apa artinya bagi komunitas lokal. Bibit siklon tropis 96S ini seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat sistem peringatan dini berbasis komunitas. Sudah waktunya informasi cuaca tidak hanya sampai di tingkat kabupaten, tapi sampai ke dusun-dusun terpencil melalui kanal komunikasi yang mereka gunakan sehari-hari.
Antisipasi yang Bisa Dilakukan Masyarakat
BMKG telah memberikan panduan umum, namun ada langkah-langkah praktis yang bisa dilakukan:
- Memantau perkembangan cuaca melalui aplikasi resmi BMKG atau media sosial terverifikasi
- Menunda aktivitas di luar ruangan saat tanda-tanda hujan lebat dan angin kencang mulai terlihat
- Memastikan saluran air di sekitar rumah tidak tersumbat
- Mengamankan benda-benda yang bisa terbawa angin di halaman atau atap rumah
- Menyiapkan sumber penerangan alternatif mengantisipasi padam listrik
Bagi pelaku usaha pariwisata, ini saatnya memiliki rencana kontinjensi. Memberikan informasi transparan kepada tamu tentang kondisi cuaca dan opsi aktivitas dalam ruangan bisa menjadi diferensiasi pelayanan yang positif.
Belajar dari Pengalaman Sebelumnya
NTB bukan kali pertama menghadapi gangguan cuaca akibat siklon tropis. Catatan historis menunjukkan bahwa pola cuaca ekstrem di wilayah ini cenderung meningkat frekuensinya dalam dekade terakhir. Sebuah studi dari Universitas Mataram tahun 2023 menemukan bahwa intensitas hujan ekstrem di NTB meningkat sekitar 15% dalam 10 tahun terakhir, dengan durasi kejadian yang lebih panjang.
Data ini penting karena menunjukkan bahwa apa yang kita hadapi sekarang mungkin bukan lagi anomali, tapi bagian dari pola baru yang perlu diadaptasi. Infrastruktur drainase, sistem peringatan, dan kesiapan masyarakat perlu ditingkatkan secara berkelanjutan, bukan hanya ketika ada peringatan.
Peran Pemerintah Daerah dan Kolaborasi
Peringatan BMKG seharusnya menjadi pemicu koordinasi yang lebih solid antara pemerintah provinsi, kabupaten/kota, dan desa. Posko siaga bencana perlu diaktifkan dengan sumber daya yang memadai, terutama di daerah-daerah yang secara historis rawan terdampak cuaca ekstrem.
Yang sering terlupakan adalah pentingnya komunikasi risiko yang efektif. Informasi teknis tentang bibit siklon perlu "diterjemahkan" menjadi bahasa yang mudah dipahami masyarakat awam: apa yang harus dilakukan, kapan harus melakukannya, dan ke mana harus mencari bantuan jika diperlukan.
Di tengah ketidakpastian cuaca akibat bibit siklon tropis 96S, ada satu hal yang pasti: kewaspadaan dan persiapan adalah kunci mengurangi dampak negatif. BMKG telah membunyikan alarm—sekarang giliran kita, baik sebagai individu maupun komunitas, untuk merespons dengan bijak.
Mari kita renungkan: seberapa siapkah kita menghadapi perubahan cuaca yang semakin ekstrem ini? Peringatan kali ini mungkin akan berlalu dalam seminggu, tapi pertanyaan yang lebih besar tetap ada. Apakah kita akan kembali lengah sampai peringatan berikutnya datang, atau kita akan menggunakan momen ini sebagai titik balik untuk membangun ketahanan yang lebih baik?
Bagi warga NTB yang sedang membaca ini, keselamatan Anda adalah prioritas. Perhatikan perkembangan cuaca, ikuti arahan pihak berwenang, dan yang terpenting—jaga satu sama lain. Terkadang, menghadapi ketidakpastian alam justru mengingatkan kita pada kepastian yang paling berharga: solidaritas sebagai sesama manusia yang menghuni bumi yang sama.