Benteng yang Retak: Mengapa Kerja Sama Global Sering Gagal Menghadapi Ancaman yang Tak Kenal Batas?
Dari terorisme hingga krisis siber, ancaman global tak pandang bulu. Tapi mengapa kerja sama internasional seringkali tersandung? Simak analisisnya di sini.
Bayangkan Ini: Sebuah Virus Baru Menyebar di Benua Lain, dan Dalam Hitungan Jam, Pasar Saham Kita Berguncang
Itulah paradoks dunia kita sekarang. Kita terhubung lebih erat dari sebelumnya—melalui perdagangan, perjalanan, dan data digital—namun justru keterhubungan itu yang membuat kita lebih rentan. Ancaman tidak lagi datang dengan seragam tentara yang jelas identitasnya. Mereka datang dalam bentuk kode komputer jahat yang melompati server, jaringan teroris yang didanai dari jarak jauh, atau krisis iklim yang mengacaukan pasokan pangan global. Pertanyaannya bukan lagi apakah ancaman itu akan datang, tapi bagaimana kita, sebagai komunitas internasional yang sering berselisih paham, bisa bersatu untuk menghadapinya. Inilah teka-teki terbesar keamanan abad ke-21: kita menghadapi musuh bersama, tetapi seringkali kita justru sibuk berdebat di dalam benteng masing-masing.
Wajah Baru Ancaman: Dari Perang Konvensional ke Perang Asimetris
Dulu, peta ancaman global relatif lebih sederhana. Fokusnya adalah pada negara-negara dengan kekuatan militer besar. Hari ini, lanskapnya telah berubah total. Ancaman paling berbahaya justru sering kali datang dari aktor non-negara yang bergerak dalam bayang-bayang.
- Terorisme Global yang Terdesentralisasi: Bukan lagi tentang organisasi tunggal seperti Al-Qaeda di era 2000-an. Sekarang, kita berhadapan dengan sel-sel yang terinspirasi ideologi ekstrem yang dapat bangkit di mana saja, seringkali direkrut dan diradikalisasi secara online. Mereka seperti hydra; memotong satu kepala, muncul kepala lainnya.
- Kejahatan Siber sebagai Alat Politik dan Ekonomi: Peretasan yang didukung negara (state-sponsored hacking) telah menjadi alat baru untuk espionase, sabotase, dan bahkan memengaruhi pemilihan umum. Serangan pada infrastruktur kritis, seperti jaringan listrik atau layanan kesehatan, bisa melumpuhkan sebuah negara tanpa satu pun peluru ditembakkan.
- Kejahatan Lintas Negara yang Terorganisir: Perdagangan narkoba, senjata, dan manusia telah menjadi bisnis global yang sangat canggih, dengan jaringan yang memanfaatkan celah hukum di antara yurisdiksi negara yang berbeda. Mereka adalah perusahaan multinasional dalam dunia kriminal.
Upaya Bersama: Antara Cita-Cita dan Realita yang Pahit
Secara teori, kita punya semua alat untuk kerja sama. Ada PBB dengan Dewan Keamannya, ada aliansi pertahanan seperti NATO, dan ada forum-forum intelijen rahasia di mana informasi dibagikan. Operasi penjaga perdamaian telah meredakan banyak konflik, dan pertukaran intelijen telah menggagalkan ratusan rencana teror. Namun, di balik kesuksesan parsial ini, tersembunyi retakan yang dalam.
Menurut data dari Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), pengeluaran militer global justru mencapai rekor tertinggi baru pada 2023, melampaui $2.2 triliun. Ini adalah paradoks yang ironis: di saat ancaman menjadi lebih non-konvensional, respons kita seringkali masih sangat konvensional—dengan mengalokasikan lebih banyak dana untuk senjata dan sistem pertahanan tradisional yang belum tentu efektif melawan ancaman siber atau perang informasi.
