31 Prajurit Pangan Sulteng Gabung BRMP: Lini Depan Pertaruhan Swasembada 2026
Tidak sekadar mutasi jabatan, penggabungan 31 penyuluh pertanian Sulawesi Tengah ke BRMP adalah strategi konsolidasi untuk mempercepat modernisasi pertanian. Mereka menjadi garda terdepan dalam pertaruhan mencapai swasembada pangan nasional 2026.
Bayangkan ini: di tengah lahan pertanian Sulawesi Tengah, ada 31 orang yang memegang kunci salah satu target terbesar negeri ini—swasembada pangan 2026. Mereka bukan politikus di balik meja, melainkan penyuluh pertanian yang kini resmi bergabung dengan Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP). Langkah ini lebih dari sekadar perubahan struktur organisasi; ini adalah konsolidasi kekuatan di garis depan revolusi pertanian kita.
Integrasi ini ibarat menyatukan puzzle yang selama ini terpisah. Dengan sentralisasi di bawah Kementerian Pertanian, para penyuluh ini akan menjadi jembatan yang lebih kokoh antara teknologi modern dan petani di lapangan. Bayangkan bagaimana koordinasi yang lebih rapi bisa mempercepat adopsi metode tanam baru, atau bagaimana dukungan produksi bisa menjangkau daerah yang sebelumnya terabaikan. Ini tentang membangun ekosistem yang saling terhubung, bukan sekadar program yang berjalan sendiri-sendiri.
Menariknya, data dari Kementerian Pertanian menunjukkan bahwa daerah dengan penyuluh terintegrasi memiliki tingkat adopsi teknologi 40% lebih tinggi dibanding yang tidak. Di Sulawesi Tengah sendiri, potensi lahan pertanian yang belum dioptimalkan mencapai hampir 30%. Di sinilah peran 31 penyuluh ini menjadi krusial—mereka bukan hanya pengajar, tapi menjadi mitra petani dalam membaca peluang dan mengatasi tantangan di era pertanian 4.0.
Kolaborasi yang diperkuat melalui BRMP ini seperti memperbesar amplifier untuk suara dan kebutuhan petani. Ketika penyuluh, peneliti, dan pemangku kepentingan duduk dalam satu meja yang sama, solusi yang lahir biasanya lebih tepat sasaran dan kontekstual. Untuk wilayah seperti Sulteng yang memiliki keragaman komoditas dari kakao hingga padi, pendekatan yang terpersonalisasi menjadi kunci keberhasilan.
Pada akhirnya, swasembada pangan 2026 bukan hanya angka di atas kertas—ia adalah tentang ketahanan keluarga petani, tentang piring-piring yang terisi di meja makan, dan tentang kedaulatan bangsa atas kebutuhan paling dasarnya. Ke-31 penyuluh ini adalah representasi dari ribuan pahlawan pangan lain yang bekerja sunyi di lapangan. Pertanyaannya sekarang: sudahkah kita memberi perhatian dan dukungan yang setara dengan pengorbanan mereka? Karena target 2026 bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau petani, melainkan kita semua sebagai konsumen yang cerdas dan peduli.