Tantangan Terberat Bukan Teknis, Tapi Politis dan Filosofis
Di sinilah letak simpul masalahnya. Kerja sama keamanan internasional seringkali mentok bukan karena kurangnya kemampuan, tapi karena benturan kepentingan dan nilai.
- Kedaulatan vs. Intervensi Kemanusiaan: Prinsip kedaulatan negara adalah fondasi hukum internasional. Tapi, bagaimana ketika sebuah negara gagal melindungi warganya sendiri dari genosida, atau justru menjadi sarang bagi kelompok teroris? Kapan komunitas internasional berhak ikut campur? Ini adalah debat yang belum terselesaikan sejak Perang Dingin.
- Hukum Internasional yang Tertinggal: Hukum internasional bergerak lambat, sementara teknologi dan taktik ancaman berkembang dengan kecepatan cahaya. Tidak ada kerangka hukum yang jelas dan disepakati secara global, misalnya, untuk menilai serangan siber atau penggunaan drone dalam perang. Ini menciptakan zona abu-abu yang berbahaya.
- Krisis Multidimensional: Ancaman terbesar masa depan—seperti perubahan iklim dan pandemi—adalah ancaman yang tidak bisa diselesaikan oleh kementerian pertahanan saja. Mereka membutuhkan koordinasi antara ahli kesehatan, klimatolog, ekonom, dan diplomat. Struktur keamanan kita yang masih teritorial dan sektoral belum siap untuk ini.
Opini: Kita Perlu Mendefinisikan Ulang Arti "Kekuatan"
Di sinilah saya ingin menyampaikan sebuah opini yang mungkin kontroversial: Kekuatan militer tradisional semakin tidak relevan sebagai alat tunggal untuk menjamin keamanan. Kekuatan sejati di abad ke-21 terletak pada resiliensi (ketahanan), konektivitas, dan legitimasi.
Sebuah negara dengan infrastruktur digital yang tangguh, sistem kesehatan masyarakat yang kuat, dan tata kelola yang dipercaya warga, mungkin jauh lebih aman daripada negara dengan arsenal nuklir tetapi rapuh secara sosial dan teknologis. Kerja sama keamanan masa depan harus beralih fokus dari sekadar membangun aliansi militer, ke membangun jaringan ketahanan bersama—berbagi teknologi untuk energi bersih, sistem peringatan dini pandemi, dan protokol bersama untuk melindungi infrastruktur digital vital.
Penutup: Keamanan Bukan Hanya Tentang Menjauhkan Ancaman, Tapi Tentang Membangun Dunia yang Lebih Tangguh
Jadi, apa yang bisa kita ambil dari semua ini? Keamanan internasional di era ancaman global bukan lagi soal mendirikan tembok yang lebih tinggi. Musuh kita bisa menyusup melalui kabel fiber optik, melalui ketidakpuasan sosial, atau melalui badai yang dipicu oleh krisis iklim. Tembok tidak berguna di sini.
Pesan yang ingin saya tinggalkan adalah ini: Masa depan keamanan kita bergantung pada kemampuan kita untuk melihat melampaui perbedaan jangka pendek dan berinvestasi pada kemanusiaan bersama kita. Ini terdengar idealis, tapi justru sangat pragmatis. Setiap dolar yang diinvestasikan dalam diplomasi pencegahan konflik, dalam riset kesehatan global, atau dalam transisi energi bersih, pada akhirnya adalah investasi dalam keamanan nasional kita sendiri yang paling mendasar.
Mari kita renungkan: Ketika ancaman berikutnya datang—entah itu pandemi baru, serangan siber masif, atau bencana iklim—apakah kita akan saling menyalahkan dan menarik diri ke dalam cangkang nasionalisme sempit? Atau, apakah kita akan mengingat bahwa di planet yang kecil dan rentan ini, ketahanan tetangga kita pada akhirnya adalah ketahanan kita sendiri? Pilihannya, sebenarnya, ada di tangan kita semua.